Edisi 12-10-2016
Puluhan Warga Gresik Alami Gangguan Jiwa


GRESIK – Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, tampaknya harus bekerja keras untuk merealisasikan program bebas pasung.

Pasalnya, penderita gangguan jiwa berat di Kabupaten Gresik masih tinggi. Ini belum di kabupaten lain. Di Gresik, penderita gangguan jiwa yang dipasung pihak keluarga mencapai 53 orang. Kondisi ini sudah berangsung selama puluhan tahun. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Gresik menyebutkan, 53 pasien pasung hampir ada disemua kecamatan.

“Jumlah tersebut bisa terus bertambah karena belum semua terdata. Pemasungan ini tidak akan membuat mereka sembuh, justru semakin parah,” ungkap Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Gresik, dr M Dholam, kemarin. MenurutDholam, banyakpemasungan yang dilakukan pihak keluarga lebih disebabkan rasa khawatir. Pihak keluarga khawatir gangguan jiwa itu mengganggu wargasekitar.

Karenaitu, pihak keluarga mengambil jalan pintas dengan cara memasung setelah dirawat di rumah sakit jiwa tidak ada perubahan. Dholam menyebutkan, penyebab 53 warga Gresik mengalami gangguan jiwa beragam. Di antaranya karena asmara alias putus cinta, ekonomi hingga pekerjaan. “Hanya yang perlu disosialisasikan itu melepas pasungan.

Karena, mereka masih bisa disembuhkan tidak harus dipasung maupun dibawa ke rumah sakit jiwa tetapi cukup dilakukan dengan pengobatan yang benar,” ucapnya. Dikatakannya, di antara beberapa kecamatan, Sidayu dan Sangkapura wilayah dengan jumlah warga terpasung paling banyak. Data Dinkes Gresik menyebutkandari KecamatanSidayu ada delapan warga dan Sangkapura ada sembilan warga.

Kepala Puskesmas Sidayu, dr Wiwik Susanti mengatakan, penemuan pasien pasung di Gresik baru dilakukan tahun 2014. Sementara penangannya baru berjalan pada 2015 dengan target agar Gresik bebas pasung. “Peran keluarga sangat vital. Sebab, dukungan moral dari keluarga sangat berpengaruh pada kesembuhan pasien termasuk dukungan tetangga dan lingkungan sekitar,” ucapnya.

Di antara pasien pasung yang saat ini menjadi perhatian adalah Muhammad Farich,30, dari Desa Ngawen, Kecamatan Sidayu yang sudah dipasung keluarga sejak sepuluh tahun lalu. Lalu, Siti Aminah, warga Wates Tanjung, Wringinanom. Anak pertama dari tiga bersaudara ini harus menjalani pasung selama sepuluh tahun. Rodiah, bibi Muhammad Fatich mengaku, kondisi kejiwaan keponakannya mulai bermasalah saat duduk di bangku SMA. Saat itu, usianya masih 17 tahun.

Saat itu, dia sering ikut perkumpulan pemuda hingga sering begadang dan jarang tidur. “Kalau malam suka nglayap sendiri keliling kampung setelah itu sering melamun,” akunya. Sedangkan Siti Aminah mengalami ganguan jiwa sejak usia 17 tahun. Darmisih, ibunda Siti menyatakan, sejak kecil putrinya tidak pernah mengalami gangguan jiwa.

Kondisi kejiwaannya baru bermasalah ketika Siti menginjak usia 17 tahun. “Baru pulang sekolah tidak ganti pakaian, tapi langsung tidur. Bahkan sepatunya tidak dilepas. Ketika dibangunkan, Siti yang saat itu duduk di kelas dua SMA marah besar.

Caci maki dan hujatan keluar dari mulutnya. Tidak tahu masalahnya, tiba-tiba marah tanpa sebab,” katanya. Rupanya apa yang dilakukan Aminah membuat keluarga malu. Akhirnya, Aminah dipasung pada 2005 lalu. Dia harus tinggal di bilik berukuran 1,5x3 meter persegi. Dindingnya pun hanya terbuat dari anyaman bambu.

ashadi ik

Berita Lainnya...