Edisi 12-10-2016
Salam 35 (3B Bitung Bahari Berseri dan 5 Pesona)


Peningkatan dan pengembangan pariwisata di Kota Bitung, Sulawesi Utara menjadi satu dari sekian banyak program unggulan kami dalam memimpin kota ini.

Itu pula yang menjadi agenda perdana kami setelah dilantik pada 30 Maret 2016. Adapun tema pariwisata Kota Bitung yang akan dilaksanakan dalam lima tahun ke depan diberi tajuk “BITUNG BAHARI BERSERI” dengan didukung lima pilar utama yang disebut sebagai “5 PESONA”. Konsep itu kemudian dikemas dalam hastag singkat, yaitu “B35P” yang dalam pergaulan sehari-hari dibuat slogan sebagai “Salam 35”.

Angka 3 merujuk pada B3 dalam kata Bi-tung Bahari Berseri, sementara angka 5 mengacu pada 5 kata Pesona, yaitu Pesona Bahari, Flora, Fauna, Industri, serta Pesona Sejarah Budaya dan Religi. Untuk Pesona Bahari, sebagai sebuah kota pelabuhan adalah wajar apabila pesona bahari menjadi salah satu isu utama yang diangkat karena berbagai keunggulan serta potensi maritim yang dimiliki Kota Bitung.

Dari letak geografis, kedudukan kota dalam selat yang dilindungi Pulau Lembeh, hingga fasilitas sarana dan prasarana pendukung yang telah dimiliki. Begitu pun pelabuhan alam yang tidak ada duanya, serta potensi sumber daya manusia yang memegang peranan penting dalam roda perekonomian kota, menjadikannya sebagai salah satu dari lima pesona yang dikedepankan.

Sementara pesona kedua, yakni Flora, mengacu kondisi geografis Kota Bitung yang memiliki gunung, lembah, perkebunan, kelurahan dan perkotaan, daerah pesisir, selat dan lautan menjadikan kota Bitung terasa lengkap sebagai daerah permukiman. Apalagi, Kota Bitung juga memiliki Hutan Lindung, Cagar Alam, dan Taman Wisata Alam yang terletak di kaki Gunung Dua Saudara, lengkap dengan kekayaan hutan sebagai hutan lindung dan cagar alam, sehingga membuatnya terjaga dari sentuhan tangan-tangan tidak bertanggung jawab.

Potensi flora yang dimiliki Kota Bitung, selain untuk pemanfaatan hutan wisata, juga pemanfaatan kekayaan alam, yaitu keberadaan tumbuhan “pohon seho” yang banyak tumbuh di kaki Gunung Dua Saudara di mana produk makanan ringan, minuman segar, minuman keras, produk gula semut, dan bahkan produk kayu pascaproduksi akan dimanfaatkan menjadi produk wisata unggulan.

Sentuhan wisata akan difokuskan pada proses pengolahannya menjadi produk bahan jadi yang siap dipasarkan dan atau menjadi suvenir istimewa Kota Bitung. Pesona berikutnya adalah pesona fauna. Kota Bitung patut berbangga karena dari 23 jenis kera yang hidup di dunia, tujuh jenis di antaranya hidup di Indonesia.

Bahkan, tiga di antaranya menjadi hewan endemik di Hutan Tangkoko Kota Bitung. Ketiga jenis kera tersebut adalah kera terkecil di dunia, yaitu Tangkasi atau Tarsius spectrum), Yaki Panta Merah (Macaca nigra), dan Nigra Sen atau kera tanpa ekor. Selain itu, Hutan Tangkoko yang unik serta berada pada alur angin khusus, pada musim- musim tertentu menjadi tempat pengembangbiakan berbagai jenis burung yang bermigrasi dari benua Australia.

Ini menjawab sejumlah kenyataan di mana beberapa jenis burung yang hidup di Australia juga dapat ditemukan di Hutan Tangkoko, Kota Bitung. Berbagai hal di atas menjadi potensi fauna spesial yang layak untuk dikemas menjadi produk unggulan pariwisata baru Kota Bitung.

Yang keempat adalah Pesona Industri. Mengangkat industri sebagai lokasi tujuan wisata mungkin terasa janggal bagi sebagian orang karena persepsi jorok, kotor, berdebu, dan pemandangan yang tidak menyenangkan layaknya sebuah tempat usaha.

Namun, Kota Bitung mengemasnya dengan pendekatan berbeda, yaitu dengan didasari pemikiran untuk mendekatkan dan memamerkan tahapan proses atau pengolahan berbagai produk unggulan industri daerah dalam sebuah tempat khusus di setiap pabrik pengolahan yang dapat diakses setiap pengunjung. Sehingga dapat menjadi media informasi bagi masyarakatdanmenjadimateri pembelajaran bagi anak-anak sekolah yang adadi Kota Bitung.

Terakhir, Pesona Sejarah, Budaya, dan Religi. Menurut sejarah, Kota Bitung sebelum penjajahan kolonial Belanda telah lebih dahulu didatangi bangsa Spanyol dan Portugis pada abad ke-15 sampai 16 yang jejaknya masih terlihat di Kota Bitung. Antara lain pusat pengambilan air bersih yang oleh bangsa Portugis diberi nama “Aerprang” yang masih dapat ditemukan, bahkan masih dimanfaatkan hingga saat ini.

Sebagai sebuah pelabuhan alam yang sempurna, Pelabuhan Bitung juga dijadikan pusat konsolidasi armada laut tentara pendudukan Jepang yang ketika mendapat serangan tentara sekutu meninggalkan jejak-jejak nyata, yaitu terdapatnya beberapa kapal perang karam milik Jepang di beberapa titik, yaitu Pantai Bimoli dan perairan Kelurahan Mawali.

Selanjutnya tema “Bitung Bahari Berseri” akan menjadi program utama pariwisata Kota Bitung yang dalam pengembangannya kelak akan diaplikasikan dalam berbagai kalender event, baik yang sudah ada selama ini maupun yang baru akan dilaksanakan.

Adapun penetapan tema pariwisata ini dilatarbelakangi semangat yang kuat dan keinginan dari pimpinan daerah untuk memberikan alternatif baru bagi peningkatan peluang usaha dan pendapatan bagi seluruh warga kota, yaitu peluang usaha di bidang kepariwisataan dengan tetap mengedepankan potensi bahari sebagai modal utama ditambah potensi- potensi lainnya, sehingga pada akhirnya dapat memberikan kesejahteraan bagi seluruh warga kota.

Max Jonas Lomban

Wali Kota Bitung

Berita Lainnya...