Edisi 12-10-2016
Sempat Terancam Batal Berangkat karena Kesulitan Dana


Para atlet dan ofisial kontingen paralimpik Jawa Timur akhirnya bisa bernapas lega. Setelah sebelumnya mengalami kesulitan anggaran hingga terancam gagal berlaga di Pekan Paralimpik Nasional (Pepanas) di Bandung, Jawa Barat, mereka akhirnya bisa diberangkatkan kemarin.

Ada 94 atlet dan 45 ofisial yang berangkat mengikuti Pepans yang berlangsung mulai 14-25 Oktober 2016. Para atlet bakal berlaga pada pekan olahraga yang dikhususkan bagi para penyandang disabilitas itu untuk beberapa cabang olahraga (cabor). Ada bola voli duduk, tenis meja, panahan, futsal, sepak bola, atletik, judo tunanetra, renang, panahan, dan catur.

Pelaksana Tugas (Plt) Ketua National Paralympics Committees (NPC) Jatim Imam Kuncoro mengatakan, pihaknya sempat kebingungan lantaran NPC sudah tidak lagi di bawah naungan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Merujuk kebijakan KONI pusat ini, KONI Jatim tidak lagi memasukkan NPC dalam item pembinaan.

“Sempat bingung. KONI provinsi tidak bisa lagi memberikan dana. Padahal keperluan tiket untuk atlet dan ofisial butuh ratusan juta untuk pergi-pulang (PP). Untuk pesawat saja butuh Rp200 juta. Kalau untuk penginapan dan makan selama event ditanggung tuan rumah,” papar Imam Kuncoro jelang pelepasan atlet kemarin. Setelah sempat menemui DPRD Jatim dan mendatangi Gubernur Jatim Soekarwo, kesulitan mereka terjawab.

Gubernur yang akrab disapa Pakde Karwo ini meminta Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Jatim menanggung seluruh biaya. Selain itu, ada partisipasi pihak lain. “Masalah lain karena awalnya anggaran tidak jelas maka pemusatan latihan tidak pernah ada. Namun sebelumnya, seleksi sudah dilakukan di masing-masing cabang NPC di daerah.

Sehingga tidak perlu waktu lama dalam menentukan atlet yang layak berangkat,” kata Kuncoro. Dengan semangat yang dimiliki para atlet, Kuncoro optimistis Jatim akan banyak mendulang medali dari event olahraga ini. Alasan lain, banyak atlet paralimpik nasional asal Jatim yang sebelumnya sukses memecahkan rekor masuk dalam kontingen.

Selain itu, bertambahnya atlet muda berbakat untuk beberapa cabor. Di antaranya cabor renang bernama Mutiara Cantik. Ada atlet usia 12 tahun dari Kabupaten Nganjuk yang mampu berenang dalam waktu cepat kendati salah satu tangannya cacat. Kepala Dispora Jatim Supratomo mengakui kesulitan yang sebelumnya sempat muncul. “Pak Gubernur mendukung dan banyak pihak mendukung, akhirnya kesulitan bisa diatasi. Target juara umum tidak berlebihan,” ujar Pratomo, sapaannya.

Karena sempat kesulitan anggaran ini pula, para pelatih rela tidak mengambil uang honor. Uang honor mereka dikumpulkan dengan harapan agar kontingen tetap bisa diberangkatkan. Karena masih kurang, para atlet akhirnya sempat mengadu ke DPRD Jatim untuk menyampaikan permasalahan yang mereka hadapi. Setelah ada kepastian berangkat, para atlet merasa lega.

Nanang Supriyono, salah satu atlet asal Desa Sukowidi, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, merupakan atlet panahan yang menderita tunadaksa kaki kanan. Dia bercerita, ketika masih kecil, dia mengalami insiden terjatuh dari sepeda. Karena orang tuanya tidak memiliki biaya pengobatan, dia akhirnya tumbuh dengan kondisi cacat di kakinya.

Pria kelahiran 15 Juli 1990 yang kesehariannya bekerja di bengkel motor ini mengaku memiliki kelebihan pada cabor memanah. “Di Magetan saya berlatih,” ujarnya. Lain halnya dengan Khoirul, 18, warga Desa Sumber Bulus, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember ini salah seorang pemain futsal. Atlet yang mengalami cacat tangan ini dalam timnya berposisi sebagai penyerang, tapi bisa bergerak untuk mengisi posisi lainnya di dalam tim.

Soeprayitno

Surabaya


Berita Lainnya...