Edisi 12-10-2016
Tanah Dan Ternak Lenyap, Uang Tak Berlipat


LAMONGAN– Empat warga Lamongan ikut menjadi korban penipuan berkedok penggandaan uang ala Dimas Kanjeng Taat Pribadi.

Tidak tanggung-tanggung, kerugian keempat orang ini lebih dari Rp1,4 miliar. Dua dari empat korban tersebut kemarin melapor ke Polres Lamongan. Mereka adalah Suiadi dari Desa Dradah Blumbang, Kecamatan Kedungpring dan Sugiono dari Desa Tunggal, Kecamatan Paciran. Pengacara mereka, Ismail mengatakan, akumulasi uang yang telah disetor dua kliennya itu total sekitar Rp1,4 miliar.

Uang Rp1,4 miliar yang disetor berasal dari penjualan hartaberupatanahyangdihargai sebesar Rp1 miliar. Kekurangan Rp400 juta diperoleh dari penjualan 5 ekor sapi dan 12 ekor kambing. Menurut Ismail, untuk meyakinkan kliennya anak buah Dimas Kanjeng memberikan tiga emas batang logam berwarna keemasan bergambar Bung Karno dan Burung Garuda.

Agar emas batangan yang masih muda itu “cukup umur” untuk dijual, kedua korban bersama keluarga melakukan tirakat di sejumlah masjid dan makam Sunan Geseng selama sebulan. Namun belakangan diketahui, logam batangan yang diberikan bukan emas. “Dua korban mengaku menyetor uang ke anak buah Dimas Kanjeng dengan total uang sebesar Rp1,4 miliar.

Mereka dijanjikan uangnya akan menjadi Rp5 miliar. Kami juga sudah memberikan nama-nama anak buah Dimas Kanjeng yang diduga melakukan penipuan ini kepada polisi. Barang bukti berupa emas batangan palsu juga sudah kita serahkan,” tukasnya. Selain Suadi dan Sugiono, ada dua warga Lamongan lain yang mengaku menjadi korban aksi tipu-tipu komplotan padepokan Dimas Kanjeng, yaitu Supeno, 45, dan Suyanto, 40.

Namun keduanya kemarin hanya melapor kepada Kepala Desa Sidogembul, Kecamatan Sukodadi. Supeno dan Suyanto bergabung dengan Padepokan Kanjeng Dimas Taat Pribadi sejak dua tahun lalu. “Uang saya secara keseluruhan sekitarRp20jutayangsudahsaya berikan dan dijanjikan akan digandakan. Namun hingga saat ini hanya sekadar janji,” ujar Supeno. Dimas Kanjeng, kata Supeno, memberikan kotak berisi satu lembar uang Rp10.000, minyak wangi, dan tulisan Arab.

Tidak lupa, Dimas Kanjeng memintanya melakukan sejumlah ritual. Namun uang Rp10.000 yang diberikan tidak juga bertambah banyak. “Lama kelamaan saya mulai curiga karena setiap pengajian dimintai mahar pengurus padepokan,” kata Supeno. Kepala Desa Sidogembul, Bambang Suparno mengatakan segera berkoordinasi dengan polisi atas laporan warganya. Dia juga meminta warganya yang lain, yang merasa telah menjadi korban padepokan Dimas Kanjeng, untuk menghubunginya.

“Kita akan memfasilitasi warga yang ingin melaporkan penipuan ini,” tegasnya. Paur Subag Humas Polres Lamongan Ipda Raksan menegaskan, warga Lamongan yang merasa menjadi korban dugaan penipuan berkedol penggandaan uang tersebut segera melaporkan ke kantor polisi terdekat. “Laporan warga tersebut akan dijadikan acuan proses hukum dugaan penipuan.

Maka kita berharap warga yang merasa menjadi korban segera melapor,” ungkap dia. Sementara itu, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol RP Argo Yuwono mengatakan, Ketua Yayasan Padepokan Kanjeng Dimas Taat Pribadi, Marwah Daud Ibrahim , bakal diperiksa Senin (17/10) pekan depan. Bersama Marwah, penyidik juga memanggil 10 anak buah Dimas Kanjeng yang dalam struktur padepokan bergelar sultan. Satu di antaranya adalah suami Marwah Daud Ibrahim, yaitu Ibrahim Taju.

ashadi ik/ant



Berita Lainnya...