Edisi 12-10-2016
Eksploitasi Perbukitan Karimunjawa Ancam Lingkungan


JEPARA - Eksploitasi kawasan perbukitan di wilayah Kepulauan Karimunjawa Kabupaten Jepara dikhawatirkan berdampak buruk pada lingkungan sekitar.

Kondisi ini kian buruk jika tak dibarengi dengan pembangunan infrastruktur untuk meminimalisasi dampak negatif eksploitasi kawasan perbukitan kepulauan yang ada di Laut Jawa itu. Salah seorang warga Karimunjawa, Djati Utomo mengatakan saat ini tiap kali turun hujan, beberapa titik wilayah permukiman warga setempat kerap tergenang, seperti di kawasan Pasar Karimunjawa dan permukiman warga di bawah Bukit Joko Tuwo.

Air dari atas bukit mengalir deras membawa material tanah, kerikil dan bebatuan kecil. Djati menduga kondisi ini imbas aktivitas eksploitasi wilayah perbukitan Karimunjawa. “Kemungkinan besar se-perti itu. Sebab, sebelum kawasan perbukitan belum didirikan berbagai bangunan, kondisinya tak seperti ini,” ungkapnya kemarin. Selama beberapa tahun terakhir wilayah Karimunjawa jadi incaran turis, baik domestik maupun mancanegara.

Seiring hal itu, pembangunan hotel, perumahan dan objek wisata di wilayah perbukitan Karimunjawa kian marak. Lahan yang semula berisi pepohonan berubah menjadi beragam bangunan aneka ukuran. Maraknya pembangunan di wilayah perbukitan itu secara otomatis mengubah fungsi kawasan tersebut. Fungsi sebagai daerah resapan kian terkikis seiring proses itu.

“Ini yang kita khawatirkan. Harus ada upaya terobosan untuk mengatasi ini,” ujarnya. Camat Karimunjawa Muh Tahsin mengakui adanya genangan air di kawasan bawah Bukit Joko Tuwo tiap kali hujan turun. Hanya, persoalan itu lebih karena buruknya saluran air di kawasan tersebut. “Masalah ini sudah berulang kali kita laporkan kepada pemerintah kabupaten.

Semoga segera ada solusi,” katanya. Solusi persoalan ini tidak hanya cukup perbaikan drainase, tapi juga harus dibarengi kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan. “Drainase di kawasan itu termasuk permukiman warga banyak yang tersumbat sampah. Sehingga air tak bisa mengalir kemudian limpas ke jalan dan pemukiman,” paparnya.

Kasi Kedaruratan dan Logistik pada Badan Penanggulangan Benca Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara Pujo Prasetyo mengatakan, sejauh ini pihaknya belum melihat potensi terjadinya tanah longsor dan penurunan tanah di kawasan Karimunjawa. Meski begitu, pihaknya tetap mewantiwanti pihak yang melakukan pembangunan di kawasan perbukitan Karimunjawa harus sadardanberwawasanlingkungan.

Langkah ini penting, agar aktivitas pembangunan itu tak berpotensi memunculkan masalah lingkungan di masa mendatang. “Bagaimana agar tak longsor itu ada tekniknya. Dan paling penting ada saluran air dari atas bukit agar tidak meluber ke wilayah permukiman warga,” tandasnya.

muhammad oliez




Berita Lainnya...