Edisi 12-10-2016
Pencetakan E-ID JKN Terkendala Mesin


KUDUS – Peserta program jaminan kesehatan nasional dan kartu Indonesia sejahtera (JKNKIS) yang masih memegang e-ID atau kartu pengganti sementara diharap bersabar bila ingin mengganti dengan kartu yang asli.

Penyebabnya, pegawai di Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dan mesin pencetak kartu terbatas pula. Sehingga memengaruhi pelayanan pembuatan kartu JKN-KIS. Kepala BPJS Kesehatan Cabang Utama (KCU) Kudus Dody Pamungkas menjelaskan, sementara ini pihaknya baru melayani pencetakan kartu JKN-KIS bagi peserta mandiri. Sementara bagi peserta dari perusahaan akan diurus melalui HRD dari masing-masing perusahaan.

“Saat ini kami tengah berkonsentrasi melayani para peserta mandiri yang mengeluh dengan susahnya akses pembayaran melalui bank yang ditunjuk. Sehingga konsentrasi saat ini tengah melayani pengaduan serta keluhan dari peserta mandiri terkait hal itu,” ungkapnya. Namun, kata Dody, bagi peserta mandiri baru yang sudah beres secara administrasi termasuk pembayarannya, atau peserta lama yang masih menggunakan e-ID bisa langsung datang ke Kantor BPJS.

“Tetapi untuk pencetakan kartu JKN-KIS memang dibatasi. Jadi jika ada masyarakat yang datang, tapi kuota pencetakan kartu pada hari itu sudah habis, maka terpaksa harus datang pada hari berikutnya,” tandasnya. Dody menambahkan, pihaknya memang mempersilakan kepada para peserta mandiri yang masih memegang e-ID untuk datang ke kantor BPJS guna menggantinya dengan kartu JKN-KIS yang asli.

Tetapi yang terpenting, meski masih berupa kartu pengganti, para peserta tidak perlu khawatir karena tetap bisa digunakan untuk pelayanan di fasilitas kesehatan dan dipastikan tidak akan ada penolakan. “Kartu pengganti tersebut masih terus berlaku. Jadi, para peserta pemegang e-ID tidak perlu khawatir,” ujarnya.

Salah seorang peserta JKNKIS mandiri, Subchan Tarafi, mengaku sudah memegang e- ID dari BPJS Kesehatan selama 5 bulan. Namun, hingga sekarang tidak ada pemberitahuan dari BPJS tentang waktu penggantian kartu tersebut dengan yang asli. “Meski belum pernah digunakan, saya khawatir bila tidak ditukar dengan yang asli dapat robek atau bahkan hilang.

Jadi akan sangat riskan sekali karena harus mengurus lagi ke kantor BPJS,” ujar warga Desa Megawon, Kecamatan Jati tersebut. Hal yang sama juga dirasakan Noor Aziza warga kelurahan Panjunan Kecamatan Kota. Peserta mandiri yang terdaftar sejak Juli lalu itu memang hanya diberikan kartu e- ID.

Bahkan, dia sampai sekarang belum menerima pemberitahuan lebih lanjut tentang penggantian kartu. “Dulu saat diberi kartu pengganti tersebut, alasan dari BPJS Kesehatan karena material kartunya habis. jadi kemudian dikasih e-ID tersebut yang rawan sobek,” ungkap warga Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota tersebut.

LSN




Berita Lainnya...