Edisi 12-10-2016
Tularkan Ilmu Kunci Rezeki Tetap Mengalir


Suparno sudah merasa - kan jatuh bangun men - ja lankan usaha rehabilitasi sepatu dan sandal (tukang sol). Omzetnya pernah mencapai puluhan juta per bulan, bangkrut dan kini mulai bang kit lagi.

Warga Kampung Tegalsari, Kelurahan Wonolopo RT 3/RW 4, Kecamatan Mijen, Kota Se - ma rang ini berprinsip yang penting beramal. Termasuk mengamalkan ilmu memperbaiki sepatu dan sandal kepada orang lain. Rezeki pun pasti akan mengalir. Dia mengawali usaha tu - kang sol keliling dengan gero - bak kecil di daerah Banyu ma - nik 1997 silam.

Usahanya bisa maju sehingga menyewa kios di Jalan Karangrejo Ba - nyumanik seharga Rp300.000 per tahun. Tak lama, dia juga mam pu membuka cabang. “Saya bisa buka cabang di Tembalang, Ngaliyan, dan Bo - yolali. Keponakan-keponakan saya dari Wonogiri setelah saya ajari ngesolterus buka cabang di tempat itu,’’ ujarnya. Setelah beberapa tahun ber - jalan, usahanya perlahan me - nu run.

Dia hanya bisa mem per - tahankan usahanya hingga 2013. Tempat usaha induknya di Ba nyu manik kena gusur dan ma na jemen yang tidak bagus. Saat itu dia memiliki 10 kar - yawan dengan omzet mencapai pu luhan juta per bulan. Pe lang - gannya tidak hanya warga yang sepatunya rusak, dia juga men - da pat order dari perusahaan sepatu di Ungaran. Dia juga mengembangkan usaha dengan membuat tas, dompet, dan sabuk. Pesanan tas dan sabuk saat itu sudah mulai banyak. Setelah bang - krut, akhir nya dia pindah ke daerah Sub Terminal Cangkiran Kecamatan Mijen sebagai pedagang kaki lima (PKL).

“Hanya alat-alat yang tersi - sa, sedangkan modal sudah ha - bis semua. Karena itu, mem bu - ka lapak di pinggir jalan di Cang kiran untuk melayani orang yang memperbaiki sandal dan sepatu,’’ ujarnya. Suparno kali ini dibantu anak sulungnya laki-laki me rin - tis usaha sol sepatunya dari nol. Pengalaman kebangkrutan membuatnya berhati-hati menja lani usaha.

Berkat semangat dan kerja keras, usahanya mulai berkembang. Dia bisa menyewa sepetak kios berukuran 3 x 3 meter di Jalan Semarang-Boja, Kelurahan Cangkiran, Mijen. Pelanggannya kembali. Dia bisa menyewa sepetak kios lagi berukuran sama di sebelahnya. Prinsip menularkan ilmu ke orang lain tetap dipegang, de - ngan menerima seorang kar - yawan.

Dengan dibantu dua orang itu, mereka bisa memperbaiki ratusan pasang sepatu per bu - lan. Bahkan sudah bisa mene ri - ma pesanan membuat sandal dan sepatu kulit, setiap bulan rata-rata 30-50 pesanan. ‘’Jadi sekarang bisa mene ri - ma sol sepatu sandal dan juga pesanan membuat sepatu dan sandal kulit. Ada kulit sapi, ular, dan lainnya,’’ ucapnya. Selain itu, juga menerima pe sanan tas, dompet, dan sabuk dari kulit. Sekarang omzet usaha nya sudah kembali besar, men capai Rp20 jutaan per bu lan.

Meskipun tempatnya ma sih sewa dan belum memiliki cabang. Dalam waktu dekat, Supar - no berencana membuka cabang di Jatisari, Mijen. Jika terus ber kembang juga akan membuka cabang-cabang di daerah lain seperti dulu.

Dia juga berencana meluncurkan merek. Dia meng aku sudah menyimpan merek nya tapi masih dirahasiakan. “Saya sudah punya nama untuk merek sendiri. Rencana mau membuat hak paten untuk merek tersebut. Kalau sepatu sandal yang sekarang dibuat kan belum ada merek. Saya yakin tidak butuh waktu lama branding merek akan booming ,’’ kata pria yang sudah memiliki tiga orang anak ini.

M Abduh

Kota Semarang




Berita Lainnya...