Edisi 12-10-2016
1.330 UMKM Lolos Ekspor


SURABAYA – Laju perkembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sebagai penopang perekonomian terus melejit.

Saat ini setidaknya sudah ada 1.330 UMKM yang lolos persyaratan ekspor di berbagai negara. Gubernur Jatim Soekarwo menuturkan, pertumbuhan UMKM memang mengalami ledakan yang besar dalam beberapa tahun terakhir. Mereka tak hanya memasok kebutuhan di dalam negeri, tapi juga merambah ke mancanegara. Syarat yang ketat untuk produk impor terkadang menjadi batu sandungan bagi pelaku UMKM. “Makanya yang bisa diterima baru 1.330 UMKM.

Sisanya harus dibenahi produknya, izinnya serta kelengkapan lainnya,” ujar Pakde kemarin. Persoalan yang sering kali menjadi hambatan UMKM dalam melakukan ekspor banyak terkendala di sektor stabilitas produksi. Sehingga pemesan yang ada di luar negeri ingin adanya kepastian volume produksi yang konsisten untuk dikirim tiap bulan.

“Coba bayangkan saja, dari puluhan UMKM paling hanya tujuh yang punya stabilitas produksi,” ucapnya. Kondisi itu memang bisa dimaklumi. Sebab, banyak produk UMKM yang diminati konsumen di luar negeri berupa barang handmade . Produk unik dan bernilai seni tinggi dihasilkan oleh tangan-tangan kreatif masyarakat.

Bahkan, pernah sesekali dicoba memakai alat yang lebih canggih, malah produk yang dihasilkan tak disukai. Mantan Sekdaprov Jatim itu juga menjelaskan, persoalan lain yang akhirnya menjadikan kegagalan dalam ekspor adalah packaging . Secara kualitas produk mampu bersaing, bahkan lebih bagus dari negara lain. Sayangnya, kemasan produk yang dibuat kurang higienis dan tak menarik.

“Kami membantu mereka (UMKM) dalam menembus standarisasi serta kemasan yang baik. Ini jadi fokus kami untuk membantu mereka dalam kesuksesan merebut pangsa pasar di luar negeri,” ungkapnya. Sementara untuk UMKM yang masuk inkubator, mereka akan dibantu secara menyeluruh dalam pembenahan serta perbaikan produk dan kemampuan.

Banyak trainer yang disiapkan untuk membantu pelaku UMKM dalam meningkatkan kualitas produk serta membantu pemasaran dengan memperbaiki kemasan. “Inkubator bisnis ini akan mampu menjawab kebutuhan jangka panjang UMKM.

Ada pengembangan SMK mini yang bisa membantu mereka dalam memperdalam kemampuan,” ucapnya. Sutrisno, salah satu pelaku UMKM di Surabaya mengatakan, para konsumen dari luar negeri memang kerap memesan dalam jumlah yang banyak tiap bulannya. Dia saja harus menambah pekerja dadakan untuk membantunya memproduksi tas handmade yang dikirim ke Jepang.

“Kalau sekali kita tak memenuhi jumlah pesanan yang ada, mereka tak segan untuk berhenti memesan seketika itu juga,” ucapnya. Bapak dua anak ini melihat potensi pasar di luar negeri begitu luas. Mereka memang melihat kualitas produk dan nilai seni yang bisa dijual dengan harga mahal. Keikutsertaannya dalam berbagai pameran membawa dampak banjirnya pesanan dari mancanegara.

aan haryono

Berita Lainnya...