Edisi 04-11-2016
Merawat Lansia Dengan Kasih Sayang


MENURUT Badan Pusat Statistik (BPS), lansia yang memiliki rentang umur 70-80 tahun di Indonesia setidaknya berjumlah 4 juta jiwa. Dalam empat tahun, BPS memprediksi bahwa jumlah lansia mencapai 11% dari total populasi di Indonesia.

Salah satu masalah yang sering dialami para lansia adalah penyakit Alzheimer atau dementia. Bertambahnya usia seseorang akan menurunkan fungsi kognitif yang berdampak pada menurunnya minat dan aktivitas sosial sehingga meningkatkan biaya perawatan lansia bagi keluarga.

Berdasarkan data Alzheimers Indonesia (Alzi), ada sekitar 1,2 juta penderita Alzheimer di Indonesia dan diperkirakan akan meningkat dua kali lipat pada 2030. Tidak semua keluarga para lansia paham mengenai penanganan penyakit Alzheimer dan dementia.

Selain itu, faktor kesibukan menjadikan anggota keluarga terkadang tidak memiliki waktu untuk merawat dan mendampingi orang tua penderita dementia. Di sinilah kehadiran caregiver atau perawat profesional dibutuhkan. CEO Insan Medika, perusahaan penyedia online platform layanan jasa perawatan di rumah untuk layanan medis dan nonmedis, Try Wibowo, memberikan beberapa tips dalam memilih caregiver bagi keluarga Anda.

“Antara lain seorang caregiver harus dapat cepat beradaptasi, tidak hanya dengan lansia yang akan dirawatnya, tetapi juga dengan anggota keluarga lain maupun lingkungan sekitarnya. Mereka diwajibkan segera mengetahui karakter dan hal penting apa saja yang dibutuhkan lansia tersebut,” kata Try.

Lingkungan sekitar rumah tempat merawat lansia juga harus mereka kuasai sehingga caregiver tahu langkah pertama yang harus dilakukannya jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Perawat juga dituntut memiliki keterampilan berkomunikasi. Sedianya mereka harus berusaha menyelami kepribadian lansia bersangkutan dan menyesuaikan gaya komunikasi yang tepat dan sesuai.

Tidak hanya pintar dalam membawakan diri, tetapi juga bisa menjadi teman berbagi untuk para lansia. Di samping itu, meskipun kaum lansia sudah berumur lanjut, mereka juga tidak ingin dianggap sebagai kaum lemah. Mereka hanya membutuhkan orang yang bisa diajak bekerja sama serta mampu memberi motivasi untuk terus membuat hidup lebih baik.

“Makanya dalam hal ini, penting bagi seorang caregiver menjadi pribadi yang terbuka dan bisa memberikan pengaruh positif kepada lansia yang dirawatnya,” kata Try. Kunci keberhasilan saat merawat lansia terletak pada rasa empati yang tinggi. Kesabaran dan keikhlasan sebuah pengabdian diri harus ada di setiap momen merawat lansia.

Sebab, tingkat sensitivitas yang dimiliki lansia tentu berbeda dengan orang pada masa produktif. Perlu diketahui, justru tidak dibenarkan memanjakan lansia atau menuruti semua keinginan lansia yang dirawat. Mereka harus mampu memberikan dorongan secara halus agar lansia tersebut bisa melakukan segala sesuatu sendiri dan tidak terus bergantung pada orang lain, terutama dengan perawatnya.

sri noviarni