Edisi 05-11-2016
Gelombang Demonstrasi di Berbagai Daerah


SOLO – Tuntutan agar kasus penistaan agama yang menyeret Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) segera dituntaskan, menggema ke seluruh penjuru negeri kemarin.

Di berbagai kota, aksi demonstrasi berlangsung serempak, menyuarakan aspirasi agar hukum ditegakkan. Di Solo, Jawa Tengah, massa berjalan kaki dari Stadion Manahan menuju Jalan Ahmad Yani seusai salat Jumat. Ketika sampai Simpang Lima Sumber yang berjarak sekitar 300 meter dari kediaman Presiden Joko Widodo, ribuan warga berhenti dan silih berganti melakukan orasi.

Para demonstran mendesak Presiden Jokowi dan aparat penegak hukum menangkap Ahok. Tuntutan itu disuarakan melalui ibunda Jokowi, Sujiatmi Notomiharjo. ”Kami meminta agar Bapak Presiden tidak tebang pilih dalam penegakan hukum di Indonesia,” ujar Koordinator Lapangan demo Abu Hanifah kemarin. Hanifah menegaskan bahwa hukum harus berdiri di atas keadilan. Mereka yang menista agama harus ditindak.

Aksi damai menuntut ketegasan aparat penegak hukum juga terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan. Bahkan, Gubernur Syahrul Yasin Limpo turut menyampaikan orasi. Menurutnya, aksi damai ribuan warga telah memperlihatkan pada Indonesia bahwa masyarakat Sulsel bersatu lewat pendekatan idealisme, agama, dan akidah.

”Kita ada di sini karena akidah, kita istikamah bersama, negara ini milik kita, betul?” katanya yang segera dijawab massa pengunjuk rasa. Dalam orasinya di atas truk demonstran, Syahrul berjanji akan meneruskan tuntutan demonstran yang tergabung dalam Koalisi Umat Islam Bersatu (KUIB) Sulsel kepada presiden dan wakil presiden.

Ketua Harian PP Wahdah Islamiyah Abdul Rahman menegaskan, aksi demonstrasi ini menyuarakan tuntutan tunggal, yakni kasus penistaan agama diusut tuntas. ”Ini perlu kita kawal. Kami harap Senin depan sudah selesai,” ujarnya. Dia mengingatkan agar polisi merespons cepat agar gelombang demonstrasi tidak terulang lagi.

Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Muhammadiyah Zaenal Abidin mengatakan, aparat kepolisian terkesan mendiamkan kasus itu sebelum massa akhirnya bergerak. Persoalan ini sebenarnya mudah diselesaikan andaikan aparat penegak hukum dan negara bersikap adil. Di Surabaya dan Malang, Jawa Timur, lautan massa juga serempak bergerak seusai salat Jumat.

Mereka menggelar aksi di pusat kota dan menyerukan pembelaan terhadap Alquran. Penegakan hukum atas penista agama adalah harga mati. ”Allahu Akbar..Allahu Akbar,” teriak ribuan demonstran di depan Polda Jatim. Pemandangan sama terlihat di Pontianak, Kalimantan Barat, ribuan umat Islam menggelar aksi sesuai salat Jumat di Masjid Raya Mujahidin.

Mereka bergerak menuju Polda Kalbar di Jalan Ahmad Yani dengan menggunakan kendaraan bermotor. ”AksiinibukantentangSARA dan tidak ada muatan politik, tapi murni kami umat Islam menuntut keadilan atas penistaan dan penghinaan Alquran,” kata koordinator aksi, Muhammad Dhani, dalam orasinya.

kurniawan eka mulyana/ mustafa layong/ chaeruddin/waris hasrat