Edisi 05-11-2016
Kepekaan Jokowi sebagai Pemimpin Dipertanyakan


PENGAMAT politik Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung Idil Akbar melihat ironis atas sikap Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai pemimpin negara yang tidak mau menemui demonstran.

Keberadaan Jokowi sebagai presiden di tengah polemik ini sangat penting. Minimal, dengan adanya Presiden bisa untuk menenangkan masa, serta memastikan tuntutan masa bisa sampai langsung kepada Presiden. ”Kalau soal proses hukum, masa sudah pahamlah. Keinginan mereka sederhana saja bahwa ada perhatian dari Presiden terhadap kasus yang besar terhadapumat Islam,” kataIdilkepada KORAN SINDO tadi malam.

Persoalan keberadaan Presiden di tengah masa itu menyangkut persoalan etika politik dan moralitas sebagai pemimpin negara. Sementara yang berharap perhatiannya itu adalah rakyat Indonesia yang menginginkan Presiden mendengarkan aspirasi mereka. ”Karena Presiden terkesan menghindar, ini akan menjadi preseden buruk bagi pemerintahan Jokowi dan akan terus memupuk kecurigaan orang tentang hubungan antara Jokowi dengan Ahok,” paparnya.

Kalaupun Presiden berniat untuk menemui masa dalam kondisi yang sudah rusuh, menurut dia, itu akan sulit sebab sikap Presiden dari awal sudah tidak menunjukkan upaya persuasif dengan masa. Menurut dia, tidak ada sikap Jokowi untuk menjadi selayaknya presiden di tengah-tengah rakyat. ”Yang bisa sedikit menenangkan masa justru kehadiran wakil presiden.

Kalau sudah begini agak berat, walaupun mungkin bisa saja Presiden mendatangi masa. Tapi momentumnya sudah tidak tepat lagi. Seharusnya Presiden hadir sejak awal,” tandasnya. Senada diungkapkan pengamat politik dan hukum Universitas Parahyangan Asep Warlan Yusuf. Menurut dia, sikap Presiden Jokowi yang mengabaikan para demonstran tersebut bertolak belakang dengan kebiasaannya yang dekat dengan rakyat.

”Sebetulnya demo bukan untuk show kekuatan umat Islam. Mereka hanya mencoba menuntut penegakan hukum atas penistaan agama. Yang mereka inginkan sebetulnya Presiden harus menyiapkan pertemuan dengan perwakilan, meski secara teknis sulit namun perlu dilakukan,” tandasnya. Aksi demo pun sudah lama direncanakan.

Karena itu, semestinya Presiden juga sudah menyiapkan kesempatan untuk bertemu para demonstran. Hal itu menjadi bagian utama yang diinginkan para demonstran. ”Ini bukan mendadak dan sudah lama direncanakan. Hematsaya, seharusnya bisadiagendakan meski secara teknis tidak terlalu mudah.

Demo ini toh bukan untuk menggulingkan presiden, jadi harusnya presiden membuka ruang,” ujarnya. Apalagi, lanjutnya, tuntutan para pendemo hanya menyampaikan aspirasi saja untuk mengusut tuntas dugaan penistaan agama. ”Sayang kalau presiden menghindar karena terlihat takut,” tandasnya.

Pengamat politik Universitas Al Azhar Rahmat Bagdja menyatakan, ada hal klise ketika Jokowi tidak mau meladeni para pendemo. Menurut dia, ini menandakan Jokowi berada di sisi Ahok. ”Itu tidak pas pemikirannya, tanda dia tidak berkenan memproses Ahok dan tidak berpihak pada umat Islam,” paparnya.

kiswondari/ mula akmal