Edisi 05-11-2016
Media Asing Soroti Sikap Lamban Pemerintah


JAKARTA – Aksi demonstrasi ribuan warga menuntut penegakan hukum atas kasus penistaan agama turut menjadi sorotan tajam media internasional. Sejumlah media menyebut aksi massa tak lepas dari sikap lamban pemerintah.

Namun, ada juga yang menengarai demonstrasi itu aksi politik. Mengutip pernyataan Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones, CNNmengkritik Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang dinilai kurang aktif mengatasi isu ini lebih dini. ”Ketika video penistaan Alquran menyebar pada Oktober, banyak penganut agama Islam yang marah.

Tapi saat itu, pemerintah memilih diam dan tidak mendinginkan ketegangan,” demikian bunyi pernyataan artikel CNN kemarin. Meski demikian, media internasional yang berbasis di Amerika itu juga melaporkan adanya kemungkinan pengaruh kelompok radikal Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan Al-Qaeda dalam aksi unjuk rasa tersebut, khususnya melalui Jamaah Islamiyah.

Surat abar Singapura Channel News Asia juga mengkritik pemerintah Indonesia yang lambat menyelesaikan permasalahan anti-China. ”Teater kebencian ini akan terus berlanjut jika Jokowi tidak mengatasinya. Indonesia akan berubah,” lapor CNA. Seperti diberitakan, kasus penistaan agama muncul setelah Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menggelar pertemuan dengan masyarakat Kepulauan Seribu (27/9).

Saat memaparkan programnya, mantan bupati Belitung Timur itu menyebutkan ada pihak-pihak yang melarang untukmemilihdirinya dengandasar isi dari Surah Al-Maidah: 51. Penggalan video itu kemudian menjadi viral di media sosial dan mengundang kontroversi publik. Sejumlah elemen masyarakat lantas melaporkan Ahok ke Bareskrim Polri atas dugaan penistaan agama.

Lambannya penyelidikan kasus ini membuat ribuan umat Islam tergerak untuk menyampaikan aspirasinya. Karena tak direspons, warga kembali menggelar demonstrasi besar- besaran, kemarin. The Straits Times dalam satu artikelnya memandang aksi demonstrasi 4 November 2016 sebagai aksi rasisme. Mereka mengungkit sejarah kerusuhan anti-China pada Mei 1998 dan potensi ISIS di Ibu Kota.

”Kabar simpatisan ISIS kemungkinan bergabung dalam demonstrasi melawan Gubernur Jakarta menambah firasat buruk,” lapor mereka. Di samping itu, dengan mengutip ahli politik Leo Suryadinata, The Straits Times melaporkan musuh politik Jokowi dan Ahok menggunakan isu ras dan agama itu sebagai dalih untuk menghilangkan pengaruh China.

”Saya bisa katakan bahwa sentimen anti-China di Indonesia belum hilang, tapi mengakar begitu dalam,” ungkap mereka. Majalah terkemuka Amerika Serikat (AS) TIME menuduh FPI menciptakan kesempatan penggulingan Ahok dengan melaporkannya ke kantor polisi dan mengobarkan sentimen anti-etnis China. TIME mengungkit kembali sejarah kerusuhan anti-China di Jakarta sekitar 16 tahun lalu.

Sementara media Australia seperti 9 News dan The Australian cenderung menyoroti ketegangan di Jakarta. Laporan 9 News melaporkan adanya bentrokan antara massa dan polisi, sedangkan The Australian melaporkan kemungkinan penundaan kunjungan Jokowi ke Australia hari ini. Namun, penundaan itu tidak dapat dipastikan.

Pemerintah Australia telah mengingatkan warganya di Jakarta untuk meningkatkan kewaspadaan saat berlangsungnya demonstrasi kemarin. Mereka diminta mengantisipasi kondisi pengaturan keamanan tingkat tinggi dan kemungkinan terjadinya kemacetan arus lalu lintas. Selain itu, juga diingatkan bahwa demonstrasi juga dapat terjadi di kota-kota lainnya di Indonesia.

muh shamil