Edisi 05-11-2016
Perayaan Serupa Halloween di Seluruh Dunia


MASYARAKAT Eropa dan Amerika kuno percaya setiap 31 Oktober pintu gerbang yang membatasi dunia ma nusia dan dunia arwah terbuka.

Pada hari itu arwah-arwah akan bergentayangan di bumi dan mengganggu siapa saja. Karenanya di tiap tanggal tersebut, mereka berpakaian serupa hantu dan menghias rumah dengan ornamen-ornamen menyeramkan untuk mengelabui arwah yang bergentayangan agar tidak diganggu.

Hari itu dikenal sebagai Hari Halloween atau All Hollows Evening yang berarti Malam Para Kudus. Ternyata, tak hanya Eropa dan Amerika Kuno yang memiliki kepercayaan tersebut. Berbagai negara di belahan dunia yang lain juga merayakan adanya hari tersebut dengan cara yang berbeda. NITA FEBRIANI GEN SINDO Institut Pertanian Bogor

Festival Obon (Jepang)

Pada pertengahan tahun, tepatnya 12 - 16 Agustus, seluruh penjuru Jepang secara serentak menggelar sebuah festival meriah, dikenal dengan Obon atau Bon. Dalam festival itu, masyarakat Jepang merayakan kembalinya arwah orang-orang yang mereka cintai dengan makan, minum, berkumpul, dan berbagi kebahagiaan bersama. Selama festival ini berlangsung, masyarakat Jepang akan berbondong-bondong mendatangi makam keluarga dan kerabat mereka.

Lalu, saling bergotong-royong membersihkan pemakaman serta mengirimkan doa bagi arwah yang akan datang ke bumi. Selain itu, masyarakat Jepang akan menyiapkan kue, buah-buahan, teh hijau, sake, dan makanan kesukaan keluarga yang telah meninggal untuk disusun membentuk daun lotus sebagai persembahan atau Ozen bagi para arwah. Tak hanya itu, masyarakat Jepang juga akan menarikan tarian Awa Odori mengelilingi kota saat malam hari hingga pagi menjelang. Di hari terakhir festival ini, ada kegiatan melarung lentera di sungai atau laut untuk mengantarkan para arwah kembali ke alamnya.

Malam 1 Suro (Indonesia)

Masyarakat Jawa percaya malam 1 Suro (Sura/Syura) pada tanggalan Jawa adalah malam yang dikeramatkan. Pada malam ini pembatas antara dunia arwah dan manusia menjadi kabur sehingga manusia rentan terhadap gangguan dari makhluk gaib. Masyarakat menyiapkan sesaji dan membakar kemenyan di tempat yang mereka anggap sakral sebagai bentuk perdamaian terhadap makhluk gaib yang turun ke bumi selama bulan Suro.

Pada malam 1 Suro digelar upacara penjamasan atau mencuci benda pusaka seperti keris dan tombak dengan air dan bunga tujuh rupa. Tujuannya mempertahankan kesaktian benda-benda tersebut. Malam tersebut dipilih untuk melakukan berbagai ritual karena masyarakat percaya pada malam ini arwah leluhur turun ke bumi untuk mendatangi keluarganya yang masih hidup. Para prajurit dan abdi dalem keraton berjaga sambil berpuasa mengelilingi keraton semalam suntuk demi menjaga upacara penyucian . Tak hanya menyucikan benda keramat, masyarakat juga melakukan semedi di tempat yang dianggap sakral dan memiliki sejarah gaib.

Pitru Paksha (India)

Di India terdapat kepercayaan bahwa selama 16 hari pada bulan Aswin dalam kalender Hindi, arwah nenek moyang turun kembali ke bumi. Untuk menyambut arwah tersebut, masyarakat India menggelar berbagai ritual selama 16 hari bagi para leluhur. Festival ini melibatkan banyak sekali jenis makanan sebagai persembahan untuk leluhur.

Selama 16 hari berturut-turut setiap keluarga mempersiapkan beragam sesaji yang diletakkan di rumah dan jalan-jalan di sekitarnya. Masyarakat India percaya jika roh leluhur terkesan dan menerima persembahan tersebut maka ritual akan berlangsung baik dan umat Hindu di India akan mendapatkan kemakmuran, kesehatan, dan keselamatan selama satu tahun ke depan.

Zhong Yuan Jie (China)

Dalam mitologi China, pintu neraka akan terbuka satu kali dalam setahun, yaitu pada hari ke-15 bulan ketujuh menurut penanggalan Tiongkok. Pada hari itu seluruh arwah orang yang telah meninggal akan keluar dari neraka dalam keadaan lapar dan menuju ke dunia manusia untuk makan. Karenanya, setiap rumah akan menyiapkan makanan serta membakar dupa dan uang kertas agar bisa digunakan oleh para arwah. Ritual ini dikenal luas sebagai festival Hungry Ghost atau Hantu yang Lapar.

Setiap tahun masyarakat China menggelar ritual ini dengan tujuan melepas penderitaan arwah keluarga mereka yang telah meninggal dan menghormati para leluhur. Ada kegiatan melarungkan lentera di sungai untuk mengetahui nasib dari keluarga dan kerabat yang telah meninggal. Mereka percaya apabila lentera tetap terapung, berarti semangat dari arwah tersebut masih ada. Namun, jika lentera tenggelam, maka diyakini arwah tersebut telah berada di tempat yang lain sebagai makhluk abadi.

Dia de Los Muertos (Meksiko)

Di Meksiko, hari kematian dirayakan secara besar-besaran dan bahkan ditetapkan sebagai hari libur nasional. Masyarakat Meksiko percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, namun kenangan tentang mereka yang telah meninggal harus dirayakan dengan sukacita. Tradisi ini telah dijalankan selama 3.000 tahun untuk mengenang arwah keluarga dan kerabat yang telah meninggal dunia.

Festival yang termasuk dalam daftar Budaya Warisan Kemanusiaan Tak Benda UNESCO ini rutin dilaksanakan pada 1- 2 November setiap tahun. Dalam perayaannya itu, masyarakat Meksiko berdandan seperti hantu tengkorak dengan warna pakaian yang mencolok dan meletakkan patung-patung tengkorak di berbagai tempat. Mereka akan berjalan pada malam hari menuju pemakaman untuk meletakkan bunga dan lilin di makam orang-orang yang mereka cintai.

Setelah itu, masyarakat turun ke jalan untuk berdansa dengan khidmat diiringi musik khas yang sakral dan panjatan doa sepanjang malam. Ritual yang dimulai pada tengah malam ini akan dipimpin oleh seorang Lady Death atau Dewi Mictecacihuatl sesuai kepercayaan yang dianut suku Aztec.

NITA FEBRIANI GEN SINDO

Institut Pertanian Bogor