Edisi 05-11-2016
Presiden Korsel Siap Diperiksa


SEOUL - Presiden Korea Selatan (Korsel) Park Geun-hye dengan berlinang air mata menyatakan hatinya hancur akibat skandal politik yang melanda pemerintahannya.

Dia siap bekerja sama dengan kejaksaan dalam investigasi kasus tersebut. Skandal yang melibatkan teman lamanya itu membuat tingkat popularitas Park turun drastis menjadi hanya 5% setelah turun 12% pekan lalu. Ini merupakan level terendah sejak survei oleh Gallup itu dimulai pada 1988.

Dalam pidato yang disiarkan televisi kemarin, Park menjelaskan, kejaksaan harus mengklarifikasi apa yang terjadi dan semua orang yang terlibat harus bertanggung jawab, termasuk dia. Park pun berjanji akan bertanggung jawab jika dinyatakan bersalah. “Sulit memaafkan diri saya dan tidur malam dengan perasaan sedih,” ungkap Park, 64, dengan suara bergetar seperti dikutip kantor berita Reuters .

Pejabat kejaksaan menolak berkomentar saat ditanya apakah Park akan menjadi subjek interogasi para penyelidik. Jika interogasi dilakukan, langkah itu akan menjadi yang pertama bagi presiden Korsel yang masih menjabat. Pemimpin Partai Demokratik Korea Choo Mi-ae yang menjadi oposisi utama di Korsel menganggap permintaan maaf Park itu tidak tulus.

“Presiden harus mengeluarkan tangannya dari urusan-urusan negara,” paparnya tanpa menyatakan Park harus mundur. Park terus menghadapi tekanan publik dan lawan politik agar segera mundur. Hingga saat ini tak ada presiden Korsel yang gagal menjalankan periode pertama pemerintahannya selama lima tahun. Kelompok organisasi sipil telah berencana menggelar unjuk rasa jalanan berskala besar pada sore ini. Mereka mendesak Park segera mundur.

“Mantan ajudan Park, Jeong Ho-seong, ditahan pada Kamis (3/11) karena dicurigai membocorkan informasi rahasia,” kata seorang pejabat kejaksaan. Jeong menjadi anggota kedua eks lingkar dalam para penasihat Park yang ditahan pekan ini. Kejaksaan meminta pengadilan mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk mantan penasihat lainnya, An Chong-bum, karena dicurigai menyalahgunakan kekuasaan dan upaya pemerasan.

An telah berada dalam penahanan darurat sejak Rabu (2/11). Teman lama Park, Choi Soonsil, 60, dituding menggunakan kedekatannya kepada presiden untuk mencampuri masalah pemerintahan. Pengacara Choi menjelaskan, kejaksaan akan memeriksa apakah kliennya secara ilegal menerima dokumen rahasia dan diuntungkan secara ilegal dari dua organisasi nonprovit yang didirikan.

“Sangat sengsara dan disesalkan bahwa individu tertentu disebut telah mengambil keuntungan dan melakukan beberapa tindakan melanggar hukum saat kami melakukan satu pekerjaan dengan harapan membantu ekonomi nasional dan kehidupan rakyat,” kata Park merujuk pada Choi. Park menutup pernyataannya dengan membungkuk dan berjalan menuju kerumunan jurnalis serta mengulangi permintaan maaf.

Dia tidak menerima pertanyaan apa pun dari jurnalis. “Saya pikir dia akan mendapatkan kembali simpati rakyat yang dulu menyukainya, tapi pidato itu saja tidak cukup untuk menyelesaikan krisis yang ada,” ujar Kim Man-heum, kepala organisasi riset Akademi Politik dan Kepemimpinan Korea. Park mengakui kecerobohan dalam hubungannya dengan Choi.

Menurut Park, Choi telah membantunya melalui masamasa sulit. “Benar bahwa saya menurunkan dinding kewaspadaan diri saya sendiri karena dia menemani saya dalam periode paling sulit dalam hidup saya,” ungkap Park. “Saya telah memutus semua hubungan di hati saya tapi dari sekarang akan seluruhnya putus hubungan pribadi saya,” papar Park.

Persahabatan mereka terjadi di saat Park menjabat sebagai pelaksana Ibu Negara setelah ibunya tewas akibat peluru pembunuh yang diarahkan kepada ayahnya, Park Chung-hee, yang kemudian menjadi presiden. Lima tahun kemudian, pada 1979, ayah Park dibunuh oleh kepala intelijennya.

muh shamil/Arvin