Edisi 05-11-2016
Tak Temui Pendemo, Jokowi Pilih ke Bandara


JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) kemarin tidak berada di Istana Negara untuk menemui perwakilan aksi demo. Sebaliknya Jokowi memilih blusukan ke Bandara Soekarno- Hatta untuk melihat proyek kereta cepat yang mengoneksikan Stasiun Manggarai menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Jokowi pun mendelegasikan kepada Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto untuk menemui para pendemo. Wiranto membenarkan dirinya ditunjuk Presiden Jokowi untuk menemui perwakilan demonstran. Sejak awal, menurut Wiranto, Presiden Jokowi memang telah menugasi dirinya dan beberapa menteri untuk menemui para demonstran.

”Presiden telah menugasi saya dan para menteri untuk menerima mereka atas nama pemerintah dan tidak hanya eksekutif tapi legislatif. Anggota Dewan pun sudah mengirim utusan kemarin. Teman-teman pimpinan DPR dan DPD juga sudah menyertai saya sehingga lengkaplah perwakilan pemerintah, sah, baik eksekutif maupun legislatif, kemudian DPD.

Tapi tadi dari pihak demonstran ingin tetap bertemu Presiden,” ungkap Wiranto di Istana Negara, Jakarta, kemarin. Kepada para demonstran, Wiranto juga mengaku telah menyampaikan bahwa Presiden memang sedang ada tugas luar untuk beberapa pengawasan proyek. ”Karena itu saya sampaikan bahwa kalau memang ingin berbicara dengan pemerintah, saya secara resmi sudah merupakan perwakilan pemerintah.

Bukan hanya saya, tapi beberapa menteri terkait ada Mensesneg, Seskab, Menteri Agama, saya kira sudah representasi dari pemerintah,” tandasnya. Hal senada diungkapkan Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Johan Budi Saptopribowo. Menurut dia, pihak Istana yang menerima perwakilan demonstran adalah Menteri Sekretaris Negara Pratikno dan Menko Polhukam Wiranto.

”Saya sudah konfirmasi ke Presiden, yang nanti akan menerima perwakilan pengunjuk rasa adalah Mensesneg dan Menko Polhukam,” ungkapnya. Para perwakilan demonstran akan diterima di Gedung Kemensetneg yang berada di sebelah Istana Negara. Presiden, lanjut Johan, sedang tak berada di Istana.

Presiden Jokowi tengah blusukan ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Banten, untuk meninjau perkembangan proyek infrastruktur transportasi. ”Presiden meninjau perkembangan pembangunan proyek infrastruktur transportasi, terutama progres pembangunan kereta bandara,” ungkapnya. Sementara itu Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menilai sikap Presiden Jokowi tidak sensitif dalam menghadapi aksi damai 4 November kemarin.

Ketika jutaan demonstran dari berbagai penjuru daerah datang ke Istana Kepresidenan untuk menyampaikan aspirasi, Jokowi justru pergi meninjau proyek kereta bandara Soekarno- Hatta di Cengkareng. ”Presidennya amatir, ya tidak sensitif Presiden ini.

Dia cuma bilang kerja, kerja, kerja, memang kerja itu cuma meninjau rel dan kapal? Kalau aspal suruh mandor saja lihat, malah Presiden yang ke situ, manajemen politik diabaikan,” tandas Fahri yang juga mengikuti aksi damai di Gedung DPR, Jakarta, kemarin.

Fahri menyayangkan sikap Presiden yang tidak menemui perwakilan aksi dan justru melakukan kunjungan kerja ke proyek kereta bandara. Fahri juga mempertanyakan para intelijen Presiden yang tidak memberitahukan jumlah pendemo dari berbagai daerah yang datang sehingga Presiden pergi meninggalkan Istana.

”Masa kayak begini kan lebih besar (aksinya) dari Tahrir Square di Mesir karena Bundaran Thamrin kalau dilihat empat sisinya penuh apalagi Masjid Istiqlal kita hampir kehilangan napas. Kalau dihitung memang banyak sekali. Apa tidak ada laporan ke Presiden itu?” ujarnya. Padahal, para pendemo ini hanya ingin menyampaikan aspirasi mengenai penegakan hukum atas dugaan penistaan agama.

Namun sikap Presiden yang demikian justru mengesankan Presiden tengah melarikan diri. Menurut Fahri, penasihat keamanan Presiden telah berbuat tidak cermat dan cenderung ngawur dengan membiarkan Presiden keluar saat ada jutaan demonstran menuju Istana Kepresidenan. ”Kalau Presiden tidak di tempat, keamanan Istana menjadi longgar.

Bagaimana kalau demonstran merangsek ke Istana? Maka sudah seharusnya Presiden ada di tempat. Orang itu tidak mau omongan lain, harus Presiden,” paparnya. Hal senada diungkapkan Wakil Ketua Komisi VIII DPR dari Fraksi Gerindra Sodik Mudjahid. Dia juga menyayangkan sikap Presiden yang tidak mau menemui perwakilan demonstran.

Padahal, demonstran sudah bersusah payah datang dari berbagai pelosok daerah dan tetap menjaga agar aksi berjalan damai dan tertib. ”Aspirasi mereka juga bagus dan konstitusional, yakni penegakan hukum bagi penista agama dan perusak kerukunan beragama dan pengacau keutuhan NKRI.

Jokowi selama ini sering blusukan mencitrakan diri aspiratif kepada rakyat, tapi sekarang sulit menerima aspirasi rakyatnya,” tandas Sodik. Sikap Jokowi yang seperti ini, menurut dia, semakin menegaskan bahwa blusukannya memang hanya pencitraan dan kamuflase belaka. Karena rakyat yang datang ke Istana dengan konten aspirasi yang mendasar justru ditinggalkan.

Tentunya ini semakin menguatkan dugaan orang bahwa Jokowi tidak berani bertindak kepada Ahok. ”Sekaligus membenarkan isu bahwa Ahok pegang banyak kartu mati Jokowi,” paparnya. Karena itu Sodik mengharapkan Jokowi segera memerintahkan aparat untuk memproses Ahok secepatnya sebagai bentuk menghargai aspirasi masyarakat guna membantah dugaan negatif itu. Juga sebagai bentuk keadilan dan kesetaraan hukum. ”Rakyat sudah berkorban datang dari pelosok-pelosok, sudah sepatutnya Presiden menghargai itu,” tandasnya.

rahmat sahid/ Kiswondari