Edisi 05-11-2016
DAS Musi Membahayakan


PALEMBANG–Daerah Aliran Sungai (DAS) di Sumsel terus me - ngalami kritis dan degradasi. Hal ini diindikasikan dari bencana banjir dan longsor yang makin sering terjadi.

Di tahun ini, pemerintah men d ata sudah terjadi sekitar 28 bencana banjir dan longsor di Sumsel. Sehingga, kata perwa - kilan Forum DAS Sumsel, Karlina Agustina, perlu adanya metode manajemen daerah aliran sungai yang lebih tepat. Di Sumsel yang terdiri atas bagian hulu dan hilir sungai me - miliki tingkat kerusakan aliran sungai yang cukup kritis.

Setidak - nya, daerah aliran sungai telah mengalami kritis dan erosi men - capai 41,67%. “Kerusakannya terindikasi dari debit air yang makin menu - run. Tingkat kerusakan hingga terjadi bencana makin sering dialami masyarakat Sumsel, se - hingga butuh manajemen daerah aliran sungai menuju pemba - ngun an ekonomi hijau,” ujarnya usai Sosialisasi dan Peyadaran Ta - hun Kebijakan yang Mendu kung Pembangunan Hijau, kemarin.

Berdasarkan datanya, perma - salahan daerah aliran Sungai Musi baik bagian hulu, tengah dan hilir hampir sama. Daerah sungai mengalami pengurangan tutup lahan, makin luasnya lahan kritis dan erosi. Di bagian hulu misalnya, ter ja - di pengurangan penutupan lahan akibat kegiatan illegal loggingdan salah tanam komoditas.

“Di bagian terjal atau topo - grafi hulu misalnya, masyarakat bukan menanam tanaman keras, melainkan palawija. Rata-rata dibagian hulu, hilir dan tengah mengalami permasalahan yang sama, makin kritis, degradasi dan erosi,” katanya. Di kawasan hulu Sumsel, mi - sal nya Kota Pagaralam, Kabupa - ten Lahat dan kawasan Bukit Ba - risan mengalami degradasi sudah 57,58%.

Sementara wilayah te - ngah, kawasan banjir dan longsor mengalami perluasan dan kawas - an hilir, seperti halnya Kabupaten Musi Banyuasin, Banyuasin dan topografi rawa mengalami per - ubahan tutupan lahan, misalnya terjadi kebakaran lahan dan hutan (karhutla) dan ekspansi perkebunan.

“Berdasarkan data nasional, perubahan tutupan misalnya dari wilayah pertanian berubah men - jadi bukan pertanian, atau istilah - nyaperubahan fungsi sudah men - capai 40%. Hal ini juga tergam bar dari meluasnya kawasan pemu - kiman atau perubahan lahan bagi peruntukkan lain,” ungkapnya. Dia menambahkan, di kawas - an hilir, termasuklah Kota Palem - bang terdapat 33,33% lahan yang termasuk kategori kritis dan po - tensial kritis mencapai 20,83%, serta menuju agak kritis men ca - pai 8,33% termasuk sangat kritis.

“Itu sebenarnya data tahun 2012, sehingga kemungkinan se - lama empat tahun ini masih akan mengalami peningkatan tingkat kerusakannya,” ucapnya. Karena itu, Forum Daerah Alir an Sungai mendorong produk hukum yang nantinya turun men - jadi peranturan teknis membu - tuhkan skema penata aturan tata air yang lebih baik.

Dikatakan dia, bagaimana nantinya tata air mam pu memberikan kontribusi manfaat ekonomi yang lebih ber - kesinambungan. “Perdanya su - dah ada, tinggal aplikatifnya ter - masuk aturan teknis dan pelak - sanaannya saja,” ujarnya. Sementara, upaya mengura - ngi kerusakan daerah aliran su - ngai ini, KasiUPTDPenataanRuang Bappeda, Mualimmah Gus tini me ngatakan, dapat dilakukan me la lui produk hukum yang su - dah dimiliki pemerintah.

Salah satunya, Perda Nomor 5 Tahun 2013 mengenai Pengelolaan Dae - r ah Aliran Sungai Terpadu Diapli - katifkan dalam Penataan Tata Ruang dan Bangunan di Sumsel. “Melalui perda itu, nantinya didorong untuk aplikatif, terma - suk menyinkronkan pada tim restorasi kawasan gambut di Sumsel karena aspek pencegahan juga memasukkan manajeman tata guna air terutama di kawasan gambut,” katanya.

Tasmalinda

Berita Lainnya...