Edisi 05-11-2016
Lajang Tua Nyaris Diamuk Warga


SEI RAMPAH – Seorang pria lajang berusia 60 tahun berinisial SS, nyaris diamuk warga di Desa Sialtong, Kecamatan Kotarih, Kabupaten Serdangbedagai (Sergai).

Beruntung SS sempat diamankan oleh personel Polsek Kotarih dan membawanya ke Polres Sergai di Sei Rampah. Kemarahan warga terhadap SS yang bekerja sebagai penjaga kebun di Desa Sialtong sudah memuncak dan sulit diredakan sehingga perlu dievakuasi ke Polres Sergai.

“Dia (SS) terpaksa dievakuasi dari Polsek ke Mapolres guna mengantisipasi kericuhan yang lebih luas lagi,” ungkap Kepala Sub Bagian Humas Polres Sergai, Ajun Komisaris Polisi (AKP), Jasmoro, Jumat, (4/11). Pria yang diketahui beralamat di Jalan Setia Budi, Lingkungan V, Kelurahan Brohol, Kecamatan Bajenis, Kota Tebingtinggi, ini dituding warga telah melakukan pelecehan seksual kepada sejumlah anak perempuan di bawah umur. Menurut AKP Jasmoro, amuk warga terhadap SS terjadi Rabu (2/11).

Ketika itu personel Polsek Kotarih harus pontang-panting mengamankan SS yang sudah dikepung oleh puluhan warga. Selanjutnya, pada Kamis (3/11) SS diantarkan Kapolsek Kotarih AKP J Panjaitan ke Polres Sergai. Kapolsek turut membawa MR,34, orang tua dari JN,8, dan adiknya TJ,6, yang diduga menjadi korban pelecehan seksual oleh SS. Kepada polisi, MR mengaku mengetahui kedua anaknya menjadi korban perbuatan asusila SS pada Rabu (2/11) melalui istrinya.

Sontak, informasi itu membuat MR marah besar. MR bersama sejumlah warga langsung mendatangi SS di areal perkebunan tempatnya bekerja. Di situlah terjadi aksi pengejaran dan pengepungan hingga akhirnya polisi datang untuk mengamankan SS. Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polres Sergai, AKP Aron Tamba Tua Siahaan, mengatakan, hingga kini penyidik masih terus melakukan pemeriksaan terhadap SS.

Berdasarkan pengakuan SS kepada penyidik, pelaku baru sebatas mencium korban. “Alasannya mencium hanya ingin menunjukan rasa sayang antara orang tua dan anak. Pelaku mengaku tidak pernah mencabulinya,” kata AKP Aron. Meski demikian, polisi tidak percaya begitu saja dengan pengakuan SS.

Untuk itu, polisi akan melakukan autopsi kepada kedua anak yang diduga korban pencabulan oleh SS. “Setelah ada hasilnya baru kami lanjutkan perkaranya. Pelaku bisa dijerat dengan undangundang tentang perlindungan anak,” tandasnya.

erdian wirajaya

Berita Lainnya...