Edisi 05-11-2016
Posko Pengungsian Akan Ditutup 2017


MEDAN – Keresahan para pengungsi korban erupsi Gunung Sinabung yang hingga saat ini di posko pengungsian, terjawab sudah. Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Tengku Erry Nuradi menargetkan paling lama kwartal I tahun 2017, seluruh pengungsi sudah harus mendapat tempat tinggal.

Hal itu ditegaskan Erry dalam kunjungannya ke Posko Pengungsian di Jalan Kiras Bangun, Kecamatan Simpang Empat, Kabanjahe, Kamis sore (3/11). Gubernur didampingi Pangdam I/Bukit Barisan (BB) Mayjen TNI Lodewyk Pusung, Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sumut Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel, Bupati Karo Terkelin Brahmana, dan Wakil Bupati Karo Corry Sebayang. Erry meminta agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karo dan pihak terkait bisa segera merealisasikan pemindahan para pengungsi yang sudah menderita bertahun-tahun hidup di posko pengungsian, baik itu ke hunian sementara (huntara) ataupun hunian tetap.

Pemerintah pusat sudah menyediakan anggarannya dan pemerintah daerah (pemda) tinggal mengatur pelaksanaannya. Saat ini, ada 1.682 kepala keluarga (KK) yang tersebar di sembilan titik posko pengungsian yang disiapkan oleh Pemkab Karo. “Masih cukup banyak pengungsi di tempat penampungan, maka itu kami berharap segera dibangun huntara dan hunian tetap,” kata Erry.

Dia meminta paling lama pada kuartal pertama 2017, semua pengungsi harus sudah ada di huntara dan hunian tetap. Menurut Erry, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) untuk penyediaan huntara.

“Saya terima informasi dalam minggu ini, huntara akan dibangun. Kami harapkan sampai bulan Desember, huntara sudah jadi,” kata Erry. Pangdam I/BB Mayjen TNI Lodewyk Pusung, dalam kesempatan itu juga meminta Pemkab Karo mempercepat penyediaan lokasi huntara dan hunian tetap.

Hal yang terpenting, relokasi harus mengikuti kearifan lokal. “Daya tampung harus disesuaikan dengan kondisi, jangan dipaksakan sehingga mengganggu ketentraman masyarakat yang ada di lokasi,” kata Lodewyk. Seorang pengungsi di posko Gudang Konco Tiganderket, Jefri Bangun sangat mengharapkan ada hunian bagi para pengungsi .

Sebab, hingga saat ini banyak masyarakat hidup dalam ketidakpastian dan terus berpindah-pindah, termasuk Jefri beserta istri dan dua anaknya. Sejak tahun 2010, Jefri terpaksa harus meninggalkan rumah dan lahan pertaniannya di Desa Mardingding di radius 3,5 Km dari Gunung Sinabung. Hingga saat ini, dia dan keluarga sudah satu tahun dua bulan tinggal di posko Tiganderket.

Selain itu, Jefri pun mengaku seorang anaknya terpaksa harus putus sekolah setelah kelas III SMP lantaran harus berpindah- pindah tempat dan tidak memiliki biaya. Saat ini, jangankan untuk bisa sekolah, untuk mengisi perut saja juga sudah sulit. “Kami sakit hati karena terus dijanjikan akan direlokasi, tapi sampai sekarang tidak juga. Kami sudah pasrah,” tuturnya.

Tinjau Zona Merah

Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi beserta Pangdam I/BB Mayjen TNI Lodewyk Pusung dan Kapolda Sumut Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel sebelumnya meninjau portal zona merah radius 5 km di Desa Beras Tepu Kecamatan Simpang Empat, Karo. Mereka berdialog dengan aparat TNI dan Polri yang menjaga portal dan mengingatkan agar selalu siaga sehingga tidak ada lagi penduduk berada di lokasi berbahaya tersebut. “Jangan sekali-kali melewati zona merah.

Kita tidak ingin ada lagi korban jiwa seperti yang sebelumnya terjadi,” ujar Erry. Erry mengatakan, penjagaan dilakukan di jalan-jalan utama. Meskipun demikian, masih memungkinkan akses masuk ke zona merah tanpa melewati portal penjagaan. “TNI, Polri dan Pemkab Karo akan terus melakukan sosialiasi kepada masyarakat agar jangan ke zona berbahaya,” katanya.

Sementara Kapolda Sumut Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel mengatakan, penjagaan tetap dilakukan oleh aparat kepolisian maupun TNI. Pihaknya memberlakukan sistem penjagaan bergantian dan memberikan sepeda motor baru bagi polisi yang bertugas menjaga portal zona merah.

lia anggia nasution

Berita Lainnya...