Edisi 05-11-2016
Bonus Menuai Protes


SEMARANG– Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyerahkan bonus tahap pertama kepada para atlet peraih medali emas, perak, dan perunggu PON XIX/Jawa Barat beberapa waktu lalu.

Bonus untuk atlet Pekan Paralympian Nasional (Peparnas) XV juga dibagikan. Tapi, adanya perbedaan yang menonjol pada nominal bonus antara atlet PON dan Peparnas membuat atlet penyandang disabilitas kecewa. “Perbedaannya sangat besar.

Atlet NPC peraih emas diberi bonus Rp75 juta, sedangkan PON Rp175 juta sehingga kami cukup kecewa,” kata Fajar Nur Hadianto, atlet renang peraih tiga medali emas di Peparnas Jabar, kepada wartawan seusai menerima bonus di Kompleks Gubernuran di Jalan Pahlawan, Kota Semarang, kemarin.

Kendati demikian, Fajar tidak bisa berbuat banyak karena bonus tersebut telah ditetapkan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Dia mengaku sebenarnya tidak ada persoalan jumlahnya berbeda asal tidak terpaut terlalu jauh. “Kami juga sudah bekerja keras di Peparnas,” ungkapnya.

Bagi peraih medali perak PON, diganjar bonus Rp75 juta, adapun atlet Peparnas Rp25 juta. Medali emas dari atlet perorangan, ganda, atau pun beregu jumlahnya tidak sama. Untuk atlet dengan beregu dengan jumlah personel 12 orang ke atas, bonus emasnya lebih sedikit dibandingkan dengan beregu antara 5 hingga 9 orang.

Atlet aeromodeling Jateng Nanik Novianti mengaku cukup bersyukur atas pemberian bonus. Peraih satu medali emas di PON Jabar itu mengucapkan terima kasih kepada pemerintah daerah. “Kami syukuri saja, ya bagaimana ya?” kata Nanik. Ketua KONI Jateng Hartono bisa memahami kekecewaan dari atlet Peparnas yang bonusnya lebih rendah dari atlet PON.

Pemberian bonus ini sudah disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah. “Sejak awal memang sudah prediksi, pasti ada rasa kurang puas karena jumlahnya berbeda. Tadinya memang bonus ini akan kami berikan kepada atlet sekaligus pada 2017 seperti Jawa Barat, tapi Gubernur yang meminta yang ada disalurkan lebih dulu,” ungkap Hartono.

Hartono mengaku cukup lega proses pemberian 41% bonus atlet berjalan lancar. Bonus ini sekaligus menjadi upaya untuk mengikat atlet supaya tidak hengkang ke provinsi lain, karena ada perhatian dari pemerintah daerah. “Kalau mau pindah kantentu akan berpikir ulang lantaran sudah diberi tali asih.

Atlet juga pasti akan membeda-bedakan jumlah bonus daerahnya dengan provinsi tetangga,” paparnya. Pemberian bonus ini, kata Hartono, akan ditransfer langsung ke masing-masing rekening atlet. Bagi yang tidak memiliki rekening bank, harus membuat baru. Hal ini dilakukan untuk menghindari pemotongan. “Kalau dipotong pajak, itu memang wajib. Tahun ini pajaknya lebih rendah, sekitar 3–4%.

Padahal, di PON Riau lalu pajaknya sampai 16 %,” tuturnya. Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memastikan pada Januari 2017 akan dicairkan bonus tahap kedua karena alokasi Rp8 miliar pada 2016 belum sesuai kebutuhan.

Pihaknya juga akan berupaya memberikan kepercayaan dan kenyamanan kepada atlet agar tidak pindah ke provinsi lain. “Terus terang, kami tidak bisa mencegah (jika pindah). Olahraga tidak hanya uang, ada kebanggaan dan martabat,” katanya.

arif purniawan

Berita Lainnya...