Edisi 05-11-2016
Kasus Kekerasan Seksual Anak Terus Meningkat


KUDUS – Kasus kekerasan dan pelecehan seksual anak di Ka bupaten Kudus terus me - ning kat. Pelaku kekerasan di - domi nasi oleh orang terdekat korban dan masih memiliki kekeraba tan.

Data dari Bidang Perlin dung - an Perempuan dan Perlin dung - an Anak (PP&PA) Badan Pem - ber dayaan Masyarakat Pe rem - pu an dan Keluarga Beren cana (BPMPKB) menyebutkan hing - ga Oktober 2016 tercatat ter da - pat 14 kasus pelecehan sek sual anak di bawah umur dan 4 kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Sementara di 2015 tercatat ada 11 kasus kekerasan seksual anak dan 8 kasus KDRT.

Kepala Bidang Perlindung - an Perempuan dan Perlin dung - an Anak BPMPKB Kudus Yuliati mengatakan ada kecende rung - an meningkatnya kasus keke - rasan seksual anak. Dia menye - butkan, tahun ini ada 14 kasus yang ditangani oleh PPPA. “Ada yang masuk ranah hu kum, ada yang diselesaikan se cara keke - luar gaan.

Mungkin di luar jum - lah kasus kekerasan seksual bisa jadi lebih dari itu, namun tidak kami tangani ka rena tidak ada laporan,” ucap nya kemarin. Kasus terbaru, yakni se orang pelajar tingkat mene ngah yang dihamili oleh orang tuanya sen - diri. Bahkan, korban yang masih duduk di kelas X belum lama ini telah mela hir kan bayi. “Kasus ini sudah dilim pahkan ke aparat kepolisian.

Saat ini pelaku masih dalam pro ses pe ngejaran karena me la rikan diri. Untuk korban kita lakukan pendampingan se - cara simul tan, termasuk meng - upa ya kan dan memfasilitasi de - ngan dinas terkait agar bisa te tap melanjutkan pendidikan,” ungkap Yuliati. Dia mengimbau agar ma sya - rakat bisa langsung mela por kan bila mengalami kekerasan sek - sual kepada PPPA BPMPKB Ku - dus.

“Kami juga menye dia kan la - yanan call center dengan meng - hubungi nomor O8580005756. Layanan kami 24 jam. Laporan akan langsung kami tanggapi de ngan syarat memberikan iden titas yang jelas saat pe la - poran,” ujarnya. Menurut Yuli, panggilan Yuliati, peran PPPA sangat ter - batas lantaran anggaran yang disediakan untuk pendam pi - ngan kasus kekerasan seksual pada perempuan dan anak sa - ngat terbatas.

Selain itu, Kudus juga belum memiliki rumah aman atau shelter. “Kami sudah sempat meng usulkan ke bupati, namun di tolak untuk pem - buat an shelter. Bahkan ang gar - an kami juga terus dikurangi, jika 2016 ang garan yang dise - diakan sebesar Rp40 juta, ren - cana di 2017 ha nya dijatah Rp20 juta,” ung kapnya.

Ketua Jaringan Peduli Pe - rem puan dan Anak (JPPA) Noor Haniah menyebutkan, ke keras - anseksualanakterjadiaki batper - kembangan tekno logi lebih khu - sus soal situs por no. Dia meng - imbau orang tua dan guru lebih peka terhadap perkembangan anak. “Ter kadang orang tua le - ngah dalam mengawasi anak,” ucap mantan wakil bupati itu. Data JPPA hingga Oktober 2016 tercatat ada 27 kasus yang ditangani.

Dari kasus tersebut, sebagian besar masuk ranah hukum dan sebagian disele sai - kan secara kekeluargaan. “Ratarata setiap tahun kasus yang ditangani oleh JPPA antara 30- 40 kasus. Mulai kasus pele ceh - an seksual anak, kasus KDRT, hingga kasus hamil di luar nikah,” ungkap Haniah.

AM

Berita Lainnya...