Edisi 05-11-2016
Kulit Pisang Jadi Bahan Mengapung Tablet dalam Lambung


Banyak peneliti menjadikan kulit pisang sebagai bahan penelitian. Setelah melalui tahap pengolahan, kulit pisang bukan saja sebagai campuran bahan pangan, ada pula yang menjadi komposisi pendukung obat di industri farmasi.

Hasil penelitian Krensensia Apriana Bukarim, mahasiswi Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) setidaknya menambah panjang daftar pemanfaatan kulit pisang untuk bahan pendukung obat. Meski demikian, Krensensia mengkhususkan kulit pisang agung asal Kabupaten Lumajang sebagai bahan campuran obat dengan fungsi mengapungkan tablet dalam lambung selama 10 jam.

Selain itu, melepaskan kandungan obat secara bertahap selama masa apung tersebut. Dari penelitian tugas akhir berjudul Optimasi Formula Tablet Floating Ibuprofen Menggunakan HPMC K4M-Amilum Kulit Pisang Agung dan Natrium Bikabornat sebagai Floating Agent ini, Krensensia meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,49. Hari ini rencananya Krensensia bakal diwisuda.

Ditemui di kampus UKWMS Jalan Dinoyo, dara kelahiran Kupang, 9 April 1994, ini menjelaskan cara pemanfaatan kulit pisang serta kegunaannya. “Dalam industri farmasi, kulit pisang sudah dimanfaatkan sebagai bahan pengikat obat. Melalui penelitian saya, kulit pisang ini bisa untuk kontrol pelepasan obat,” urai sulung dari dua bersaudara.

Hasil olahan kulit pisang itu bernama amilum yang mampu membuat obat dengan komposisi lain mengapung selama 10 jam dan secara bertahap melepas kandungan obat. “Jadi dalam obat, misalnya paracetamol itu tidak seluruhnya paracetamol, tapi ada bahan obat lain. Nah, amilum yang bercampur dan menjadi komposisi obat ini yang membuat mengapung.

Dengan bisa mengapung 10 jam, pasien tidak harus mengonsumsi obat 3 kali sehari, tapi bisa 2 kali sehari dan bahkan 1 kali sehari,” urai gadis manis ini. Alumni SMA Katolik FQI Kefa Kupang ini menjelaskan, bagaimana proses pengolahan kulit pisang menjadi tepung amilum.

Kulit pisang dicuci lalu direndam cairan natrium metabisulfat, selanjutnya diblender, direndam lagi untuk membuang ampasnya. Setelah itu, sarinya diambil. “Saya terinspirasi ibu Lannie Hadisoewignjo, dosen saya yang menjadikan kulit pisang sebagai bahan pengikat obat. Temuan Bu Lannie ini bahkan sudah dipatenkan,” imbuhnya. Peraih predikat wisudawan terbaik ini menyebut, amilum merupakan salah satu bahan baku obat yang akan dikembangkan dalam skala jangka menengah.

Ini diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) RI No 87/2013 tentang Peta Jalan Pengembangan Bahan Baku Obat. “Pada penelitian ini, amilum kulit pisang agung untuk sediaan floating ibuprofen. Tablet floating adalah tablet yang mampu mengapung pada cairan lambung karena memiliki densitas (massa jenis) yang lebih kecil dari air,” ungkap Krensensia mengulas lebih jauh.

Amilum kulit pisang berfungsi sebagai matriks kombinasi pada pelepasan obat secara perlahan. Model obat yang digunakan di sini adalah ibuprofen yang berindikasi untuk pengobatan antiinflamasi. Dengan pelepasan perlahan ibuprofen pada lambung akan meningkatkan absorpsi ibuprofen dalam darah.

“Dari penelitian ini diketahui, amilum kulit pisang agung selain dapat digunakan sebagai bahan pengikat pada sediaan tablet, dapat juga digunakan sebagai matriks pelepasan tablet floating,” pungkasnya. Rektor UKWMS Kuncoro Foe berharap, mahasiswa yang hari ini diwisuda bisa terus mengembangkan penelitiannya. “Tugas akhir bisa menjadi referensi untuk pengembangan dan memasuki tahap yang lebih tinggi,” kata Kuncoro.

SOEPRAYITNO
Surabaya

Berita Lainnya...