Edisi 05-11-2016
Lima Danau Retensi Dibangun 2017


BANDUNG – Pemkot Bandung memastikan pembangunan lima danau retensi akan dimulai tahun depan. Saat ini, rencana pembangunan danau tersebut telah masuk tahap detail engineering design (DED).

Pembangunan danau retensi, dilakukan untuk mengatasi banjir saat musim hujan tiba. Ke lima wilayah yang akan dibangun danau tersebut meliputi kawasan Bima (Padjadjaran), Pasar Induk Gedebage, Sirnaraga, Babakan Jeruk, serta di area Bandung Teknopolis. Kepada wartawan, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan, pembangunan danau baru akan dimulai tahun depan.

Saat ini, kelima proyek besar itu sudah masuk DED yang ditargetkan selesai akhir tahun ini. “Upaya ini dalam rangka mencegah banjir yang masih mungkin terjadi di Kota Bandung,” ujar dia di Jalan Martadinata, Kota Bandung, kemarin. Menurut dia, danau itu berfungsi untuk menampung air saat curah hujan di kawasan tersebut tinggi.

Meski proyek pembangunan danau ini tidak mudah karena membutuhkan waktu serta perlu ada pembebasan lahan, tapi diakuinya ini menjadi solusi jangka panjang mencegah banjir. “Intinya mencegat air agar tidak langsung mengalir ke ujung (daerah rendah) ketika hujan deras,” katanya.

Pria yang akrab disapa Emil itu mengaku telah berkoordinasi dengan Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) Jawa Barat untuk mencari solusi lain dalam penanganan masalah banjir. Salah satunya konsep zero run off atau gerakan satu rumah satu sumur serapan.

“Jadi air hujan yang turun tidak akan masuk dan mengalir ke jalan atau trotoar,” ujarnya. Emil menilai, konsep tersebut akan membuat banyak air hujan diresap ke dalam tanah. Sehingga air hujan yang masuk ke saluran air (drainase) akan lebih terkelola dengan baik dan air yang biasa mengalir ke hilir cukup besar dengan pola itu bisa lebih menjadi sedikit.

“Kami berharap agar masyarakat sekitar bisa ikut pula berpartisipasi dalam menyelesaikan masalah banjir dengan menjaga lingkungan,” terangnya. Sementara itu, Pakar Lingkungan DPKLTS Jawa Barat Sobirin berharap, konsultasi Pemkot dengan pihaknya ini bisa mencari solusi untuk penanganan banjir di Kota Bandung.

Pihaknya juga dapat mengawal dan membantu menyelesaikan masalah ini. “Yang penting wali kota terus berupaya mencari solusi dan kami bisa membantu. Intinya pembangunan untuk menangani banjir itu ya harus berbasis air,” katanya. Dia menambahkan, pemerintah tak hanya fokus membangun tol air, tetapi bisa menghadirkan sistem lain termasuk sumur resapan dan danau retensi.

Yang tak kalah penting harus memperhatikan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). “Apalagi saat ini ada Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang kini mengalami perubahan. Makanya kami harapkan pemerintah provinsi ikut andil dalam penanganannya” ucap dia.

Sementara itu, mengantisipasi berulangnya banjir cileuncang di Jalan Pasteur dan Pagarsih, Dinas Bina Marga dan Pengairan (DBMP) Kota Bandung telah menyiapkan langkah antisipasi, berupa tol air di dua lokasi tersebut. Sekretaris DBMP Kota Bandung Agoes Syafrudin menuturkan, di musim penghujan ini, seluruh anggota URC telah disiagakan selama 24 jam di lokasi-lokasi rawan banjir.

Bahkan untuk mempermudah kinerja petugas di lapangan, DBMP juga melengkapi mereka dengan fasilitas floating pump sebanyak enam unit. Di mana fasilitas tersebut diperuntukkan untuk menangani persoalan banjir di Jalan Djunjunan, Pagarsih dan Gedebage.

Sementara untuk antisipasi jangka panjang, pihaknya membangun tol air. Agoes mengaku, pipa pembuang air yang dipasang melintasi Jalan Djunjunan atau Pasteur itu akan ditempatkan sesuai dengan gorong-gorong yang ada saat ini. Tak hanya, menambahkan tol air, Agoes juga mengaku akan menambahkan fasilitas pompa mobile di Jalan Djunjunan, dengan kapasitas dorong pompa yang mencapai 75 sampai 100 liter per detik.

“Pompa itu sepasang dengan pipa, feed pump yang nanti kan sistem kerjanya mendorong aliran air, sehingga meminimalisir air yang melimpah ke bahu jalan. Tol air akan kami sediakan di Djunjunan dan Pagarsih, anggarannya Rp1 miliar dari APBD murni 2016, masing-masing Rp500 juta,” tambahnya.

Adapun untuk ukuran pipa khusus pembuangan air (tol air), dimensinya 2x10 inci, sementara untuk panjang tol air tersebut akan disesuaikan dengan lebar bahu Jalan yang tersedia atau sekitar 25 hingga 30 meter. Untuk rekayasa lainnya, Agoes juga mengatakan akan membongkar jalan masuk rumah di daerah Babakan Jeruk (Jalan Djunjunan) dan mengganti jembatan jalan masuk di kawasan Hotel Topas, Jalan Djunjunan.

Upaya teknis lainnya, Agoes juga mengaku akan melakukan pengangkatan sedimen di Sungai Cianting dengan menggunakan sarana khusus dengan beko dan spyder.

dila nashear/ heru muthahari

Berita Lainnya...