Edisi 05-11-2016
Stok Gas Melon di Cirebon Timpang


CIREBON – Kelangkaan gas elpiji bersubsidi 3 kg yang terjadi di wilayah Cirebon dalam 2-3 bulan terakhir disinyalir akibat tingginya permintaan yang tak sebanding dengan stok yang tersedia.

Kepala Bidang Elpiji Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Cirebon Fauzi Hasan menuturkan, kondisi tersebut tak lepas dari tingginya laju pertumbuhan penduduk di wilayah Cirebon belakangan ini. Berdasarkan data yang dikantonginya, selama 2016, distribusi gas melon tersebut tercatat sekitar 4,5 juta tabung/ bulan.

Jumlah itu naik dibanding 2015 yang kuotanya sekitar 4,2 juta tabung/bulan. “Situasi itu terjadi di antaranya akibat permintaan yang lebih banyak daripada penawaran. Hal itu karena laju pertumbuhan penduduk belakangan tinggi,” terangnya, kemarin. Alasan lainnya, lanjut Fauzi, adalah banyaknya spekulan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) hingga penyerapan yang tak tepat sasaran.

Oleh karena itu, Hiswana Migas Cirebon menggelar operasi pasar (OP) di puluhan titik di empat daerah di wilayah Cirebon. OP di antaranya dilaksanakan di delapan titik di Kota Cirebon, 29 titik di Kabupaten Cirebon, 28 titik di Indramayu, dan 18 titik di Kuningan. OP dilaksanakan serentak pada hari yang sama dan pendistribusiannya pun dalam jumlah yang sama.

“Gas yang dijual ke masyarakat seharga Rp15.000/tabung sesuai harga eceran tertinggi (HET) dengan syarat tertentu,” tambahnya. Pihaknya mengalokasikan 560 tabung gas (satu truk) ke setiap titik. Masyarakat yang berminat membeli harus menunjukkan kartu tanda penduduk (KTP).

Setiap orang maskimal hanya dapat membeli dua tabung. Sementara itu, Koordinator Hiswana Migas DPC Cirebon Gunawan Kalita dalam kesempatan itu menolak menyebut situasi itu kelangkaan. Dia meyakinkan, hingga kini elpiji bersubsidi masih tersedia. “Ini bukan kelangkaan.

Memang ada kesulitan karena terjadi ketidakseimbangan antara permintaan dengan penawaran yang biasa terjadi dalam mekanisme pasar,” tuturnya. Selain untuk menanggulangi kekurangan stok elpiji, dia mengatakan, OP yang dilaksanakan merupakan parameter ketersediaan gas di masyarakat.

Bila elpiji yang dijual dalam OP itu habis, berarti masyarakat membutuhkan tambahan. Sebelumnya diberitakan, warga Cirebon mengeluhkan sulitnya memperoleh gas melon. Salah seorang pedagang gas melon eceran Aminah mengungkapkan, sudah dua minggu terakhir gas melon sulit diperoleh.

Kondisi serupa juga terjadi pada agen langganannya. “Agen yang biasa kirim seminggu dua kali, tapi selama dua minggu ini saya tak dapat kiriman gas,” ungkapnya. Akibat sulit memperoleh gas melon, tak sedikit kaum ibu yang menjadi pelanggannya mengeluh karena tak bisa memasak.

Mereka pun terpaksa membeli masakan yang sudah jadi di warung- warung makan karena tak menemukan gas melon di banyak tempat. Kondisi itu bahkan dialami Aminah. Dia terpaksa memanfaatkan rice cooker untuk memasak lauk. Dia tak mengetahui penyebab situasi itu dengan alasan belum menerima informasi dari pihak agen.

“Ya semoga tak berkepanjangan karena gas melon kebutuhan banyak orang,” harapnya. Senada dengan Aminah, warga lainnya Solihin juga mengaku kesulitan menemukan gas melon. Sekalipun dia menemukan elpiji, hanya elpiji kemasan 5 kg yang tersedia. “Dalam situasi begini, inginnya sih ada gas alam. Tapi di sini gas alam tak masuk, untuk mendapat elpiji 3 kg juga susah,” keluhnya.

erika lia

Berita Lainnya...