Edisi 05-11-2016
Warga Karang Sinar Terisolasi


KARAWANG - Jembatan penyeberangan penghubung Kampung Karang Sinar dengan Kampung Muara Dua di Desa Ciparage, Kecamatan Tempuran, roboh, dini hari kemarin.

Akibatnya, ratusan kepala keluarga terisolasi karena akses jalan satu-satunya hanya melalui jembatan tersebut. Tidak ada korban dalam peristiwa itu karena disaat kejadian sedang turun hujan deras dan warga tengah tidur. Robohnya jembatan tersebut sempat menimbulkan suara gemuruh.

Menurut salah seorang warga, Dedi Supriadi, 36, sekitar pukul 02.30 WIB tadi, jembatan yang disebut Jembatan Cibulan-bulan mendadak roboh ketika hujan deras. Warga yang tinggal di sekitar jembatan yang mendengar suara gemuruh kencang langsung keluar rumah. Namun karena hujan deras disertai petir, hanya beberapa warga saja yang mendatangi sumber suara.

"Saat kami mendatangi sumber suara ternyata jembatan Cibulan-bulan roboh. Tidak banyak warga yang berani keluar rumah karena hujan deras sekali. Mereka baru mengetahui jembatan roboh saat akan melakukan aktivitas," katanya. Menurut Dedi, jembatan Cibulan-bulan memang kontruksinya sudah rusak akibat pernah ditabrak kapal tongkang eskavator hingga salah satu tiang penyangga patah.

Karena salah satu tiang penyangga sudah tidak berfungsi sehingga diduga tak kuat menahan arus Sungai Cibulan-bulan yang saat itu mengalir kencang akibat hujan deras dan bermuara di Laut Ciparage. "Sudah satu tahun lalu jembatan itu rusak karena ditabrak kapal sehingga tiang penyangga retakretak.

Selama ini belum ada upaya pemerintah untuk memerbaiki jembatan tersebut hingga akhirnya roboh akibat arus sungai deras," katanya. Dedi mengatakan, akibat jembatan roboh warga di seberang sungai, yaitu di Kampung Karang Sinar, susah untuk keluar kampung karena jembatan tersebut merupakan akses jalan darat satu-satunya.

Untuk keluar kampung warga terpaksa menggunakan perahu nelayan untuk menyeberangi Sungai Cibulan-bulan. Namun menggunakan perahu nelayan tidak bisa dilakukan setiap saat karena nelayan lebih memilih ke laut untuk mencari ikan. "Sekarang masih bisa diatasi karena nelayan banyak yang tidak melaut akibat cuaca buruk, namun jika sudah musim melaut nelayan pasti memilih untuk melaut," katanya.

Dedi sendiri mengaku tidak bisa mengurus tambak ikan yang berlokasi di Kampung Karang Sinar karena jembatan roboh. Jika mengandalkan perahu nelayan dia harus membayar ongkos yang biayanya tergantung beban yang dia bawa," katanya.

Nilakusuma

Berita Lainnya...