Edisi 05-11-2016
Jumlah Kamar Hotel Sudah Over Supply


YOGYAKARTA - Jumlah hotel di Yogyakarta sudah dianggap melebihi kapasitas. Saat ini kondisi kamar di kota pariwisata ini sudah over supply melebihi jumlah wisatawan yang masuk ke wilayah ini.

Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) meminta agar pemerintah membuat kebijakan baru terkait hotel. Ketua PHRI Yogyakarta Istijab mengakui jika saat ini sudah over supply kamar. Meskipun terkadang ada saat-saat tamu kesulitan mendapatkan kamar, namun rata-rata ketika sedang low season kondisi hotel di Yogyakarta memprihatinkan.

Pembangunan hotel baru di Yogyakarta memang layak untuk dihentikan agar iklim bisnis perhotelan di wilayah ini tetap terjaga. “Biar berkembang, di Sleman dan Kota Yogyakarta memang dihentikan,” katanya. Hotel baru di wilayah ini memang terus bertambah. Di satu sisi merupakan kabar menggembirakan karena bisa membuka lowongan kerja baru, tetapi bagi industri perhotelan menjadi bumerang.

Karena tingkat hunian hotel yang sebelumnya mengalami kontraksi. Belum lagi adanya hotel yang “memaksakan diri” dengan membuat fasilitas tidak sesuai kualifikasi bintangnya. Dibangunnya bandar udara (bandara) baru New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulonprogo menjadi sebuah harapan baru.

Kalangan perhotelan berharap dengan bandara baru ini jumlah wisatawan yang datang bisa bertambah banyak. Apalagi konon kapasitas bandara baru di Kulonprogo jauh lebih besar dibanding bandara yang ada saat ini, Bandara Adisutjipto. Berdasarkan informasi yang di dapat dari PT Angkasa Pura I, kapasitas bandara baru nanti di tahun pertama bisa mencapai 15 juta penumpang.

Saat ini, jumlah penumpang bandara yang masuk ke Adisutjipto sekitar 6,4 juta orang dalam setahunnya. Harapannya dengan bandara baru maka jumlah wisatawan bisa meningkat dua kali lipat dibanding saat ini. “Kami memang sangat berharap bandara baru tersebut segera terealisasi,” ujarnya.

Karena bandara baru itu, maka saat ini PHRI bersama pemerintah mencoba mengarahkan investor yang ingin mendirikan hotel ke Kulonprogo. Harapannya dengan pembangunan di Kulonprogo maka iklim bisnisnya bisa terjaga untuk beberapa tahun mendatang. Dia berharap juga agar pemerintah memberikan berbagai kemudahan di wilayah.

Istijab mengungkapkan, saat ini ketika low season tingkat hunian di Yogyakarta terutama di luar ring I (dekat Malioboro) memang rendah. Untuk hotel berbintang hanya 40-50% rata-rata huniannya, sementara hotel nonbintang di bawah angka tersebut bahkan bisa mencapai 30%.

Sembari menunggu realisasi bandara baru, harus ada inovasi agar tetap bertahan. “Harus lebih kreatif lagi,” katanya. Public Relation Platinum Adisucipto Hotel Dea Dema mengungkapkan, Platinum Adisucipto Hotel mulai beroperasi pada 28 September 2016 yang lalu.

Lokasinya yang sangat strategis karena berada tepat di depan pintu masuk bandara Adisutjipto memang membawa dampak tingkat hunian di hotel ini cukup tinggi, meskipun baru dibuka. “Kami menawarkan 152 kamar dan tingkat huniannya mencapai 90%,” tuturnya.

erfanto linangkung

Berita Lainnya...