Edisi 05-11-2016
Kepala SMK Diduga Cabuli Muridnya


GUNUNGKIDUL– Kasus pencabulan kembali menggemparkan Gunungkidul. Kali ini, oknum kepala sekolah (kepsek) salah satu SMK swasta di Wonosari dilaporkan ke Polres Gunungkidul lantaran melakukan tindakan pencabulan terhadap muridnya sendiri.

Aksi kekerasan seksual ini menimpa Tin, 17, warga Kecamatan Playen. Dia bersama orang tuanya melaporkan ke kepolisian lantaran tidak kuat lagi menerima perlakukan tidak senonoh dari kepala sekolah sejak Februari hingga September lalu. Bahkan, sudah beberapa waktu, S terpaksa tidak masuk sekolah lantaran trauma dengan perlakuan bejat kepala sekolah.

”Saat ini memang kami menerima laporan pencabulan yang dilakukan oleh Sum, oknum Kepsek salah satu SMK terhadap muridnya sendiri,” terang Panit Humas Polres Gunungkidul Iptu Ngadino kepada wartawan, kemarin. Dijelaskannya, untuk melengkapi keterangan pelapor ini, pihaknya akhirnya membawa korban untuk visum di RSUD Wonsosari.

Dari hasil visum inilah pihaknya akan mengembang kasus yang kini ditangani Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Satreskrim Polres Gunungkidul ini. ”Kita masih terus periksa korban dan keluarga yang melaporkan. Setelah hasil visum baru kita akan melangkah lebih jauh termasuk untuk memeriksa terlapor,” ucapnya.

Dari pemeriksaan awal, kata dia, diketahui Sum melakukan aksi pencabulan ini sudah sangat jauh. Selama berhubungan sejak Februari lalu, sudah beberapa kali di mengajak hubungan layaknya suami istri terhadap murid yang semestinya dijaga dan diberikan bekal ilmu yang bermanfaat tersebut.”

Jadi sudah tujuh bulan dilakukan oleh kepsek tersebut, dan akhirnya dilaporkan ke Polres,” lanjut Ngadino. Sementara, Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB) Rumiyati Hastuti mengatakan, kasus laporan korban pencabulan ini sudah sampai di bidangnya.

Pihaknya melalui Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) langsung melakukan pendampingan terhadap korban. “Kita lakukan pendampingan secara psikologis maupun hukum untuk kasus yang menimpa siswi SMK ini,” katanya. Untuk pendampingan secara psikologis, pihaknya memberi motivasi kepada korban agar tidak putus sekolah.

“Yang terpenting dia tidak putus sekolah, apakah mau sekolah di situ atau pindah. Atau mungkin mau masuk pesantren bisa difasilitasi,karena sudah kelas 12,” ucap dia. Terpisah, Manajer program Rifka Annisa Women Crisis Centre, M.Thontowi mengaku akan mengawal kasus tersebut.

Menurutnya, pengawalan ini sangat penting sehingga memunculkan efek jera bagi pelaku pencabulan. Dengan hal ini, dia berharap kasus kekerasan seksual yang menimpa anak dan perempuan bisa berkurang.” Kita sudah koordinasi bersam BPMPKB untuk mengawal selama ditangani Polres,” katanya.

Suharjono

Berita Lainnya...