Edisi 05-11-2016
Spirit Pancasila Mulai Luntur


YOGYAKARTA– Pemahaman anak bangsa akan urgensi nilai luhur Pancasila dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara dinilai telah luntur.

Hal itu pula yang menyebabkan berbagai perilaku intoleran dan diskriminatif, termasuk di bidang agama. “Menurut konstitusi UUD 1945, Pancasila sebagai dasar negara pada Sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Jadi walaupun merupakan agama mayoritas bangsa Indonesia, Islam tidak dijadikan agama negara.

Enam agama semuanya mendapat pelayanan negara sebagai agama yang dianut oleh kebanyakan warga bangsa. Sedangkan agama lain dibiarkan hidup dan dilindungi oleh negara,” ungkap Dirjen Bimas Islam Kemenag RI Prof Dr H Machasin dalam International Peace Symposium bertema “The Implementation of Pancasila in the Freedom of Religion as the Inspiration for the World” di UIN Sunan Kalijaga, kemarin.

Machasin menuturkan, dijaminnya hak beragama dalam Pancasila dan konstitusi lainnya tersebut seharusnya mampu menumbuhkan sikap toleransi antarumat beragama. “Sangat jelas, pasal 29 ayat (1) tertulis setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya.

Dan pasal 29 ayat (2) menerangkan, negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu,” tutur Machasin. Di Indonesia pun banyak daerah yang memiliki kebiasaan dan ajaran kemasyarakatan yang merupakan sikap positif terhadap keragaman dan kehidupan bersama secara harmonis di antara warga yang berbeda-beda afiliasi keimanan, maupun kesukuannya.

Misalnya, ajaran kemasyarakatan yang ada di Sulawesi Utara dan Maluku, semua orang bersaudara yang diungkapkan dengan istilah “katong bersaudara”. “Di Jawa Tengah dan Jawa Timur juga ada istilah sambatan dan gotong royong, di Ambon muncul istilah siwalima dan di Sulawesi Barat terdapat istilah sola sunggang. Di Maluku juga terdapat ikatanpeladangandong.

Pela berarti ikatan antara seseorang dengan tetangganya, sementara gandong berarti ikatan kekerabatan atau ikatan darah. Tidak peduli apakah tetangga kita beragama apa dan bersuku apa, kita terikat dengannya dalam menyelenggarakan kehidupan bersama dalam suka dan duka,” tuturnya.

Sementara Perwakilan AMC United State of America Maulana Azhar Haneef mengatakan, sangat penting bagi semua umat manusia untuk mendapat hak menjalankan kebebasan beragama. Kebebasan bukan hanya milik umat muslim, tapi milik semua orang yang ada di dunia.

“Tidak ada kekerasan dalam ibadah dan intervensi dari kelompok atau golongan lain. Karenanya prinsip kedamaian universal perlu ditegakkan. Kebebasan beragaman dan beribadah adalah prinsip dasar untuk mencapai keadilan di dunia. Prinsip Islam rahmatan lilalaminyang disampaikan oleh Rasulullah SAW pun menegaskan tiap manusia bebas beragama dan mempraktikkan ibadahnya,” papar Maulana.

Menurut dia, prinsip-prinsip dari pidato haji wada’ (haji perpisahan)Rasulullah SAW sama dengan prinsip Pancasila. Tuhan itu satu, dengan melaksanakan agama dan kepercayaan masing-masing. “Dengan itu akan muncul spirit kesatuan dan kemanusiaan umat manusia,” imbuhnya.

ratih keswara

Berita Lainnya...