Edisi 05-11-2016
Sultan Ajak Investor Dirikan Rumah Sakit


YOGYAKARTA – Gubernur DIY, Sri Sultan HB X mengisyaratkan akan menambah jumlah rumah sakit di wilayahnya. Penambahan itu untuk mengantisipasi lonjakan jumlah pasien peserta BPJS paska diintegrasikannya semua asuransi milik pemerintah pada 2019 mendatang.

Sultan mengatakan, pada 2019 mendatang, BPJS berencana mengintegrasikan seluruh asuransi yang ada terutama yang dibiayai pemerintah daerah (pemda) baik tingkat I maupun pemerintah tingkat II. Asuransi seperti Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda), Jaminan Kesehatan Perkotaan (Jamkesta), ataupun jaminan lain di bawahnya akan melebur menjadi satu dengan nama BPJS.

Tentujumlahnya akanmelonjak secara drastis dibanding dengan sekarang. “Tentu akan terjadi lonjakan,” tuturnya. Menurut Sultan, dengan pengintegrasian peserta asuransi pemerintah ke BPJS tersebut, maka jumlah kunjungan pasien akan bertambah. Rujukan akan semakin meningkat terutama di rumah sakit sekelas RSUP Sardjito.

Dia khawatir, rumah sakit Sardjito tidak akan mampu lagi menampung jumlah pasien dari daerah. Kondisi yang sama juga nanti akan terjadi di rumah sakit umum daerah (RSUD) masing-masing kabupaten/kota. Idealnya, pasien-pasien tersebut nanti konsentrasinya akan dipecah alias bisa dirawat di tempat lain.

Alternatifnya adalah menambah jumlah rumah sakit selain RSUP Sardjito. Dia berharap, kepada para investor untuk ada yang bersedia menanamkan modalnya untuk membangun rumah sakit. Ke depan akan mendapat profit sharing oleh pemerintah dari pengelolaan rumah sakit-rumah sakit tersebut.

Ajakan tersebut diajukan Sultan mengingat kemampuan keuangan daerah sangat terbatas. Untuk pembangunan fisik atau infrastruktur daerah, pemerintah hanya memiliki dana maksimal Rp15 triliun. Jika pemerintah harus mengajukan pinjaman ke perbankan, maka dia khawatir nanti pemerintah tidak bisa mengangsur cicilan ke perbankan tersebut sebagai akibat dari minimnya keuangan daerah.

“Oleh karena itu saya meminta agar ada pihak swasta yang bersedia bagi hasil dengan kami,” ujarnya. Sultan menambahkan, saat ini Kulonprogo sudah merencanakan akan membangun rumah sakit dengan skala cukup besar di wilayahnya. Rumah sakit tersebut memang dibangun untuk mengantisipasi berdirinya bandara baru, New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulonprogo.

Rumah sakit baru ini akan berdiri dengan standar layanan internasional karena untuk antisipasi turis asing yang tiba-tiba dan membutuhkan perawatan. Selain di Kulonprogo, dia memproyeksikan juga akan membangun rumah sakit yang sama di Prambanan. Dua rumah sakit ini didirikan juga untuk menampung pasien dari daerah lain seperti Kebumen dan Purworejo serta Klaten ataupun Boyolali.

Dia juga menawarkan kepada investor untuk mendirikan rumah sakit skala kecil, baik tipe B ataupun C. “RSUP Sardjito nanti bisa berkonsentrasi mengembangkan keunggulannya yaitu mengkhususkan diri ke penyakit jantung,” ungkapnya.

Kepala BPJS DIY Upik Handayani mengatakan, pemerintah sudah menargetkan untuk semua asuransi kesehatan yang dibiayai melalui anggaran pemerintah sudah bergabung menjadi BPJS pada 2019. Hal tersebut untuk mempermudah sistem administrasi serta kontrol terhadap jaminan yang diberikan oleh pemerintah.

Di samping untuk menghindarkan tumpang tindih kepemilikan. “Biar tidak ada tumpang tindih atau double penerima manfaat,” ungkapnya.

erfanto linangkung

Berita Lainnya...