Edisi 05-11-2016
Taman Herbal Makin Eksis di Tengah Kota


Dunia medis sudah tak asing lagi dengan bahan-bahan kimiawi. Bahan-bahan terkandung dalam produk obat-obatan hasil olahan pabrikan. Mudahnya mendapatkan obat-obatan ini, kerap membuat masyarakat “enggan” repot dan mengabaikan bahan-bahan herbal.

Padahal, kandungan bahan kimiawi jelas memiliki efek samping dalam jangka panjang. Namun demikian, selain soal kepraktisan, minimnya pengetahuan memadai membuat bahan dan obat herbal masih terabaikan. Tapi tentu saja tidak semuanya seperti itu. Setidaknya di RT 12 RW 05 Keparakan, Mergangsan, Kota Yogyakarta.

Di sini tidak kurang dari 303 tanaman dari 75 jenis tanaman seperti kencur, sirih, binahong, kunyit, dan sebagainya ditanam di pekarangan rumah warga. Fungsinya tentu saja tidak saja untuk bahan-bahan obat-obatan. Tanaman-tanaman ini sekaligus berfungsi sebagai ruang terbuka hijau yang memang sangat dibutuhkan masyarakat urban.

Di sini, tanaman-tanaman herbal itu sudah digeluti warga sejak beberapa tahun terakhir. Pusat kegiatan sekaligus lahan percontohannya (demonstration ploting ) adalah sebuah taman seluas 23 meter persegi yang ditanami oleh berbagai tanaman herbal dengan unggulan tanaman jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum rhizoma ).

Taman herbal yang dibangun di atas lahan pekarangan milik Suindarti Soehardjono ini, ditanami tak kurang dari 34 jenis tanaman herbal atau empon-empon . Selain itu, masih tersebar tanaman herbal lain di pekarangan rumah warga lainnya. Suindarti Soehardojo, salah satu pengelola taman sekaligus pemilik lahan pekarangan tersebut, emponempon atau tanaman herbal dipilih karena mampu menjadi alternatif dari obat-obatan kimiawi.

“Sejak dulu para leluhur telah memiliki bahan jamu tradisional yang juga memiliki daya penyembuh yang cukup andal yang dikenal dengan sebutan tanaman herbal. Karena itu perlu upaya untuk mengembangkannya, baik untuk kebutuhan sendiri maupun diperdagangkan,” ucapnya.

Dia menjelaskan, membuat tanam herbal tidak dilakukan secara instan. Sebelumnya warga telah melakukan perencanaan matang, dengan menginventarisasi calon jenis tanaman serta manfaatnya, kemudian melaksanakan kajian melalui buku-buku dan meninjau obyek percontohan.

Beberapa percontohan yang jadi rujukan antara lain Demplot pertanian Balatrans dan Demplot Pentingsari di Sleman, kemudian Kebun Tanaman Herbal di Ngestiharjo, Bantul. Warga juga rutin mengikuti berbagai perlombaan seperti Lomba Toga P2WKSS, serta lomba Taman Herbal Bejo.

Usaha warga RT 12 RW 05 ternyata tidak sia-sia. Dalam lomba Taman Herbal Bejo, Taman Herbal yang mereka bangun mampu mewakili Kota Yogyakarta maju ke tingkat provinsi serta meraih juara harapan 1 tingkat provinsi. Sukses warga RT 12 RW 05 membangun Taman Herbal tak lepas dari dukungan pemerintah baik kelurahan, kecamatan, hingga Pemerintah kota melalui Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian.

Peran ibu-ibu PKK pun mempercepat pemasyarakatan tanaman herbal. “Hasilnya tidak hanya terpusat dalam taman herbal saja, warga juga melakukan penanaman tanaman herbal ini di pekarangan rumahnya melalui berbagai cara, baik pot, polybag , maupun langsung di tanah,” katanya.

SODIK
Kota Yogyakarta

Berita Lainnya...