Edisi 05-11-2016
Target Alih Fungsi Lahan Harus di Bawah 100 Ha


SLEMAN – Pemkab Sleman menargetkan alih fungsi lahan di daerah tersebut di bawah 100 hektare (ha) per tahun. Untuk itu, berbagai langkah dilakukan guna mewujudkan hal tersebut.

Satu di antaranya dengan memasang papan pengendalian, terutama di enam desa yang sekarang menjadi kawasan urban. Pejabat pelaksana tugas (Plt) Kantor Pengendalian Pertanahanan Daerah (KPPD) Sleman Hendri Setiawan mengatakan pengendalian lahan ini penting. Sebab jika tidak, tentunya alih fungsi lahan di Sleman dipastikan akan terus bertambah.

Terutama di daerah urban. “Karena itu dengan adanya papan informasi itu diharapkan dapat menekan terjadinya alih fungsi lahan,” kata Hendri saat oemasangan papan informasi kawasan pertanian di desa Sinduadi, Mlati, kemarin. Hendri menjelaskan alih fungsi lahan sendiri diatur dalam peraturan daerah (perda) No 12/2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Sleman 2011-2051.

Dimana untuk pengaturannya sendiri, bukan hanya menjamin wilayah zona aman tetapi juga untuk mengamankan lokasi atau konservasi lahan. “Untuk tahun ini sudah terpasang 12 papan informasi di enam desa. Untuk seluruh Sleman lebih dari 200 yang dipasang,” paparnya. Menurut Hendri enam desa urban itu, tersebar di desa Sinduadi, Mlati, Sinduharjo dan Minomartani, Ngaglik, Balecatur dan Banyuraden, Gamping serta Wedomartani, Ngemplak.

Kepala desa (Kades) Sinduadi, Senen Haryanto mengatakan adanya pemasangan papan infomasi ini, selain menekan laju alih fungsi lahan, juga berdampak pada pengadaan pupuk. Termasuk sampai sekarang masih belum ada pelanggaran, karena yang mau membeli taanah menjadi berpikir dua kali sebelum akhirnya mundur teratur.

“Saya pikir pemasangan papan informasi ini terbilang efektif dan mendapat sambutan posittif dari masyarakat, terutama kelompok tani,” ungkapnya. Menurut Senen, dampak dari kawasan urban, menjadikan beberapa dusun di Sinduadi berubah dari kawasan pertanian menjadi kawasan perkotaan.

priyo setyawan

Berita Lainnya...