Edisi 27-11-2016
Konsep Semiprivat dan Hemat Energi


Anggota DPR RI Hetifah Sjaifudian menjadikan huniannya “semiprivat”. Dalam arti, rumah ini tak hanya menjadi tempat tinggal si empunya, tapi juga bisa didatangi bahkan didiami oleh orang lain. Pendapa yang ada di bawah rumah panggung Hetifah adalah sarana yang memungkinkan hal itu terjadi.

Dipendapa ini, Hetifah dan suami yang merupakan aktivis kerap mengadakan pertemuan atau diskusi dengan rekan mereka. Seperti sudah disebutkan, pendapa yang dijadikan layaknya aula ini memang berada di bawah bangunan yang disebut rumah kayu. Disebut demikian karena seluruh material bangunan ini terbuat dari kayu.

Se-mentara bangunan lain yang juga berada di kediamannya ini disebut rumah batu. “Rumah saya terbuka untuk siapa saja, bahkan pernah ditinggali oleh mahasiswa dari Kanada dan Brasil saat kami menjadi host parent. Menggantikan sementara anak saya yang sedang ikut pertukaran pelajar,” sebut Hetifah. Pendapa di rumah kayu milik politikus kelahiran 1964 ini pernah dijadikan tempat akad nikah seorang kerabat.

Adapun interior rumah dibuat sederhana dengan beberapa hiasan berupa pigura foto keluarga, lukisan putri Hetifah, dan barang-barang pemberian masyarakat saat politikus Partai Golkar ini sedang berkunjung ke sejumlah daerah di antaranya tudung topi pemberian warga Dayak di Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Dua bangunan rumah tersebut berdiri di atas tanah seluas 900 meter persegi.

Di dalamnya juga ditumbuhi berbagai jenis tanaman serta hewan peliharaan seperti kalkun dan beberapa jenis unggas lain. Pohon yang ditanam juga khas dan jarang dimiliki orang lain, yakni tanaman cantik berwarna pink bernama Pomeang. Pomeang merupakan jenis bunga yang ada di Bandung dan cuma tumbuh di sekitar Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), almamater Hetifah dan suaminya.

“Pohon yang sangat mengesankan karena berbunga saat mahasiswa baru ITB diterima. Jadi, anak baru di ITB disambut bunga itu. Ciri khas ITB lainnya ialah batubatu, juga tiang ini, seperti yang ada di ITB,” sebut Hetifah. Selain bentuk rumah yang unik dan terbuka untuk umum, hunian Hetifah juga mendukung konsep penghematan energi karena mempergunakan energi surya sebagai sumber energi listrik.

Ide ini muncul saat Hetifah melihat rumah yang ada di Australia. Wanita yang pernah kuliah di Negeri Kanguru itu juga menjadi pelopor penggunaan energi surya yang bekerja sama dengan PLN. “PLN menjadi power bank raksasa. Kalau siang hari energi disimpan di PLN. Kalau malam kita pakai, nanti kekurangannya baru bayar ke PLN.

Lumayan menghemat,” ucap ibu empat anak itu. Hetifah berharap banyak masyarakat mau mengikuti jejaknya sebagai investasi jangka panjang meskipun biayanya mahal di awal pembuatan. Bersama komunitas pengguna pembangkit listrik energi surya, ia mengampanyekan agar perusahaan atau BUMN memakai jenis pembangkit listrik ini.

Hetifah menyarankan agar Lembaga Elektronika Nasional memproduksi pembangkit listrik sendiri sehingga bisa lebih murah dan masyarakat dapat mempergunakan itu di rumah mereka. Rumah yang berlokasi di kawasan Cikaso, Kota Bandung, ini sudah menjadi rumah impian bagi Hetifah.

Meskipun saat ini hanya bisa satu bulan sekali berada di sana lantaran kesibukan sebagai anggota parlemen, Hetifah menganggap kediaman pribadinya merupakan tempat terbaik untuk mencari ide. “Kalau sudah pulang, refresh banget, dari udara sampai suasananya. Saya bisa mendapat inspirasi kalau sedang berada di rumah,” ujarnya, senang.

ananda nararya