Edisi 27-11-2016
Layani Pencairan JHT hingga Malam Hari


Semenjak syarat pengambilan dana Jaminan Hari Tua (JHT) dipermudah, yang terkena imbasnya adalah kantor cabang BPJS Ketenagakerjaan diserbu para peserta yang ingin mencairkan dana JHT-nya.

Bahkan hampir seluruh kantor cabang BPJS Ketenagakerjaan buka hingga malam hari. Masih jelas dalam ingatan Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Bogor Maman Miraz S saat Peraturan Pemerintah (PP) No 60 Tahun 2015 tentang Perubahan atas PP No 46 Tahun 2015 tentang JHT telah berlaku pada September 2015. Kantornya didatangi ribuan peserta BPJS Ketenagakerjaan yang ingin mengambil dana JHT.

Alhasil sejak subuh mereka telah memadati pintu gerbang untuk mendapatkan nomor antrean paling awal. ”Saat itu sudah terjadi gangguan sosial. Hal ini terjadi karena gedung yang tidak terlalu besar serta lahan parkir terbatas membuat akhir tahun lalu BPJS Ketenagakerjaan di Bogor layaknya pasar,” kenang Maman.

Tercatat hanya dalam dua bulan pada September dan Oktober 2015, sekitar 7.000 peserta dilayani BPJS Ketenagakerjaan ditangani di Bogor. Banyaknya peserta yang harus dilayani membuat BPJS Ketenagakerjaan buka hingga pukul 21.00. Hal ini dilakukan untuk mengurangi antrean pada besok hari.

Namun, meski sudah buka hingga malam hari, antrean pun masih panjang sehingga diputuskan untuk Februari 2016 dibuka pendaftaran antrean yang akan dilayani hingga 23 Juni. Daftar antrean ini berguna agar peserta mengetahui harus datang ke kantor BPJS Ketenagakerjaan sesuai dengan hari urutan mereka.

”Sebab sudah didaftarkan terlebih dahulu. Cara ini ternyata efektif untuk mengurangi kepadatan peserta di kantor, juga membuat nyaman mereka yang menunggu,” papar Maman. Fenomena yang sama juga terjadi di Kantor BPJS Ketenagakerjaan Cabang Kebon Sirih, saat September 2015 dan Oktober 2015, setiap harinya rata-rata mereka harus melayani pengambilan dana JHT dari 200 peserta.

Padahal kalau kondisi normal hanya 50 orang saja setiap harinya yang datang. ”Rata-rata kepemilikan dana JHT yang dicairkan dalam kisaran Rp10 juta-20 jutaan. Adapun masa kepesertaan kurang dari lima tahun,” ungkap Kepala Bidang Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan Kantor Cabang Kebon Sirih Kurnia Awaludin. Menurut Maman dan Kurnia, kondisi itu dipicu kurang pahamnya pekerja terhadap kepesertaan di BPJS Ketenagakerjaan.

Para pekerja tidak mengetahui kalau setelah mereka diberhentikan dari pekerjaannya masih berhak atas dana yang mereka miliki di BPJS Ketenagakerjaan. Kepala Divisi Komunikasi BPJS Ketenagakerjaan Abdul Latif Algaff mengaku tahun lalu peserta yang mengambil dana JHT membludak, tetapi dalam beberapa bulan terakhir kondisinya terus menurun. Secara rata-rata, klaim penarikan dana JHT pada Januari hingga Oktober cenderung stabil di kisaran Rp1,5 triliun. Padahal pada tahun lalu berada di kisaran Rp1,9 triliun.

Jika terus berlanjut hingga akhir tahun, pencairan JHT diperkirakan berkisar Rp18 triliun. Masih di bawah perkiraan tahun ini sebesar Rp22 triliun. Idealnya, lanjut dia, program kepesertaan JHT adalah untuk jangka menengah dan panjang. Peserta akan mendapatkan keuntungan yang lebih baik karena dana milik peserta diinvestasikan pada instrumen investasi yang pengembangannya mencapai 7,47% dengan yield of investment (YOI) per Oktober mencapai 10,23%.

ananda nararya/ hermansah/ rakhmat baihaqi