Edisi 27-11-2016
Mengawal Poros Maritim Dunia


Secara geografis, Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau 13.466, luas daratan 1.9 juta kilometer persegi, dan luas perairan 3.2 juta kilometer persegi.

Selain itu, posisi strategis NKRI juga berada di persimpangan dua samudra, yaitu Samudra Pasifik dan Hindia, serta dua benua, Benua Asia dan Australia. Sadar akan potensi geografis tersebut, Presiden Joko Widodo menggelorakan kembali era kemaritiman melalui visi strategis Poros Maritim Dunia untuk menjamin konektivitas antarpulau, pengembangan industri perkapalan dan perikanan, perbaikan transportasi laut, serta keamanan maritim.

Potensi tersebut juga berkaitan dengan peran geopolitik Indonesia yang memiliki empat dari enam choke point (selat sempit) jalur laut utama perdagangan dunia, yaitu Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok, dan Selat Makasar. Lebih lanjut, bergesernya pusaran ekonomi ke kawasan Asia-Pasifik akan meningkatkan volume distribusi barang menuju kawasan tersebut. Kondisi ini dapat bermuara pada ketergantungan negara-negara industri pada Indonesia yang dapat menjadi sebuah peluang sekaligus ancaman.

Kendati demikian, perwujudan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia bukanlah hal yang mudah. Rekayasa teknis-spasial semegah apa pun tidak akan berhasil tanpa didahului sebuah kesadaran yang mendalam untuk mengelola potensi kemaritiman Indonesia. Atas dasar itu, buku berjudul Kesadaran Baru Maritim: Biografi Laksamana TNI Dr Marsetio hadir pada saat yang tepat di tengah menggeloranya kembali semangat kemaritiman di Indonesia.

Buku ini membahas sosok Laksamana Marsetio yang dalam perjalanan kariernya sebagai saksi, sekaligus pelaku sejarah pada peristiwa-peristiwa penting di TNI AL yang sangat relevan dalam perkembangan lingkungan strategis kekinian. Sebagaimana dibahas dalam buku ini bahwa terdapat beberapa hal yang perlu dicermati terkait perkembangan lingkungan strategis kemaritiman Indonesia.

Pertama, realitas mutakhir geopolitik dan militer China sebagai the raising world power dengan ambisi strategis untuk menguasai Laut China Selatan (LCS). S ebagai bagian dari proyek raksasa Jalur Sutra Maritim (Maritime Silk Road) , upaya untuk menguasai LCS sebagai urat nadi transportasi laut di Asia, serta kesiapannya dalam menggunakan hard power di zona irisan teritorial dengan negara-negara ASEAN, menunjukkan semakin nyatanya kesungguhan China.

Lebih jauh, China secara sistematis membangun rasionalisasi historis atas manuvernya melalui konsep wilayah penangkapan ikan tradisional (traditional fishing ground). Dengan menggunakan nelayan sebagai proxy, militer Beijing didorong untuk masuk ke wilayah sasaran di LCS meskipun harus menjamah teritorial negara lain seperti insiden dengan TNI AL yang belum lama ini terjadi di perairan Natuna.

Namun, bagi China, dampak strategis yang melekat melampaui urusan illegal fishing karena semakin sering nelayan-nelayan tersebut beroperasi di wilayah sasaran, semakin besar pula kekuatan klaim yang dapat dilakukan. Kedua, sebagai upaya untuk membendung perluasan ekonomi dan pengaruh China yang terus menggurita di kawasan Asia-Pasifik, Amerika Serikat sejak 2009 menggagas rute perdagangan yang melibatkan 12 negara anggota dalam Trans Pacific Partnership (TPP), persekutuan ekonomi itu menguasai 40% ekonomi dunia dengan sekitar 800 juta penduduknya.

Baik Jalur Sutra Maritim maupun TPP menganggap kemitraan dengan Indonesia menjadi penting. Melalui hal ini, nyata sudah bahwa visi Poros Maritim Dunia berhadapan dengan dua kekuatan ekonomi dan pertahanan global. Pakar politik internasional, Hans J Morgenthau (1985), menyatakan bahwa pembangunan kekuatan pertahanan pada sebuah kawasan merupakan sebuah politik prestise yang berupaya menunjukkan kekuatan yang dimiliki oleh suatu negara dalam pergaulan internasional.

Tampaknya, politik prestise inilah yang secara terarah dan sistematis sedang dibangun oleh China dan Amerika Serikat di kawasan Laut China Selatan. Karena itu, dapat disimpulkan bahwa perkembangan lingkungan strategis di perairan Indonesia sebagai Sea Line of Communication (SLOC) dibayangi oleh pertarungan kepentingan Amerika Serikat dan China, yang juga melibatkan beberapa negara besar lain. Atas dasar itu, kehadiran TNI Angkatan Laut kelas dunia merupakan hal yang mutlak diperlukan, sekaligus tepat sasaran.

Selain itu, sebagai upaya mengawal visi Poros Maritim Dunia agar tidak tenggelam oleh kekuatan Jalur Sutra Maritim China dan TPP yang digagas Amerika Serikat, kehadiran TNI Angkatan Laut sebagai pemain yang disegani dengan kemampuan untuk terusmenerus beroperasi di perairan kedaulatan Indonesia menjadi sebuah keniscayaan. Sebagaimana yang diulas dalam buku ini, yaitu untuk berada dalam kategori Blue Water Navy .

Buku ini mengulas secara mendalam peran Laksamana Marsetio pada momen-momen bersejarah penting TNI Angkatan Laut dalam menghadapi persoalan dengan bangsa lain untuk menghadirkan kapal-kapal kombatan dalam konteks diplomasi pertahanan, dimulai dari narasi atas manuver Gun Boat Diplomacy saat memanasnya Timur- Timor, upaya strategis mengawal pembangunan Mercusuar Karang Unarang di Ambalat, hingga operasi khusus lintas samudra ke Somalia yang untuk pertama kalinya sebuah operasi khusus diselenggarakan sangat jauh dari wilayah yurisdiksi nasional.

Selanjutnya, sebagai mantan KASAL, buku ini memaparkan pemikiran Laksamana Marsetio mengenai pentingnya Indonesia memiliki TNI AL kelas dunia atas dasar kondisi geografis Indonesia dan perkembangan lingkungan strategis di tengah keinginan Indonesia untuk menjadi Poros Maritim Dunia. Akhirnya buku ini dapat mengisi dan melengkapi literatur untuk menggugah kesadaran maritim di NKRI serta peran TNI Angkatan Laut Indonesia dalam mewujudkan visi Poros Maritim Dunia.

Sebuah buku biografi seorang pemimpin yang gagasan dan kebijakan strategisnya memengaruhi roda organisasi serta meraih berbagai prestasi dan penghargaan di tingkat nasional maupun internasional sangatlah patut untuk dibaca oleh masyarakat luas, khususnya bagi mereka yang ingin mendalami studi kemaritiman.

M Reza Husain MSi
Magister Fakultas Strategi Pertahanan,
Program Studi Peace and Conflict Resolution,
Universitas Pertahanan, alumnus dari Naval Post Graduate School,
Monterey, USA.