Edisi 27-11-2016
Otomatisasi Pertanian Kian Meluas


Tidak lama lagi, ladang pertanian kita dapat dibajak, disemai, dipupuk, dan dipanen seluruhnya oleh armada mesin yang bekerja secara otonom di darat dan udara.

Mesin-mesin itu pun dapat bekerja sepanjang siang dan malam. Traktor-traktor dengan pengemudi yang tak pernah lelah dapat melalui rute-rute yang telah diprogram sebelumnya di berbagai lahan pertanian luas di penjuru dunia. Sejumlah drone juga akan terbang di atas lahan pertanian untuk menilai kesehatan tanaman dan kondisi tanah.

Sensor-sensor di tanah terus memantau jumlah air dan nutrisi di tanah, mengatur irigasi dan pemberian pupuk. Dan di Jepang, ladang selada pertama di dunia yang seluruh prosesnya otomatis akan dibuka tahun depan. Semua perkembangan itu kian menegaskan bahwa masa depan pertanian akan otomatis seluruhnya. Bank Dunia menjelaskan, manusia perlu memproduksi 50% makanan lebih banyak pada 2050 saat populasi global terus meningkat pada level saat ini.

Meski demikian, dampak perubahan iklim dapat mengakibatkan panen hasil pertanian terus turun hingga lebih dari seperempat. Jadi, adanya traktor-traktor otonom, sensor-sensor di tanah, drone yang terbang dan pertanian hidroponik seluruhnya, dapat membantu para petani memproduksi lebih banyak makanan secara berkelanjutan dengan biaya lebih rendah. Tidak mengherankan jika sektor robotik pertanian tumbuh sangat cepat.

”Pasar sektor robotik pertanian akan tumbuh dari USD817 juta pada 2013 menjadi USD16,3 miliar pada 2020,” ungkap pernyataan perusahaan Amerika Serikat (AS) WinterGreen Research. Meski demikian, bank investasi Goldman Sachs memprediksi pasar sektor robotik pertanian sebesar USD240 miliar selama lima tahun mendatang.

Sejumlah perusahaan termasuk John Deere, CNH Industrial dan AGCO semua bersaing merebut pasar untuk traktor tanpa pengemudi. Selain produk-produk mesin berat, para petani juga mulai memanfaatkan layanan data tentang kondisi tanah dan produk mereka secara online . ”Ini internet lahan pertanian dan tanaman,” papar Dr Roland Leidenfrost dari Deepfield Robotics.

Startup Bosch, Deepfield, yang berbasis di Jerman terus menciptakan sistem otomatis untuk menanam dan menguji benih tanaman, melacak kerentanan terhadap gulma dan kekeringan pada beragam varietas genetik. Adapun para peneliti di Shropshire, Inggris mencoba menunjukkan kemungkinan mengelola lahan pertanian tanpa seorang manusia pun yang menginjakkan kaki di lahan tersebut.

Proyek yang mereka sebut Hands Free Hectare ituakanmenggunakan drone-drone yang terbang dan traktor-traktor otomatis tahun depan untuk menanam dan memanen tanaman sereal atau biji-bijian. Para pakar dari Universitas Harper Adams bekerja sama dengan perusahaan teknologi pertanian North Yorkshire, Precision Decisions, sedang menguji sejumlah mesin prototipe dan akan menanam tanaman mereka pada Maret mendatang untuk dipanen September tahun depan.

Memang sulit membayangkan sektor pertanian paling tradisional dalam proses pembuatan minuman wine, juga turut memasuki proses otomatisasi. Para pembuat wine saat ini telah menggunakan drone untukmemeriksakebun anggur mereka. Penggunaan drone itu telah mereka lakukan selama beberapa tahun terakhir.

Mereka menggunakan kamera definisi tinggi dan berbagai sensor untuk menilai kondisi kesehatan tanaman anggur dan tanah. Di wilayah Burgundy, Prancis, keterbatasan tenaga kerja di bidang pertanian telah mendorong seorang penemu Christophe Millot mengembangkan robot pemangkas pohon anggur yang disebut Wall-Ye.

Perusahaan Jepang, Spread, saat ini telah mengotomatisasi pabrik sayurannya di Kyoto dan akan diluncurkan tahun depan. ”Pabrik ini dapat menghasilkan 30.000 selada per hari,” ungkap pernyataan Spread. ”Ini membentang ke atas, bukan mendatar karena di negara seperti Jepang, lahan merupakan sumber daya yang langka sehingga lebih cocok untuk membuat produksi Anda seperti di dalam gedung pencakar langit,” ujar JJ Price, global marketing manager Spread.

Kembali ke lahan pertanian terbuka umumnya, drone-drone dapat memantau tingkat pertumbuhan tanaman, penyakit dan bahkan menyemprot tanaman dengan pestisida dan herbisida. Menurut Organisasi Buruh Internasional (ILO), tenaga kerja pertanian terus menurun dari 81% pada 1950 menjadi 48,2% pada 2010 di negaranegara berkembang, dan dari 35% menjadi 4,2% di negara-negara maju. Robot pertanian tentu akan menutupi penurunan tenaga kerja tersebut dan meningkatkan produksi pertanian.

Syarifudin