Edisi 27-11-2016
Perjalanan Mencari Makna


Makna atau nilai adalah sesuatu yang diberikan untuk manusia individual maupun kelompok budayanya pada tindakan, karya, putusan hidup setelah diolah dan ditimbang dalam cerahnya kesadaran akal budi dan beningnya nurani serta merdekanya kehendak.

Makna, dimensi kualitas yang diberikan manusia berkat kesadaran budinya serta tanggung jawab nuraninya untuk memahami realitas dan menjadikannya acuan buat ziarah hidupnya. Maka itu, hanya manusialah yang mampu misalnya mengambil air lalu memasaknya untuk memakainya sebagai minuman yang sehat. Sehat inilah makna yang diolah, diberikan manusia pada proses budaya masak-memasak air.

Manusia pulalah yang tidak hanya cukup memakai penutup tubuh (yang bernama pakaian) dalam fungsi manfaat saja, tetapi ia memberi dimensi kualitas dengan makna estetis, indah, bermode, lalu meminta perancang busana memberinya nuansa makna indah di samping fungsional penutup tubuh tadi. Dalam penelitian antropologi budaya, Clifford Geertz menegaskan siapa manusia dalam menziarahi makna kebudayaannya.

Manusia adalah makhluk yang selalu merajut gambaran dunianya (jagatnya) berdasarkan makna yang berfungsi; di satu pihak sebagai wawasan jagat untuk memahami kenyataan yang dialaminya dan di lain pihak berperan sebagai acuan mengenai bagaimana ziarah hidup dalam realitas itu harus dijalani. Dalam jagat makna inilah manusia menjalani hidupnya dan menafsirkan keberadaannya.

Geertz bahkan mampu menunjukkan empat tingkat ziarah rajutan makna manusia dalam kebudayaannya dari yang paling realis sampai ke tingkat kesadaran yang makin diasah dan tercerahkan. Empat tingkatan rajutan makna itu adalah common sense, di mana dunia sekeliling didiami dan diterima sebagai ”benar” begitu saja. Tidak dibuat pembedaan antara gejala yang menampak (seeming ) dan wujud dari gejalagejala itu (being).

Pandangan dunia common sense pragmatis untuk pemenuhan kebutuhan riil seharihari. Lapis kedua rajutan makna adalah ilmu pengetahuan yang oleh Geertz dinamai realisme kritis lantaran realitas dipertanyakan dengan kesadaran ”distansi” (berjarak) refleksi akal budi. Pada tingkatan ini manusia membuat distingsi atau pembedaan antara gejala dan wujud, antara seeming dan being. Lapis ketiga adalah estetika.

Dalam pandangan dunia estetika ini ”jarak” yang dalam common sense tidak dilihat dan yang dalam ilmu pengetahuan dipertajam, kini jarak itu diabaikan sama sekali. Bertemunya manusia dengan gejala-gejala justru ditingkatkan begitu intens hingga ia terserap tuntas ke dalamnya. Di sini kontemplasi penuh mengenai rasa dihayati kuat-kuat dalam menghayati hidup.

Lapis keempat adalah agama, yang oleh Geertz di-taruh dalam paparan khusus dalam bandingan tiga tingkatan lainnya. Bila common sense, orang mengiyakan kenyataan seharihari, dalam agama orang akan mencari realitas yang benar, lebih sejati bahkan yang paling akhir yang bisa menjadi ukuran dan acuan bagi kenyataan hidup sehari-hari (ultimate realities). Agama berbeda dari ilmu pengetahuan karena ilmu pengetahuan mempertanyakan kenyataan sehari-hari berdasar konsep abstraksi hipotesis akal budi.

Sedang agama mempertanyakan berdasar kebenaran-kebenaran ”akhir”, perwahyuan, kebenaran kategoris. Adanya empat tingkatan jagat makna atau pandangan dunia ini akan memungkinkan bahwa krisis makna pada lapisan yang satu masih bisa diselamatkan pada lapisan yang lain.

Sehingga, orang yang krisis makna dalam agama masih bisa mendapatkan pegangan pada ilmu pengetahuan, sedangkan yang kehilangan makna di ilmu pengetahuan masih bisa bersandar pada dunia estetika atau seni. Namun, batas terakhir krisis makna dalam common sense. Artinya, orang tidak akan mampu survive atau melangsungkan hidupnya secara normal bila tanpa common sense sama sekali.

Krisis makna dalam common sense akan menyebabkan dunia (dan realitas hidup) chaos, tanpa arti, dan tanpa makna serta tak mungkin diberi arti lagi. Inilah krisis budaya, krisismaknapada basis rajutannya. Dari paparan di atas, kita bisa mencatat dua butir penting dan hakiki dalam jagat makna, yaitu unsur pentingnya kesadaran dan apa yang diterima, dihargai, dihayati sebagai kualitas, makna atau sebagai yang ”benar”, yang sejati.

Karena soal ”benar” dalam jagat makna manusia sebetulnya berlapislapis, amat kontekstual berkait dengan pandangan dunia penganut-penganutnya dan amat menyatu dengan orientasi kesadaran kosmologis (jagat makna) orang-orangnya. Dalam pandangan dunia ekologis dan satu roh dengan alam, ”benar” dihayati sebagai penyelarasan, harmonisasi dengan alam, mendialogkan semua karya budaya dan tindakan hidup dengan roh alam.

Dalam pandangan dunia mitis, ”benar” dihayati sebagai hormat pada tata mitis, berjiwa dari segala sesuatu. Bila pandangan dunianya fungsional, maka ”benar” diartikan sama dengan efektivitas dalam fungsi. Bila utilitaris, pragmatis praktis, ”benar” diartikan dan dihayati sebagai yang bermanfaat.

Bila pandangan dunianya ekonomis, makna produktivitas dan hasil keuntungan menjadi nomor satu. Bila politis, kebenaran yang dipegang adalah stabilitas, keamanan masyarakat, serta status quo berlangsungnya terus kekuasaan yang sedang diragakan. Dari lapis-lapis kebenaran yang tersaji di atas sudah langsung kita tangkap bahwa sebuah jagat makna yang sehat kalau dihubungkan dengan kosmologi (pandangandunia) sudahmengandaikan dialog panjang lapislapis kebenaran tadi,

hingga bisa disepakati kebenaran dialogal konsensual yang diacu bersama dan disepakati memberi hak hidup bagi semua lapis-lapis jagat makna penganut-penganutnya. Bahkan bahaya yang langsung terjadi adalah klaim kelompok yang memutlakkan kebenaran pandangan dunianya dan lapis jagat maknanya sebagai satusatunya kebenaran lalu yang lain tidak diberi hak hidup.

Dengan kata lain, terjadilah apa yang dinamakan sebagai ”ideologisasi”, artinya, pemutlakan pandangan dunia satu lapis dan diteguhkan kebenarannya dengan pembenaran-pembenaranyangdidukungolehkekuasaan yang memanipulasi jagat-jagat makna lain. Misalnya memanglimakan kebenaran iptek sebagai satu-satunya yang mutlak tanpa dialog dengan ”kebenaran-kebenaran” lain, entah seni, humaniora, atau common sense rakyat biasa.

Di sinilah misalnya dalam peradaban dunia modernisme versus postmodernisme masuk dalam kritik kebudayaan, di mana postmodernisme bereaksi terhadap kecondongan modernisme yang ”memusatkan dan memonopoli tafsir kebenaran” (centering of truth) lalu postmodernisme memperjuangkan arus budaya lawannya, yaitu decentering of truth.

MUDJI SUTRISNO SJ
Guru Besar STF Driyarkara,
Dosen Pascasarjana UI,
Budayawan