Edisi 27-11-2016
Untuk Kebutuhan Sehari-hari hingga Buka Usaha


BeberapabulanterakhiriniRohayah, 29, warga Gunung Putri, Kabupaten Bogor, gelisah lantaran kebutuhan seharihari keluarganya kian berat untuk dipenuhi. Semenjak sang suami habis masa kontrak kerjanya sebagai satpam, biaya kebutuhan sulit tercukupi.

Meski sang suami sudah menjadi pengemudi ojek online,penghasilannya dirasa belum cukup untuk membeli susu formula bagi anak keduanya yang berusia2tahun. Beruntung, Tinisang sahabat mengingatkannya akan dana Jaminan Hari Tua (JHT) dari BPJS Ketenagakerjaan. Maklum, Tini yang juga teman Rohayah saat di pabrik garmen sudah mencairkan dana JHT beberapa waktu lalu.

”Lumayan juga, saya kerja 2 tahun dapat 4,1 juta. Saya bilang ke dia untuk ambil saja JHT-nya. Bisa untuk nambah-nambah atau modal jualan,” ujar Tini yang juga ikut menemani Rohayah mengambil JHT di Kantor BPJS Ketenagakerjaan Cabang Bogor. Rohayah pernah bekerja sebagai operatormesindisebuahpabrikgarmen di Gunung Putri, Bogor.

Dia pun bersyukur ada dana JHT yang bisa membantu untuk membeli susu formula si kecil dan kebutuhan anak lainnya. Jika Rohayah mencairkan dana JHT untuk kebutuhan sehari-hari, beda dengan Fitri yang usianya baru menginjak 36 tahun. Dia mengaku mencairkan dana JHT untuk keperluan membuka usaha fotokopi. Begitu juga dengan Steviani yang juga baru berusia 35 tahun, dia mengambil dana JHT miliknya karena terdesak oleh kebutuhan sehari-hari.

”Saya kerja 10 tahun, sudah 5 tahun tidak bekerja lagi. Ditahan tidak diambil tapi sekarang lagi butuh jadi ya harus diambil,” katanya. Wakil Ketua Umum DPP Serikat Pekerja Nasional (SPN) Joko Heryono mengatakan, fenomena banyaknya peserta yang mengambil dana JHT di usia muda dikarenakan selain aturan yang membolehkan, juga benefit atau manfaat yang dirasakan peserta kurang maksimal.

Karena itu banyak dari mereka yang berpikir daripada disimpan di JHT dengan imbal hasil yang hanya sedikit lebih tinggi dari deposito, lebih baik untuk kebutuhan sehari- hari atau bagi mereka yang melek investasi akan ditaruhnya di instrumen yang lebih menguntungkan seperti reksa dana saham. Melihat fenomena ini, menurut Joko, harusnya dibuat aturan yang tegas agar pengambilan dana JHT baru bisa dilakukan pada usia 55 atau 56 tahun sehingga makna program JHT benar-benar terimplementasikan.

”Kalau sekarang kan karena aturannya mudah jadi yang mengambil usia muda banyak sekali. Tapi kalau aturannya diperketat, jadi masa pensiun baru mengambil akan bagus sekali. Namun manfaat yang diterima peserta benar-benar terasa,” tegas Joko. Pengamat investasi Budi Frensidy mengatakan, fenomena banyaknya peserta BPJS Ketenagakerjaan yang mengambil dana JHT pada usia produktif dikarenakan kebutuhan likuiditas yang tidak bisa dihindari.

Dengan kejadian ini, menurut Budi, program JHT yang dicanangkan pemerintah untuk kesejahteraan hari tua para pekerja tidak akan tercapai. Apalagi aturan yang dibuat juga membolehkan para peserta bebas mengambil dana JHT miliknya. ”Jadi aturannya juga harus dipikirkan agar tidak semudah itu untuk mengambil JHT di usia muda,” kata Budi.

hermansah/ananada nararya/rakhmat baihaqi