Edisi 27-11-2016
Belajar Mengenal Wayang


Ratusan pelajar Sekolah Menengah Umum (SMU) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) memadati ruang auditorium, Gedung B, Museum Nasional. Mereka hendak belajar wayang pada dalang kondang Adi Konthea dan I Made Sidia.

Namun, sebelum menyaksikan pementasan wayang Golek asuhan Kang Adi dan wayang Listrik karya I Made, para pelajar yangberasaldari belasansekolah asal Jabodetabek itu terlebih dulu diperkenalkan dengan sejumlah tokoh dalam wayang. Sebagian siswa tampaknya sudah tak asing lagi dengan tokoh seperti Bima, Arjuna, Hanoman, Ramayana, Kurawa, Drupadi, dan Abimayu.

Namun, sebagian dari mereka tidak mengenal satu tokoh pun ketika ditanya. Setelah pengenalan singkat mengenai tokoh-tokoh dalam pewayangan, para siswa juga mengikuti lomba video blog (vlog) wayangbertemaRamayana. Pada sesi ini para pelajar membentuk formasi lingkaran sesuai asal sekolah mereka masing-masing. Dibimbing oleh dua tutor dari Sanggar Paripurna asuhan I Made, masing-masing kelompok belajar memainkan kisah Ramayana.

Dua siswa memainkan karakter Hanoman (kera sakti) dan Rahwana. Siswa yang lain mengiring aksi dua aktor dengan decak melodi; siri yang eyang eyango, siri yang eyang eyango sahut-bersahutandengan nyanyian po po po po. Setelah berjajar selama lima menit, tiap-tiap kelompok memainkannya kembali untuk mendapat penilaian. Hasilnya, kelompok asal sekolah Estrada dinyatakan sebagai kelompok yang sangat kompak, disusul SMU 34 Serang.

Meski ada yang tidak mendapat pujian, mereka semua tampak larut dalam keceriaan memainkan lakon Ramayana. Acara yang melibatkan ratusan pelajar tersebut merupakan rangkaian program Wayang for Student yang diselenggarakan secara rutin oleh BCA. Program ini bertujuan untuk mengedukasi sekaligus memperkenalkan wayang kepada para siswa, calon pemimpin masa depan.

Hadir menyaksikan acara ini antara lain Direktur PT Bank Central Asia (BCA) Tbk Suwignyo Budiman, General Manager Corporate Social Responsibility BCA Inge Setiawati, Ketua Union Internatioale de Marionette (Unima) T A Samodra Sriwidjaja, serta Kepala Museum Nasional Intan Mardiana. Wayang, menurut Suwignyo Budiman, perlu diwariskan kepada generasi muda. Dalam wayang terkandung nilai-nilai yang menuntun perilaku.

”Wayang sangat efektif untuk menyampaikan pesan moral. Kami menyadari pelajar merupakan generasi muda yang akan meneruskan keberadaan wayang sebagai kekayaan budaya Indonesia. Hal inilah yang mendorong kami untuk menghadirkan kegiatan-kegiatan wayang di tengah generasi muda seperti Wayang for Student hari ini. Program ini bertujuan agar para pelajar lebih mengenal kekayaan budayanya sendiri,” kata Suwignyo di Museum Nasional, Jakarta (24/11), kemarin.

Dia mengisahkan, sejak kecil dirinya suka menonton wayang. Menonton wayang menjadi satu kesatuan dengan kehidupan setiap hari. Sekarang ini hal tersebut sudah tidak lagi. Padahal, wayang salah satu kekayaan budaya Indonesia yang sudah diakui UNESCO. ”Wayang kebanggaan kita. Kita haus mempertahankan kekayaan budaya ini. Semoga kita bisa melestarikan budaya kita,” tuturnya.

Wayang for Student merupakan kesinambungan upaya dalam memperkenalkan wayang kepada generasi muda. Sebelumnya, Wayang for Student digelar selama lima hari, yakni 16 - 17 dan 22 - 24 September 2016 di Semarang. Menurut Suwignyo, saat ini keterlibatan generasi muda dalam budaya wayang masih minim.

Ini membuat wayang kurang berdaya dalam merebut ruang dan perhatian anak-anak muda Indonesia. ”Kehadiran Wayang for Student diharapkan dapat terus mendorong generasi muda Indonesia untuk lebih mengenal, mencintai, dan tergerak untuk melestarikan budaya bangsa yang telah diakui dunia ini,” tambah Suwignyo.

Wayang Listrik

Setelah belajar memainkan lakon Ramayana dan mengikuti lomba vlog, para siswa disuguhi pementasan wayang golek dari dalang Adi Konthea dan wayang listrik karya I Made. Wayang listrik (shadow play) merupakan perpaduan apik wayang kulit dan wayang orang. Wayang listrik menggunakan elemen-elemen pertunjukkan modern saat pertunjukan wayang.

Elemen itu misalnya proyektor untuk menampilkan rekaman video dan gambar-gambar digital sebagai latar belakang. Sementara dari sisi musik, Made menggabungkan gamelan dan alat musik modern seperti drum dan gitar. Karena kreasinya yang begitu apik, wayang ciptaan Made lebih mirip sebuah film. Inovasi ini membuat penonton tidak jenuh, lebihlebih penonton usia pelajar.

Dalam berbagai pementasan di luar negeri, wayang listrik selalu mendapat apresiasi. Ketua Union Internatioale de Marionette (Unima) T A Samodra Sriwidjaja mengakui wayang selalu mendapat tempat di mata dunia. Dalam setiap festival wayang internasional, Indonesia selalu mendapat pujian. ”Wayang listrik pernah memenangkan festival internasional.

Karena kemenangan itulah, pada 2020 festival wayang internasional akan diselenggarakan di Indonesia,” kata Samodra. Tahun ini dalang-dalang yang sudah memiliki nama dan terkenal di masyarakat seperti Adi Konthea dari Sunda dan I Made Sidia dari Bali dilibatkan dalam program Wayang for Student.

Atas keterlibatan tersebut, I Made sendiri merasa bangga. Made berjanji akan terus berinovasi demi melestarikan wayang. ”Anak-anak saat ini perlu mengenal wayang. Saya sangat senang dilibatkan dalam acara ini,” kata Made.

donatus nador