Edisi 27-11-2016
Berbagi Sejarah Islam lewat Buku dan Film


Semua orang bisa berdakwah dan mengenalkan sejarah Islam dengan cara apa pun. Termasuk melalui buku dan film, yang ternyata lebih dapat dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat. Melalui novel 99 Cahaya di Langit Eropa yang langsung melejit menjadi buku best seller, Hanum Salsabiela Rais ingin melakukan hal itu.

Tak cukup diedarkan sebagai novel, tulisan yang sesungguhnya merupakan kisah perjalanan Hanum dan sang suami di Eropa itu diangkat ke layar lebar dan menjadi film box office. Hanum berkomitmen akan terus bercerita mengenai sejarah Islam melalui tulisan-tulisannya. Apa yang mendasari hal tersebut? Simak penuturan wanita kelahiran 1981 itu kepada KORAN SINDO berikut ini.

Bagaimana kesan Anda, novel serta film karya Anda sukses di pasaran dan bagaimana prosesnya sehingga novel tersebut difilmkan?

Bersyukur sekali kepada Allah SWT novel best seller dan filmnya juga box office.Mungkin karena banyak pembaca yang merasa banyak manfaatnya, juga terinspirasi, makanya produser ada yang mau angkat (novel) ini ke layar lebar. Dijadikan film merupakan sebuah bonus bagi saya.

Bagaimana awal Anda menjadi penulis?

Menulis menjadi hal baru untuk saya. Saya seorang dokter gigi. Setelah selesai, saya ikut suami ke Jakarta, menunggu untuk mengabdi kepada masyarakat, ditempatkan di daerah pelosok. Saya iseng melamar menjadi jurnalis di sebuah stasiun TV swasta. Ternyata diterima. Tiga tahun saya menjadi jurnalis TV.

Di situ saya sadar saya bisa menulis karena harus membuat naskah berita. Saya akhirnya suka menulis. Setelah ikut suami kuliah di Austria, saya makin sering menulis mengenai perjalanan kami di sana. Karena hidup di sana berbeda. Susah cari pekerjaan, bahasa menjadi kendala. Jadi saya isi waktu luang dengan menulis.

Novel Anda bercerita tentang cerita kehidupan Anda saat menemani suami kuliah, dibumbui oleh sejarah Islam di Eropa. Apakah memang Anda menyukai sejarah Islam dan gemar mengunjungi tempattempat bersejarah Islam di sana?

Hahaha... awalnya tidak. Jadi setelah meluncurkan buku mengenai ayah saya, Mas Rangga (suami Hanum) berinisiatif untuk membuat kisah kami selama di Eropa, enam bulan sebelum pulang sebagai kenang-kenangan buat kami juga. Pada 2010-2011 cerita traveling sedang booming.Awalnya kami ingin buat seperti itu. Mas Rangga bilang, kami harus buat buku traveling yang beda. Akhirnya terpikir untuk membuat buku traveling peradaban Islam, belum pernah ada sebelumnya.

Saya suka sejarah dan mengunjungi tempat bersejarah, berawal dari ibu saya yang mengunjungi saya di Austria. Beliau mengajak saya ke Cordoba dan Andalusia, setahun sebelum saya pulang ke Indonesia. Diajak ibu malah senang. Akhirnya saya dan Mas Rangga meneruskan perjalanan hingga ke Turki. Saya jadi jatuh cinta dengan cerita sejarah mengenai peradaban Islam di Eropa.

Dalam film Anda juga terselip nilai-nilai kebaikan dalam Islam atau Anda juga berdakwah di tengah situasi yang memanas dan banyak yang menyudutkan Islam. Bagaimana Anda melihat itu?

Komitmen saya dan suami ingin membuat sesuatu yang penuh arti dan nilai kebaikan dalam setiap karya kami. Karena sebelum saya hamil ini, kami sebelas tahun berumah tangga belum dikaruniai anak. Kami sudah ikhlas jika memang kami tidak memiliki anak dan berkomitmen hidup kami berdua untuk dakwah saja, dengan apa yang kami bisa.

Ya sama saja, melahirkan buku dan film kan juga abadi, jadi harus berguna. Komitmen kami jangan asal-asalan membuat karya. Namun, di balik itu harus ada hikmah, nilai dakwah di antara fenomena Islam sekarang. Tapi, jujur, saya tidak tahu juga kenapa momentumnya selalu pas. Kita semua tidak menyangka, waktu film Bulan Terbelah di Langit Amerika bagian pertama, tema yang diangkat apa jadinya dunia tanpa Islam? Mengenai kasus terorisme yang selalu menyudutkan Islam, itu diluncurkan 17 Desember tahun lalu.

Pertengahan November ada insiden bom Paris. Film ini hadir seperti menjawab itu. Sekarang ketika bagian keduanya akan diluncurkan di tengah momen Pilkada DKI yang memanas, juga ada peristiwa pembantaian etnis Rohingya di Myanmar dan etnis muslim di China. Film ini membahas mengenai etnis Tionghoa muslim. Mencoba mempersatukan masyarakat yang terbelah, di mana di China ada komunitas muslim Hui yang memiliki nenek moyang pelaut hebat, Cheng Ho, Chao Man.

Sayang, kaum muslim Hui dan Uyghur saat ini sangat termarginalkan di China. Muslim Hui dulu pernah berlabuh di Amerika, jauh sebelum Colombus dan berasimilasi bersama penduduk setempat. Hal tersebut membuktikan sudah ada kontak antara muslim dengan Amerika sejak dulu kala.

Apa harapan Anda terhadap pembaca ataupun penonton yang sudah menikmati karya Anda?

Saya tidak punya harapan apa pun, apalagi sampai berharap orang dapat berubah setelah menikmati karya saya. Tapi, buat saya, orang paham pesan yang kami sampaikan melalui film dan buku saja, saya senang. Terlebih mereka bisa menikmati dan mengambil hikmah.

Apa menjadi Hanum yang sekarang merupakan impian Anda selama ini?

Dulu tidak, tapi sekarang jadi punya impian lebih dan diteruskan. Sudah tidak lagi kepikiran mau jadi jurnalis atau dokter gigi walaupun saya ingin menjadi wanita karier yang kantoran gitu. Tapi, sekarang saya jadi penulis, ya bersyukur. Hobi yang menghasilkan dan menulis sudah seperti kebutuhan.

Impian yang belum tercapai atau ke depan mau membuat apa lagi?

Ingin menjadi ibu terbaik untuk anak saya. 35 tahun saya hidup untuk diri saya sendiri. Sekarang waktunya untuk orang lain, yaitu anak. Ibu rumah tangga sambil menulis dan membuat film.

ananda nararya