Edisi 27-11-2016
Bidikan sang Pemotret Waktu


MERENUNGI foto-foto Hasiholan Siahaan, jurnalis foto KORAN SINDO yang Jumat (11/11) lalu meluncurkan buku fotografinya yangpertamadiAnjungan Sumatera Utara TMII, seperti membaca memoar Orhan Pamuk dalam bukunya, Istanbul, Kenangan Sebuah Kota.

Bang Olan, demikian ia biasa disapa, tak sekadar memotret, tapi lewat karya fotografi ia bercerita. Macam-macam ia bercerita; tentang batu, perahu, hariara, anak-anak, senja, kampung tua di pedalaman Toba, percakapan malam hari, jalanan sunyi, wajah- wajah, kenangan masa kecil, kegembiraan, harapan, kesedihan, dan sebagainya.

Seperti halimun di kaki Pusuk Buhit, kenangan dan fakta historis berbaur dengan mitologi, legenda, ritus, dan tragedi. Foto-foto itu tak lagi sekadar dokumentasi fotografis. Tapi, menjadi rekaman etnografis, bahkan jejak mistis, yang mengantarkan banyak tafsiran. Ia kemudian menghadirkan ruang metafisik. Apa yang tampak bukanlah sebagaimana yang terlihat. Olan, yang dalam perjalanannya sepuluh tahun, mencari dan menyusuri sejarah dirinya, sejarah Toba, kemudian melebur dalam imaji-imaji yang nonturistik.

Tapi, seperti kata Annett Kuhn, ”Ingatan pada sebuah potret tidaklah muncul dari imaji itu sendiri, melainkan terpancar dari diskursus intertekstual yang bergerak antara masa lalu dan masa kini, di antara konteks budaya dan momen sejarah”. Pameran foto dan peluncuran buku fotografi Olan, jurnalis rendah hati yang bersuara lirih itu, pada 11-13 November lalu itu menjadi terasa penting.

Pameran itu menjadi penting ketika menyaksikan euforia tentang Toba yang digadang sebagai kawasan wisata dunia, dan Toba sebagai warisan peradaban dunia tersebut kini terancam. Olan, dalam bahasa fotografisnya yang juga lirih, berupaya menautkannya. Seperti kata Jean Paul Sartre (Nausea, 1938), ”Aku membangun kembali ingatan masa laluku dengan masa kini. Aku hilang dan tertinggal dalam masa kini.

Dan, dalam derita, aku mencoba kembali ke masa lalu. Aku tak bisa mengelak!” Sepuluh tahun mengembara, memasuki ceruk-ceruk akar sejarah, tradisi dan budaya, memasuki abstraksi, yang kerapkali harus dengan meninggalkan kamera di dalam ransel dan mengatupkan mata, lalu memotret dengan hati. Buku rekaman fotografi Olan agaknya akan sama dengan novel Alan Lightman, Mimpi- Mimpi Einstein .

Keduanya bercerita tentang waktu, dengan imajinasi, intuisi, yang digagas dari renungan yang dalam dan panjang. Waktu yang seperti air, atau seperti udara, atau seperti mimpi, waktu yang sangat ringkas. Atau, waktu yang membeku seperti salju, atau waktu yang berjalan mundur, atau waktu yang berulangulang, atau waktu yang berjalan sangat lambat, atau waktu yang tersusun berlipat-lipat.

Tatan Daniel
Kepala Anjungan Sumatera Utara Taman Mini Indonesia Indah.