Edisi 27-11-2016
Sang Komandan Kuba Berpulang


HAVANA – Rakyat Kuba kehilangan sang komandan (el comandante ), Fidel Alejandro Castro Ruz. Pemimpin revolusi yang juga mantan perdana menteri dan presiden Kuba ini meninggal di usia 90 tahun pada Jumat (25/11) pukul 22.29 waktu setempat.

Kematian Castro yang ditahbiskan sebagai simbol marxisme sejati karena konsistensinya menentang Amerika Serikat selama hampir 50 tahun ini diumumkan langsung oleh penerus takhta yang juga adik kandungnya, Raul Castro, melalui televisi Pemerintah Kuba pada dini hari. “Kepala Komandan Revolusi Kuba meninggal pada Jumat malam pukul 22.29 (Sabtu pukul 05.00 GMT).

Seusai keinginan Castro sebelum meninggal, jenazahnya akan langsung dikremasi pada pagi ini (kemarin),” ujar Raul seperti dikutip AFP. Rencananya abu jenazah Castro akan dimakamkan di Kota Santiago pada 4 Desember nanti. Dalam tenggat waktu tersebut, pemerintah menetapkannya sebagai hari berkabung nasional.

Bendera nasional Kuba akan dikibarkan setengah tiang di tempat-tempat umum dan barak militer. Selama masa berkabung tersebut, pemerintah melarang beragam aktivitas pertunjukan yang bersifat hura-hura. MarcoAntonioDiez, 20, warga Kuba yang tinggal di Havana, mengaku sedih dan terkejut mendengar kabar kematian Castro.

Sebagai penghormatan, dia langsung mematikan musik. “Dunia akan mengenang Castro. Sebab dia meraih prestasi yang tidak dapat dicapai siapa pun,” kata warga lokal Dunci Fahardo. Bagi Kuba, kepemimpinan Castro tak akan tergantikan. Betapa tidak, dia telah memimpin negeri cerutu tersebut selama sekitar setengah abad atau pemimpin terlama berkuasa dalam sejarah dunia modern. Selama itu pula dia sangat kuat memegang dan mempraktikkan paham komunisme.

Konsistensinya terhadap sikap antikapitalisme membuatnya harus bermusuhan dengan 11 era pemerintahan Amerika Serikat (AS). KonflikdenganNegeri Paman Sam yang merupakan penyokong utama kapitalisme menjadi tema utama selama kepemimpinannya. Castromulai memutuskan hubungan diplomatik dengan AS semasa pemerintahan Presiden Dwight Eisenhower pada Januari 1961.

Beberapa tahun sebelumnya, Castromenjadi pemimpin pemberontakan Presiden Kuba Fulgencio Batista yang dipersenjatai AS. Pemerintah Kuba pun kalah, terguling, dan akhirnya kekuasaan diambil alih Castro. Pada April 1961, Presiden AS John F Kennedy memberikan lampu hijau untuk melakukan invasi ke Teluk Babi (Bay of Pigs).

Tapi upaya tersebut gagal total. AS kemudian mengembargo Kuba pada Februari 1962 sebelum Kennedy dibunuh pada November 1963. Ketegangan ke dua negara berlanjut dan diwarnai berbagai ancaman perpecahan perang dan krisis politik, termasuk saat hulu ledak nuklir milik Uni Soviet yangberada diKubadiarahkanke AS yang nyaris memicu perang nuklir.

Sosoknya yang demikian menjadikannya di mata sebagian besar masyarakat Kuba dan para pejuang revolusi sebagai pahlawan yang melindungi rakyat dari dominasi kapitalis. Namun sebaliknya bagi lawannya, dia dipandang sebagai diktator yang kejam. Malah bagi AS, Castro merupakan mimpi buruk yang harus dimusnahkan.

Karena itu, ratusan kali agen rahasia, termasuk CIA, mencoba membunuh Castro dan merebut kepemimpinannya dengan mendukung kelompok gerilya anti-pemerintah. Namun upaya itu selalu berhasil digagalkan. Pertentangan dengan AS menjadikannya sebagai simbol marxisme sejati. Posisinya kuat karena dia banyak mendapat dukungan dari negara komunis, terutama Uni Soviet. Berseberangan dengan AS, sanjungan setinggi langit diberikan Uni Soviet.

Mantan Pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev mengapresiasi kepemimpinan Castro yang mampu membuat Kuba berkembang secara independen. Presiden Rusia Vladimir Putin juga menyebut Castrosebagai simbol era modern. “Fidel Castro merupakan sahabat kepercayaan Rusia yang jujur,” tandas Putin. Penulis kolom editorial The New York Times Herbert L Matthews memandang Castro sebagai sosok langka.

“Dia merupakan orang yang terdidik, berdedikasi tinggi, memiliki idealisme, pemberani, dan satu lagi, kualitas kepemimpinannya sungguh luar biasa,” tulis Herbert dalam tiga artikelnya yang mulai dirilis pada 24 Februari 1957 itu. Pada 2006, Castro sempat menepi dari panggung pemerintahan dan digantikan Raul karena baru saja menjalani operasi usus. Raul sering mengapresiasi Castro.

Namun dia memiliki pandangan politik yang berbeda. Pada 2008 itu Raul melakukan reformasi ekonomi yang lebih terbuka dengan negara lain di seluruh dunia. Bahkan di bawah kepemimpinannya Kuba memulihkan diplomasi politik dengan AS, tepatnya pada Desember 2014. Di bawah kekuasaan Raul, pemerintah mengurangi sentralisasi ekonomi, sebaliknya swasta lebih leluasa mendirikan bisnis.

Selama itu ekonomi memang menunjukkan perbaikan. Pada 2011, tercatat Kuba mengalami pertumbuhan ekonomi sekitar 2,7%. Sumber pendapatannya berasal dari pariwisata dan ekspor nikel, tembakau, dan jeruk. Produksi gula mereka mencapai 1,1 juta ton pada 2010. Raul menjamin tidak akan memimpin Kuba seumur hidup.

Dia telah berjanji akan melepaskan tanggung jawab kepemimpinannya ketika masa jabatannya habis pada 2018 mendatang. Partai Komunis Kuba yang menguasai pemerintahan secara penuh kemungkinan besar akan mengangkat pemimpin yang lebih muda, termasuk Miguel Diaz-Canel, 56, yang kini menjabat sebagai wakil presiden pertama.

Ada yang Malah Senang

Selain duka, kematian Castro ternyata juga menjadi kabar gembira bagi sejumlah orang, terutama mereka yang tidak menyukai kepemimpinannya. Hal ini antara lain ditunjukkan masyarakat Kuba yang tinggal di Miami, yang berjarak 150 km dari Kuba. “Menyedihkan jika kita merasa senang atas kematian seseorang, tapi orang itu lebih baik tidak terlahir,” kata Pablo Arencibia, 67.

Sebagian anggota keluarga Castro juga tidak menunjukkan rasa sedihnya. “Saya pikir dia merupakan aktor hebat,” tandas adik Castro, Juanita, mengacu pada pidato Castro pada Desember 1961. “Dia tidak hanya membodohi teman-temannya, tapi juga keluarganya. Kami tak menyangka dia menjadikan Kuba sebagai kamp komunis,” tambahnya.

Kontributor Tim Worstall dari Adam Smith Institute London mengatakan pemerintahan Castro merusak ekonomi Kuba dengan kebijakan yang tidak tepat. Akibatnya sebagian rakyat Kuba terjebak dalam garis kemiskinan. “Kebijakan sosialisme ekonomi yang diterapkan tidak tepat sehingga rakyat tetap miskin,” tulis Worstall di Forbes kemarin.

Worstall menambahkan, Kuba tidak mengalami pertumbuhan ekonomi yang signifikan selama 55 tahun. Kondisi itu, katanya, bukan akibat dari embargo atau blokade yang dilakukan AS, melainkan kebijakan ekonomi pemerintah yang ngawur. Saat Castro menjabat sebagai presiden pada 1959, pendapatan domestik bruto (PDB) Kuba hanya USD2.

muh shamil