Edisi 16-12-2016
Kecepatan Tembus 603 Km per Jam, Diproyeksikan Meluncur 2027


Rasanya tak mungkin untuk tidak menyertakan Jepang bila membahas inovasi teknologi transportasi, terutama pada industri kereta api (KA).

Kini, Negeri Matahari Terbit tersebut tengah merampungkan proyek kereta api ultrafast Maglev yang mampu meluncur 603 kilometer per jam. Penasihat Strategi Global Kementerian Tanah, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata (MILT) Takehiko Mori mengungkapkan, KA Maglev merupakan salah satu bukti Jepang adalah negara terdepan dalam hal membangun infrastruktur dengan mutu tinggi.

”Bicara kereta api bukan hanya persoalan kecepatan, melainkan juga bagaimana seluruh prosesnya. Tidak hanya keretanya, tapi juga sarana penunjang yang harus mengedepankan mutu. Jangan lupakan juga sumber daya manusia untuk mengoperasikan dan menjaga teknologi tersebut,” papar Mori saat menerima kunjungan wartawan ASEAN di Gedung Kementerian MILT, Tokyo, Jepang, Senin (11/12). Mori menjelaskan, KA Maglev direncanakan beroperasi pada 2027. Maglev sudah melakukan beragam uji coba.

Bahkan, transportasi yang bakal menjadi kebanggaan baru Jepang ini telah membukukan rekor kecepatan dunia dalam uji coba tahun lalu di dekat Gunung Fuji, setelah mampu melaju 600 kilometer per jam. ”Kecepatan maksimalnya 603 kilometer per jam, tapi biasanya kereta tidak akan dipacu maksimal saat mengangkut penumpang. Namun, tetap saja sangat cepat,” kata dia. Hebatnya, untuk mencapai kecepatan 600 km/jam itu, Maglev cuma butuh waktu 11 detik.

Rekor ini dibukukan kurang dari sepekan setelah KA menorehkan kecepatan tertinggi 590 km/jam. KA yang nanti bakal dioperasikan Central Japan Railway ini akan mengedepankan kenyamanan penumpang meski dipacu dengan sistem ultrafast. Lalu, bagaimana KA Maglev bekerja? Maglev merupakan singkatan dari magnetic levitation. Kereta itu mengambang 10 mm di atas rel dan didorong oleh magnet bermuatan listrik. Prinsip kerja kereta itu berdasarkan fisika sederhana, di mana kutub magnet yang berbeda menarik dan kutub magnet yang sama akan saling mendorong.

Dengan mendinginkan kekuatan elektromagnet, para pakar mampu mengangkat kereta itu hingga 10 mm di atas rel. Lalu, kekuatan elektromagnet lainnya digunakan untuk mendorongnya. Karena bergerak di atas udara yang memiliki sedikit gesekan, kereta itu mampu melaju dengan mulus dan sangat cepat. Hampir 98% bahan penyusun relnya terbuat dari magnet superkonduktor, sehingga kereta sebesar ini bisa tetap lengket dengan relnya meski meluncur dengan kecepatan 500 km/jam.

Ada tiga jenis teknologi Maglev, yakni yang bergantung pada magnet superkonduktivitas, mengandalkan elektromagnetik terkontrol, dan teranyar serta yang paling ekonomis, menggunakan magnet permanen (induktrack). Saat ini Jepang dan Jerman adalah negara terdepan dalam mengembangkan KA dengan teknologi Maglev. Jerman fokus mengembangkan jenis Suspensi Elektromagnetik System (EMS), yang disebut Transrapid. Sementara itu, Jepang mengembangkan kereta Maglev menggunakan sistem suspensi elektrodinamika (EDS), yang berdasarkan pada gaya tolakmenolak magnet.

Komponen yang dibutuhkan dalam EDS di antaranya sumber daya listrik yang besar, kumparan logam pada lintasan rel, serta elektromagnet yang cukup kuat pada bagian bawah kereta. Jepang menargetkan pada 2027 KA Maglev akan melayani rute sepanjang 286 km antara Tokyo dan pusat kota Nagoya. Layanan kereta itu diharapkan dapat menghubungkan dua kota hanya dalam 40 menit atau kurang dari setengah waktu perjalanan saat ini dengan kereta cepat Jepang yang telah beroperasi.

Dan, pada 2045 mendatang, KA Maglev diharapkan mampu menghubungkan Tokyo dan Osaka hanya dalam waktu kurang dari 1 jam 7 menit, memangkas waktu perjalanan hingga setengahnya. Meski demikian, biaya pembangunan untuk jalur itu diperkirakan mencapai hampir USD100 miliar hanya untuk mencapai Nagoya, dengan lebih dari 80% rute harus melalui terowongan-terowongan yang dibangun dengan biaya mahal.

Mori menerangkan, KA Maglev bakal menjadi jagoan baru Jepang seperti halnya Shinkansen yang sejak 1964 sudah menjadi andalan masyarakat negara ini. Jepang memiliki citra yang kuat dalam memberikan layanan transportasi aman dan nyaman bagi warganya. ”Sejak pertama kali beroperasi, Shinkansen tidak pernah terlibat insiden yang menimbulkan korban jiwa,” papar Mori. Dia menegaskan ada beberapa faktor mengapa Shinkansen sangat aman bagi para penggunanya. Shinkansen yang melesat 350 km per jam mempunyai jalur khusus, demikian pula dengan KA Maglev.

”Dengan begitu, kereta ini tidak pernah bersinggungan dengan kereta lain,” kata Mori. ”Selain itu, sinyal kereta tidak berada di stasiun, atau tiang di dekat rel, tapi ada di bagian depan kereta. Sinyalnya menempel di kereta.” Selain itu, Shinkansen amat ramah lingkungan. Berdasarkan data Kementerian MILT, perbandingan emisi (g- C02 per orang/km) pesawat terbang dengan kereta tersebut mencapai 5:1. Warga Jepang sangat antusias menyambut hadirnya KA Maglev.

Mereka berharap bisa segera menikmati layanan istimewa ini. Namun sayangnya, masyarakat negeri yang saat ini dipimpin Perdana Menteri (PM) Shinzo Abe tersebut harus menunggu 11 tahun lagi, hingga infrastruktur terutama rel KA rampung. Hayato, warga Tokyo, mengatakan amat berharap KA Maglev bisa beroperasi pada 2020. Tahun ini memang amat istimewa bagi Jepang, terutama Tokyo. Untuk kedua kali, Tokyo bakal menjadi tuan rumah Olimpiade.

”Pada Olimpiade 1964 digelar, Jepang meluncurkan Shinkansen. Sarana transportasi itu langsung menjadi bagian dari kehidupan banyak orang. Tahun 2020 kami juga bakal menyelenggarakan Olimpiade. Tentu saja saat itu momen yang pas untuk memiliki kereta canggih terbaru,” ungkap Hayato di Stasiun Tokyo kemarin. Pemerintahan PM Abe menilai teknologi KA Maglev seperti halnya Shinkansen bisa mendongkrak perekonomian Jepang dengan cara memasarkannya ke luar negeri.

Salah satu negara yang ditawarkan teknologi kereta adalah Amerika Serikat (AS). Saat bertemu dengan Presiden AS Barack Obama tahun lalu, PM Abe mempromosikan cocoknya teknologi transportasi Jepang diterapkan di Negeri Paman Sam.

Laporan Wartawan Koran Sindo
Hana Farhana
Tokyo



Berita Lainnya...