Edisi 16-12-2016
Rachmawati dan Ratna Minta Kasusnya Dihentikan


JAKARTA – Rachmawati Soekarnoputri dan Ratna Sarumpaet berharap kasus dugaan makar yang dituduhkan polisi kepadanya cepat selesai.

Mereka menegaskan bahwa mereka tidak memiliki rencana menggulingkan kekuasaan atau makar. “Saya ditunjuk Ratna dan Rachmawati sebagai kuasa hukumnya. Kami sudah berdiskusi dan ingin agar kasus ini segera selesai dan kasusnya segera dihentikan,” ujar Yusril Ihza Mahendra di Kantor Ihza & Ihza di Tebet, Jakarta, kemarin. Yusril menyebutkan, kliennya itu menginginkan agar kasus yang tengah melilitnya itu segera selesai.

idak hanya Ratna dan Rachmawati, dua klien Yuslil yang lain, yakni Jamran dan Rizal Kobar, menginginkan agar mereka segera dibebaskan— sama halnya Hatta Taliwang yang telah dibebaskan beberapa waktu lalu. Menurut Yusril, kliennya itu tidak bermaksud melakukan tindakan makar sebagaimana yang dituduhkan polisi. Dia juga belum mengetahui alasan polisi menggeledah rumah Rachmawati. Yusril juga sempat berunding dengan polisi terkait penggeledahan itu agar tidak dilakukan karena kliennya masih dalam kondisi sakit.

“Mengenai pemeriksaan di rumah Bu Rachma, kami belum tahu apa maksudnya. Tapi kami pastikan tak ada kasus makar yang dilakukan klien saya,” ucapnya. Yusril juga berencana mengajukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi (MK) terkait pasal makar itu, yakni Pasal 107, Pasal 110, dan Pasal 87 KUHP. Pasalpasal tersebut dinilainya multitafsir, yang juga masih tak jelas maksudnya. Di lain pihak, polisi terus mengumpulkan bukti terkait dugaan makar yang dilakukan sejumlah tokoh.

Usai menggeledah rumah Sri Bintang Pamungkas, penyidik dari Polda Metro Jaya menggeledah ruang kerja Rachmawati Soekarnoputri di Universitas Bung Karno, Kamis (15/12) dini hari. Bahkan kediaman anak dari Presiden Soekarno itu di Jalan Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, juga ikut digeledah. Kuasa hukum Rachmawati, Aldwin Rahardian, mengatakan, penggeledahan dilakukan oleh penyidik di kediaman Rachmawati sekitar pukul 08.00 WIB. Penggeledahan untuk mencari barang bukti lain atas kasus dugaan makar.

“Saya baru dikabari Bu Rachma, katanya rumahnya sekarang yang digeledah, mulai pukul 08.00,WIB,” kata Aldwin. Aldwin membeberkan, polisi sebelumnya mengambil sejumlah dokumen dari ruang kerja Rachmawati di kampus UBK yang ada di Jalan Pegangsaan Timur dan Jalan Kimia. Penggeledahan itu berlangsung dari pukul 22.30 hingga 01.00. “Yang diambil beberapa dokumen isinya ya banyak, salahsatunya bahankonferensi pers tanggal 1 Desember, bahan untuk konsep undangan, kemudian pointers tentang pidato Bu Rachma itu,” tuturnya.

Aldwin menegaskan, tidak ada siapa-siapa saat polisi menggeledah ruang kerja kliennya. Rachma sendiri saat ini dikabarkan masih sakit. “Kami nanti mencermati dulu misalnya ada apa-apa. Bu Rachma kan juga masih sakit, saya juga belum melaporkan ini,” katanya. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, penggeledahan dilakukan untuk mencari barang bukti tambahan. Namun, Argo belum bisa menjelaskan secara detail penggeledahan yang dilakukan hari ini.

“Tim sedang bergerak. Saya belum dapat detail laporannya,” ujarnya. Rachma ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan makar, memanfaatkan ruang kebebasan untuk melahirkan ide atau gagasan berbau hasutan yang bisa disalahartikan, yang dapat menggulirkan reaksi dan pendapat orang lain, sesuai Pasal 107 jo Pasal 110 jo Pasal 87 KUHP.

Sindonews/helmi syarif