Edisi 16-12-2016
Segel Kaisar China Abad Ke-18 Terjual Rp294 Miliar


PARIS - Stempel kaisar China abad ke-18 terjual senilai 21 juta euro (Rp294 miliar) di rumah lelang Drouot, Paris.

Harga penjualan itu 20 kali lipat lebih mahal dibandingkan nilai taksiran awal. Dihiasi dengan beberapa naga sebagai simbol otoritas kaisar, stempel langka dari batu giok merah dan krem itu berasal dari periode Qianlong pada 1736-1795. Stempel itu dibeli oleh kolektor asal China yang namanya tak ingin disebutkan. Dia mendapatkan stempel itu setelah perang penawaran antara sejumlah pembeli melalui telepon dan para pembeli di ruang lelang.

Rekor penjualan sebelumnya untuk satu segel dibukukan pada 2011, saat seorang kolektor membeli segel senilai 161 juta yuan atau 14 juta euro. Segel atau stempel kaisar China dengan warna sangat merah itu menurut pakar seni Asia Alice Jossaume, diperkirakan terjual antara 800.000 dan satu juta euro. Stempel itu miliki Kaisar Qianlong yang dianggap sebagai kaisar yang paling lama dalam sejarah China. Kaisar itu juga memiliki kekuasaan mutlak setelah dia secara resmi mundur.

”Periode Qianlong sangat bernilai, sangat berkembang, mencapai puncaknya. Semua benda dari periode itu sangat diburu banyak orang,” ungkap Alice, dikutip kantor berita AFP . Di bawah kekaisaran yang sangat berbudaya itu, Dinasti Qing mencapai kekuasaan dan kekayaan puncak hampir melebihi dua kali lipat perkembangannya selama enam dekade kepemimpinannya. ”Sembilan naga yang menghiasi segel itu menjadi simbol kekuasaan maskulin dan otoritas kaisar,” papar pernyataan rumah lelang tersebut. Segel itu juga bertuliskan huruf kuno yang berbunyi, ”Harta kaisar Qianlong.” Kaisar itu dikenal sangat mahir menulis kaligrafi dan puisi.

Stempel ini biasa digunakan untuk menandai karya-karyanya. Reputasi Qianlong sangat masyhur sebagai pelindung seni dan sastra, serta seorang kolektor ulung. Dia disebut memiliki salah satu koleksi seni dunia terbanyak dan mendirikan perpustakaan yang berisi koleksi buku-buku terbanyak dalam sejarah China.

Populasi di era kekaisaran itu meningkat menjadi sekitar 400 juta orang saat sang kaisar terus memperluas wilayahnya. Dinasti Qing yang berasal dari minoritas Manchu dari Manchuria di China utara itu tetap bertahan hingga 1912.

Arvin


Berita Lainnya...