Edisi 16-12-2016
SINDO Ajak Mahasiswa Universitas Tarumanagara Menjadi Jurnalis


JAKARTA - Menjadi jurnalis memang gampang-gampang susah. Selain harus mengorbankan sejumlah waktu luang bersama keluarga.

Di awal karir, kehidupan seorang jurnalis sangat memprihatinkan. Gaji kecil dengan pengeluaran besar salah satunya. Walau begitu, jurnalis merupakan profesi yang sangat menyenangkan. Tak hanya mudah bertemu dengan sederet orang penting, namun juga mampu mengubah bangsa, beberapa di antaranya bahkan bisa menikmati liburan gratis. ”Sayapernahpergikeluarkota bahkan keluar negeri saat menjadi jurnalis. Ini sangat menyenangkan,” tutur Wakil Pemimpin Redaksi (Wapimred) KORAN SINDO Djaka Susila kepada ratusan mahasiswa Jurusan Psikologi Universitas Tarumanagara, Jakarta dalam kegiatan SINDO Goes to Campus, kemarin.

Namun demikian, Jaka mengaku, pencapaian yang diraihnya tidak semudah yang dibayangkan orang. Sebelum meniti karir, dirinya rela berjualan minuman botol dengan berkeliling kota kelahirannya di Surakarta, Jawa Tengah. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidup setelah lulus kuliah, Jaka mengaku, harus bekerja dengan cara membantu mahasiswa yang tengah menyusun skripsi dan menjadi fotografer pada pesta pernikahan. Diawal karirnya, Jaka mengaku hanya dibayar Rp300.000 per bulan. Gaji itu cukup rendah dibandingkan honornya sebagai seorang fotografer sebesar Rp700.000.

Senada, Wapimred SINDO Weekly, Asep Saefulloh mengaku, belajar secara otodidak untuk bisa menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi yang begitu pesat. Perjalanan sejauh 36 kilometer dilakukannya demi mempelajari internet yang dahulu dianggap tabu. ”Internet saat itu cukup jarang. Saya setiap hari harus ke Bandung dari Sumedang untuk belajar menggunakan internet,” ucapnya. Asep mengakui, kehidupan sebagai jurnalis cukup menyenangkan.

”Saya seringkali keluar kota atas permintaan kantor,” ucapnya. Sementara, Redaktur Pelaksana (Redpel) SINDONEWS. com, Puguh Hariyanto mengutarakan perjalanannya ke Raja Ampat, Papua dengan menggunakan yacht mewah pernah dirasakannya disaat destinasi wisata itu belum terkenal. Ketika itu, dirinya mendapat undangan dari seorang pemilik kapal pesiar mewah untuk menulis mengenai objek wisata Raja Ampat guna di publikasikan kepada pembaca. ”Di kapal itu, permalamnya Rp300 juta. Ini kan cukup beruntung. Sebab, tak semua orang bisa sampai ke sana menggunakan pesiar mewah,” tutur Puguh.

Dalam kesempatan itu, ketiga pemateri ini juga menekankan kepada mahasiswa agar terus menumbuhkan semangat pantang menyerah. Idealisme harus di junjung tinggi dalam bekerja. Termasuk memikirkan efek pekerjaan setelah berita tersebut ditulis. Jaka menambahkan, dalam penulisan berita KORAN SINDO selalu menghindari hal-hal yang mengandung unsur SARA. Sebab, hal itu bisa menimbulkan perpecahan dan konflik berkepanjangan. Sementara Asep, meminta agarseorangjurnalislebihselektif dalam memilih berita. ”Jadikan isu di medsos sebagai informasi awal. Kita harus menyaring dari berbagai sumber sebelum berpendapat,” tambah Asep.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Untung Subroto mengatakan, apa yang disampaikan oleh ketiga pemateri dari Grup SINDO merupakan bekal yang sangat berharga bagi mahasiswa. ”Pesan dan kesan profesi jurnalis cukup baik untuk di sampaikan,” tutupnya.

Yan yusuf