Edisi 16-12-2016
Banjir di Pantura Indramayu Meluas


INDRAMAYU - Tanggul di Bendungan Sumur Watu, Indramayu, Jawa Barat jebol. Akibatnya air meluap dan merendam ratusan rumah warga di kabupaten itu. Bahkan, kemarin pagi banjir di kawasan pantai utara (pantura) tersebut terus makin meluas.

Selain merendam ratusan rumah, banjir juga mulai menggenangi ratusan hektare lahan pertanian. Bahkan, banjir setinggi satu meter di daerah lumbung padi nasional ini mengancam produktivitas padi nasional. Diperkirakan kerugian akibat banjir ini mencapai ratusan juta rupiah. Berdasarkan pengamatan, banjir tersebut memang merendam ratusan hektare lahan pertanian di Desa Ranjeng, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu yang merupakan wilayah penyuplai padi nasional.

Lahan persawahan yang baru satu minggu ditanami di wilayah Kecamatan Losarang ini rusak akibat diterjang banjir. Para petani di pantura Indramayu pun harus menanggung beban kerugian yang sangat besar karena seluruh lahan yang baru ditanami bibit padi rusak dan membusuk lantaran terendam banjir. Agar bisa tetap menghasilkan produksi padi, para petani akan menanam kembali benih padi yang baru sehingga masa panen petani akan mundur satu bulan.

“Luapan ini juga menenggelamkan areal tambak ikan bandeng dan udang milik warga. Kerugian pun ditaksir mencapai Rp500 juta lebih,” ujar Wartono, warga setempat. Selain merendam areal persawahan dan tambak ikan, musibah banjir ini juga memutuskan akses jalan raya di Kecamatan Losarang, sehingga ribuan warga harus berhatihati ketika menyeberangi jalan yang tergenangi air.

Cuaca Ekstrem Rawan Banjir dan Longsor

Sementara itu, Stasiun Klimatologi Kelas I BMKG Kota Semarang, Jawa Tengah memperkirakan dalam beberapa hari ke depan intensitas hujan mulai sedang sampai tinggi akan mengguyur Kota Semarang. Masyarakat di wilayah yang rawan banjir dan longsor pun diminta meningkatkan kewaspadaan.

Kepala Seksi Stasiun Klimatologi Kelas I BMKG Kota Semarang Agus Sudariyatno mengatakan, intensitas hujan dalam beberapa hari ke depan diperkirakan di atas 50 milimeter. Hujan diperkirakan akan terjadi siang dan malam hari, sedangkan pagi harinya masih ada sinar matahari. Namun, sinar matahari itu bisa mengakibatkan awan konvektif yang nantinya bisa menjadi awan cumulonimbus. “Dengan intensitas hujan yang cukup tinggi menjadi rawan banjir, khususnya untuk wilayah bawah, danrawanlongsordiwilayah Semarangatas,” ujarAgus.

Menurut dia, longsor sangat mungkin terjadi untuk wilayahwilayah perbukitan, mengingat kandungan air dalam tanah cukup tinggi menyusul guyuran hujan dalam beberapa hari terakhir ini. “Tanah yang kandungan airnya tinggi rawan sekali longsor,” imbuhnya. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang Iwan Budi Setiawan mengatakan, hingga November 2016 telah terjadi sekitar 38 bencana longsor di Kota Semarang.

Yang cukup parah terjadi di Bukitsar, hingga menelan korban jiwa dua orang anak. Dengan kondisi cuaca yang masih relatif ekstrem dan intensitas hujan yang cukup tinggi, masyarakat di lokasi rawan longsor harus terus meningkatkan kewaspadaan.

Andik sismanto/ sindonews