Edisi 02-01-2017
Operasi Canggih Koreksi Masalah Lutut


KEMAJUAN teknologi nan pesat ditunjukkan bidang kesehatan, salah satunya untuk mengoreksi permasalahan pada lutut.

Ketahanan hasil bedah yang lama dengan dukungan komputer menghasilkan presisi tinggi dan risiko minimal.Berbagai inovasi teranyar di dunia medis, khususnya di bidang ortopedi, disampaikan Dokter Spesialis Bedah Ortopedi Konsultan Sport Medicine RS Pondok Indah, Pondok Indah, dr L Andre Pontoh SpOT (K) beberapa waktu lalu.

Salah satunya teknologi full HD yang kerap digunakan dalam tindakan koreksi dalam menjaga kesehatan lutut. Dengan kecanggihan microscopic camera 0.8 mm, teknologi full HD, fiber optic , dan teknologi pencitraan magnetic resonance imaging (MRI), serta kelainan dalam lutut bisa langsung terlihat di layar, meski tidak dilakukan pembedahan.

Berbeda dengan dulu, jika sebelumnya ketahanan hasil bedah koreksi lutut hanya bertahan 3-4 tahun, sekarang bisa bertahan sampai 30 tahun berbahan keramik. “Pembedahan untuk mengoreksi lutut juga dilakukan dengan dukungan komputer (computer assisted surgery ) sehingga presisinya sangat tinggi,” ujar dr Andre dalam acara Inovasi Teknologi Medis RS Pondok Indah Group di RS Pondok Indah (RSPI).

Kemajuan teknologi ini dapat membantu meminimalisasi risiko pada teknik operasi dan mempercepat proses pemulihan pasien. RSPI mengaplikasikan teknologi yang disebut Arthroscopic Anterior Cruciate Ligament (ACL ) Double Bundle Reconstruction, yang terbukti dapat meminimalkan risiko operasi dan mempercepat proses pemulihan pasien. “Pascaoperasi, rasa nyeri yang ditimbulkan minimal, pasien akan merasa lebih nyaman.

Pasien juga dirawat satu malam saja, dulunya teknik yang dipakai Single Bundle, sekarang dikenalkan Double Bundle ,” ungkap dr Andre. Pada praktiknya, teknologi artroskopi hanya membutuhkan setidaknya tiga sayatan selebar 3-5 cm dan memasukkan alat. Artoskopi tidak menimbulkan luka sayatan yang panjang sebagaimana prosedur operasi konvensional.

Pasien tetap sadar selama artroskopi dilakukan karena pembiusan dilakukan secara spinal (blok saraf tulang belakang), bahkan dapat dengan hanya memberikan suntikan lokal pada kulit di sekitar sendi. Pasien bahkan dapat melihat di layar monitor keadaan sendinya dan tindakan yang dilakukan dokter di dalam sendinya. Tindakan artroskopi menggunakan sistem kamera dengan lensa fiber optik dengan sumber cahaya untuk melihat isi sendi dan ditampilkan lewat layar monitor televisi.

Instrumen lain digunakan untuk melakukan tindakan tertentu, misalnya gunting kecil, penjepit jaringan, dan alat pemotong elektrik (shaver ). Selain di lutut, artroskopi juga dapat dilakukan pada beberapa sendi, antara lain bahu, pergelangan tangan, panggul, dan pergelangan kaki. Tindakan ini relatif aman bagi pasien, termasuk mereka yang berusia lanjut.

Dr Andre mengatakan, prinsipnya operasi ini menggunakan dua buah urat pengganti (grafts ) untuk mengganti ACL yang rusak. Teknik ini juga memungkinkan tidak perlu luka besar pada lutut dan prosedur operasinya berlangsung dalam waktu yang cukup singkat. Pasien dengan cedera ACL yang menjalani teknik operasi ini dapat langsung merasakan lututnya sangat stabil, bahkan pasckaoperasi dilakukan.

Pada masa rehabilitasi selama enam bulan, pasien benar-benar dapat merasakan kondisi lutut yang normal dan dapat kembali melakukan aktivitas semula. Chief Executive Officer RSPI Group dr Yanwar Hadiyanto MARS mengakui, teknologi menjadi salah satu elemen terpenting bagi sebuah rumah sakit agar dapat melayani pasien dengan lebih baik.

“Dengan kecanggihan teknologi, proses diagnosis, deteksi dini, dan identifikasi masalah kesehatan menjadi lebih cepat dan akurat. Selain itu, dapat meminimalisasi risiko pada pasien,” kata dr Yanwar. Pada kesempatan itu, dr Andre menyinggung cedera olahraga yang banyak terjadi di lutut. Olahraga yang berisiko terutama olahraga high-impact, seperti futsal, bela diri, basket, dan sepak bola.

Futsal ini yang paling rawan karena lapangan yang digunakan berukuran kecil dengan para pemain yang aktif sehingga peluang cedera amat tinggi. Umumnya orang yang main futsal biasanya jarang berolahraga. Tidak mengherankan, cedera yang paling sering terjadi adalah cedera ACL (urat di sendi yang menjaga kestabilan sendi lutut).

Cedera ACL biasanya terjadi ketika seorang sedang lari, kemudian mendadak berhenti, dilanjutkan berputar arah. “Ini menyebabkan lutut terpelintir atau lompat dan mendarat dengan posisi lutut terpuntir,” kata dr Andre. Cedera pada ACL biasanya ditan­dai dengan suara seperti patah dalam sendi yang diikuti “kehilangan tenaga” yang membuat pasien jatuh.

sri noviarni