Edisi 02-01-2017
Remaja Putri Butuh Cukup Nutrisi


TUNTUTAN media dan pandangan masyarakat acap kali membuat remaja putri rela matimatian melakukan diet ketat demi mendapatkan tubuh ideal.

Mereka menghitung asupan kalori, bahkan sengaja melewatkan waktu makan. Namun, kesadaran akan pemenuhan gizi dan nutrisi pada remaja putri terbilang masih minim. Padahal, kekurangan asupan nutrisi pada masa remaja dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan serius pada kemudian hari.

“Masalah gizi yang berpotensi muncul akibat kurangnya pemenuhan gizi remaja adalah stunting (perawakan pendek), defisiensi mikronutrien, khususnya anemia, defisiensi zat besi, serta masalah malnutrisi,” ungkap Ahmad Syafiq, Ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), dalam Konferensi Indonesia Bergizi (KIB) 2016 bersama JAPFA Foundation di Jakarta beberapa waktu lalu.

Menurut data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), masa remaja dengan rentang usia 15- 18 tahun merupakan fase awal kebutuhan nutrisi akan terbagi berdasarkan jenis kelamin. Pada fase ini, remaja putri memerlukan asupan gizi lebih banyak. Dia juga menyoroti masalah konsumsi gizi dalam bentuk protein hewani yang masih amat terbilang rendah di masyarakat Indonesia.

Ahmad menjelaskan, kurangnya asupan protein secara konsisten pada masa remaja berakibat berkurangnya pertumbuhan linear, keterlambatan maturasi seksual, serta berkurangnya akumulasi massa tubuh tanpa lemak. Sementara, terkait rendahnya gizi seimbang pada remaja putri di Indonesia, Ahmad menjelaskan bahwa pola makan yang dijalani mereka turut dipengaruhi teman sebaya.

Kemasan makanan pun menentukan. “Jadi, memang harus dipikirkan kemasan kampanye edukasi gizinya mengenai pedoman gizi seimbang,” kata Ahmad. Berkaitan dengan pemenuhan gizi remaja putri, Head of JAPFA Foundation Andi Prasetyo berharap KIB 2016 dapat mengatasi permasalahan gizi di Indonesia dan meningkatkan gizi masyarakat, khususnya remaja putri sebagai calon ibu masa depan.

“Demi memaksimalkan potensi pertumbuhan, remaja memerlukan nutrisi tinggi dan cukup untuk memfasilitasi perubahan biologis, fisiologis, dan psikologis yang terjadi pada diri mereka. Pesan ini patut diketahui setiap pemangku kepentingan,” kata Andi.

KIB 2016 mengusung tema “Perbaikan Gizi Remaja Putri melalui Sinergi Kemitraan”. Event ini diselenggarakan dalam upaya mengatasi masalah gizi anak dan remaja di Indonesia, dalam suatu gerakan kolaborasi yang selaras dan efektif. KIB 2016 merupakan kelanjutan komitmen JAPFA Foundation terhadap pemenuhan gizi bagi remaja Indonesia, setelah sebelumnya pernah diadakan tahun lalu.

sri noviarni