Edisi 02-01-2017
Bali Belly Ancam Wisatawan Bali


BALI sebagai destinasi favorit liburan akhir tahun memikat bukan hanya turis lokal, melainkan juga mancanegara.

Jumlah mereka diprediksi jauh lebih banyak dari biasanya karena memanfaatkan momentum liburan akhir tahun. Biro Pusat Statistik mencatat, jumlah wisatawan mancanegara yang bertandang ke Pulau Dewata mencapai 432.215 kunjungan berdasarkan data Oktober 2016. Jumlah ini meningkat 16,9% dibandingkan tahun lalu.

Angka ini juga diperkirakan akan melengkapi target 7,8 juta kunjungan wisatawan yang dicanangkan Dinas Pariwisata Bali untuk 2016. Namun, para turis hendaknya waspada akan kebersihan makanan yang ditawarkan di sana. Pasalnya, para wisatawan kerap mengalami diare atau dikenal dengan Bali belly .

Istilah Bali belly sangat dikenal dunia traveling internasional karena sering menyerang para turis mancanegara dan ditulis sebagai peringatan penting dalam berbagai blog dan media kelas dunia untuk mereka yang akan menginjakkan kaki di Bali. Selain diare, penderita juga mengalami muntah, sakit dan kejang perut.

Kondisi ini disebut gastroenteritis yang ditandai dengan peradangan pada saluran pencernaan, seperti lambung dan usus halus. Bali belly bisa menyerang siapa saja, termasuk anak kecil dan dewasa. Diare atau Bali belly memang sering menyerang para turis asing di Bali. Penyakit ini erat kaitannya dengan kebersihan makanan yang dijual dan kesadaran turis terhadap kebersihan.

“Di Bali, banyak juga penjaja makanan yang melayani konsumen dengan tangan, padahal mereka baru saja memegang uang kertas yang mungkin kotor. Ini bisa memicu diare. Konsumen juga harus selalu mencuci tangan dengan sabun setelah beraktivitas di toilet dan memegang uang,” ujar dr Stephanie Patricia dari Medi-call Indonesia, start up yang baru saja merilis aplikasi on-call berbasis lokasi.

Bahkan, bek andalan klub Manchester United, Chris Smailing, pun sempat tumbang saat menikmati liburan di Bali pertengahan tahun ini karena bermasalah dengan perut akibat makanan. Gejala Bali belly bisa diawali dengan demam dan keram, lalu kadang dilanjutkan dengan muntah dan diare. Keluhan diare bisa disertai atau tanpa darah dan nyeri perut hebat.

“Karena kekurangan cairan, tubuh akan terasa lemas. Pasien disarankan mendapat asupan cairan yang cukup,” tandas dr Stephanie. Penderita Bali belly harus segera mendapatkan penanganan medis agar penyakit tidak bertambah parah. Seperti Chris Smailing yang sempat pingsan, pasien yang terlambat mendapat penanganan dokter harus dirawat secara intensif di rumah sakit.

Dr Stephanie mengatakan, saat ini aplikasi Medi-call sudah didu - kung lebih dari 100 dokter di Bali yang memiliki STR (surat tanda registrasi) dan SIP (surat izin praktik). “Kami merekrut mereka melalui proses pelatihan dan pro - sedur standar pelayanan yang sesuai sehingga profesionalitas layanan Medi-Call dapat diper - caya,” katanya.

sri noviarni