Edisi 02-01-2017
Kekuatan Pada Efisiensi Waktu


BERDASARKAN peta database yang dibuat Codex, Stanford Center for Legal Informatics, terdapat 558 start up legal tech di dunia.

Lahirnya start up legal tech memberikan warna baru penyelesaian hukum yang berkaitan dengan efisiensi waktu dan biaya. Efisiensi ini pula yang diungkap Rahmat Dwi Putranto selaku pendiri dan CEO LegalGo. Berdasarkan pengalamannya, bersinggungan dengan proses hukum biasanya akan memakan waktu lama. Setidaknya, menurut Rahmat, dengan terhubung ke tenaga profesional di LegalGo, pengguna bisa menghemat biaya pertemuan dan administrasi.

Tidak perlu ada biaya tambahan lainnya ketika pengguna menggunakan jasa pengacara melalui start up ini. Sebab, semua pembayaran yang dilakukan dibatasi sistem. Dengan kata lain, setelah pengguna melakukan pembayaran, pengacara akan melakukan tugasnya. “Dulu saya pernah belanja online dengan pembayaran Rp10 juta, tapi enggak dikirim barangnya. Akhirnya lapor pihak berwenang, tapi hingga saat ini belum ada kabarnya.

Nah, mereka yang tidak tahu harus bagaimana bisa berharap ke LegalGo untuk menye lesaikan - nya,” papar Rahmat. Tentunya ini dilakukan dengan estimasi waktu pencarian yang lebih terarah dan tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan. “Tetapi, kami tidak bisa menangkap pelaku ya. Jadi, setelah informasi didapatkan, klien bisa lapor ke pihak berwenang,” paparnya.

Begitu mudahnya mengakses jasa profesional di bidang hukum, bahkan dilansir dari situs legaltechnews , LegalZoom, Rocket Lawyer, dan Avvo Inc, penyedia layanan hukum yang memungkinkan individu mempersiapkan dokumen hukum sendiri, telah mengancam pengacara di perusahaanperusahaan kecil.

Sebab, layanan daring yang memberikan template dokumen bagi pengguna biasanya akan terhubung dengan pengacara hanya jika diperlukan. Micah Buchdahl dalam The Legal Intelligencer mengatakan, bagi keluarga kelas menengah maupun yang tinggal di luar wilayah metropolitan, layanan daring bisa menjadi basis bagi pengacara lokal.

(nurul adriyana)