Edisi 11-01-2017
Lagi, Mahasiswi Tewas Dibunuh


JAKARTA– Kasus pembunuhan terhadap mahasiswi kembali terjadi. Kali ini seorang mahasiswi Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Murniati, 22, ditemukan tewas di rumahnya.

Polisi yang menangani dua kasus ini masih belum bisa menangkap pelaku dan mengungkap motif di balik pembunuhan tersebut. Tidak ada saksi mata dalam kejadian itu membuat upaya pengungkapan mengalami kesulitan. Dari informasi yang dihimpun KORAN SINDO, sebelum korban ditemukan tewas di rumahnya yang berada di Jalan Makmur RT 003/003 No 23, Cipayung, Jakarta Timur kemarin, Nelawati, 26, yang merupakan tetangga korban, sempat mendengar kegaduhan di rumah korban sekitar pukul 02.00 WIB.

“Saksi mendengar suara benturan di tembok dan suara seseorang berkata, ‘Silakan ambil apa saja yang ada,’” ungkap Kasat Reskrim Polres Jakarta Timur AKBP Sapta Maulana. Karena curiga, Nela kemudian membangunkan suaminya, Paul Andra Priatna, dan memberi tahu soal suara gaduh di rumah korban. Paul kemudian menghubungi temannya karena takut keluar rumah. Hingga kemudian warga berdatangan ke rumah korban.

Ny Popong, ibunda korban, kemudian membuka pintu kamar dan melihat anaknya sudah tidak bernyawa. “Korban mahasiswi UMJ, diduga dibunuh, masih dilakukan olah TKP,” katanya. Menurut dia, korban mengalami luka lebam di pelipis kiri bekas benturan, luka robek di bibir kanan, dan diduga bekas bekapan bantal. Petugas masih menyelidiki kasus pembunuhan ini, termasuk motifnya. “Dugaan sementara kasus ini pencurian disertai pembunuhan.

Pintu kamar korban terkunci dari dalam,” ujarnya. Sementara itu, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M Iriawan mengaku, pihaknya masih menyelidiki kasus ini, termasuk orang-orang yang intens berhubungan dengan korban. “Jadi intinya antara dua, bisa masalah cinta, cemburu, atau masalah lain-lain karena kesal.

Yang jelas kita telusuri dia (korban) berhubungan dengan siapa. Tinggal melakukan pengejaran,” ucap Iriawan. Popong, ibu korban, mengakui anaknya sempat didatangi tamu dua hari lalu pada malam hari. Namun, dia tidak mengetahui pasti apa saja yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Popong menjelaskan selama ini anaknya tidak pernah bercerita kalau punya masalah.

“Dia (Murniati) enggak mau pacaran. Katanya, capek kalau punya pacar,” ujarnya. Senada, Purwanto, ayah angkat korban, menduga yang membunuh putrinya tersebut merupakan orang terdekat mengingat kondisi pintu rumah saat kejadian tidak mengalami kerusakan. “Pintu depan rumah masih dalam kondisi normal seperti biasa.

Malah keadaannya terkunci sehingga saya harus ambil kunci duplikat dari rumah untuk buka pintu rumah,” kata Purwanto di rumahnya. Di tempat terpisah, penyidik masih melakukan penyelidikan terhadap pembunuhan Tri Ari Yani Puspo Arum, 22, yang tewas bersimbah darah di kamar kosnya di Jalan H Asmat RT 08/11 Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin (9/1).

Sejauh ini polisi belum menemukan pelaku pembunuhan tersebut. “Belum ada yang mengarah ke potential suspect,” kata Kasat Reskrim Polres Jakarta Barat AKBP Eko Hadi Santoso kemarin. Polisi juga belum bisa memastikan motif dalam peristiwa tersebut, apakah murni pembunuhan atau ada motif lain seperti perampokan. “Belum kita ketahui apakah itu perampokan atau bukan,” ucapnya.

Pihaknya saat ini masih mendalami keterangan saksisaksi, baik tetangga kosan, teman dekat, teman satu kerjaan dan teman kampus korban di Universitas Indonusa Esa Unggul, maupun keluarganya.

“Ada delapan saksi, kami masih mendalami keterangan mereka,” kata Kanit Reskrim Polsek Kebon Jeruk AKP Andriyanto Randotama. Menurut Andriyanto, korban sempat melakukan perlawanan. Hal itu terlihat dari luka di telapak tangan sebelah kiri korban. “Satu luka terdapat di tangan sebelah kiri. Bukan luka dalam,” ucapnya.

Perempuan Kerap Jadi Korban

Psikolog Universitas Pancasila( UP) AullyGrashintamenilai, dua kasus pembunuhan yang terjadi di Kebon Jeruk dan Pondok Rangon terhitung sadis. Untuk bisa menentukan motif tentu perlu dilihat lebih lanjut apakah ada barang hilang atau kejadian- kejadian sebelumnya. “Jika motifnya kuat, tingkat kesadisan bisa semakin tinggi,” katanya.

Wanita menjadi korban kekerasan memang sudah jamak terjadi. Biasanya yang melakukan kekerasan malah lingkungan atau orang dekat dengan wanita tersebut. Itujugayangseringkali membuat wanita tidak berdaya. “Karena biasanya memiliki ikatan emosional dengan lingkungan dekatnya tersebut,” pungkasnya. Apalagi kalau motifnya lebih ke masalah pribadi, bukan ekonomi misalnya tidak ada barang yang hilang dan sebagainya.

helmi syarif/ r ratna purnama/ yan yusuf/sindonews




Berita Lainnya...